MI Muhammadiyah 1 Pare (Mimsapa) Kediri, Jawa Timur, menggelar doa bersama sebagai ungkapan rasa prihatin dan permohonan kepada Allah Swt, Senin (1/9/2025).
Kegiatan ini dilaksanakan di beberapa titik. Masjid AR Fachruddin menjadi tempat untuk kelas IVA, VA, VB, VC, dan VIA–VIE. Hall Nyai Walidah dipakai oleh kelas IIIA–IIIF, IVB, IVC, IVD, dan VD. Sementara itu, Gedung Jenderal Soedirman ditempati kelas IE, IF, IG, IVE, dan VE, serta ruang kelas I dan II juga digunakan untuk kegiatan doa bersama.
Empat rakaat Salat Duha berjamaah mengawali kegiatan pada Senin pagi tersebut. Salat dipimpin Hirzul Umam SThI SPd, Wali Kelas VIA, di Masjid AR Fachruddin. Setelah itu dilanjutkan doa bersama dan pengarahan oleh Arie Maulana SPdI, Koordinator Pasholatan Mimsapa, yang menyampaikan pesan penting mengenai karakter seorang pelajar.
“Karakter seorang pelajar itu selalu berpikir panjang sebelum berbuat. Mengedepankan perkataan, pemikiran, dan perbuatan yang baik. Tidak mudah terprovokasi dan selektif dalam bergaul. Belajar dari kejadian lalu, demo yang akhirnya bakar-bakar dan penjarahan di mana-mana. Perbuatan yang merugikan masyarakat tanpa berpikir panjang,” ujarnya.
Di Hall Nyai Walidah, doa bersama dipimpin Ahmad Syukri Alfarihi SPsi, Wali Kelas IIID. Setelah salat, pengarahan disampaikan Saiful Basroni SPdI SPd, Kabid Humas dan Marketing Mimsapa. Ia mengajak anak-anak memahami situasi yang terjadi di sekitar mereka.
“Kalian tahu apa yang terjadi saat ini? Salah satunya di Kediri dan Pare, lingkungan tempat tinggal kita,” tanyanya.
“Demooo… Bakar-bakar, Pak. Tawuraaan,” jawab anak-anak serentak.
Saiful lalu menjelaskan, “Demo itu boleh, syaratnya demo dengan damai, bukan yang anarkis. Apalagi sampai ada penjarahan. Negara Indonesia adalah negara demokrasi, setiap orang berhak menyuarakan pendapatnya. Coba kita lihat sekarang, demo yang cuma bakar-bakar saja, ujung-ujungnya siapa yang dirugikan? Gedung dibakar, fasilitas umum dibakar, benda-benda di dalam gedung dijarah. Itu bukan contoh demo yang baik.”
Selain itu, pengarahan juga menekankan pentingnya memilih teman dan lingkungan pergaulan yang baik, baik di madrasah maupun di rumah. Materi tentang demokrasi dan demonstrasi di Indonesia disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.
Doa bersama ini menjadi wujud ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan harapan tidak ada lagi aksi anarkis dan penjarahan di berbagai kota, termasuk Kediri. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter agar siswa memahami pentingnya menjaga kedamaian dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments