Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Model Kepemimpinan Mudir dalam Mencetak Kader Dai Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Model Kepemimpinan Mudir dalam Mencetak Kader Dai Muhammadiyah
Harbatul Ahkam Arrozy . Foto: Dok/Pri
Oleh : Harbatul Ahkam Arrozy Mahasiswa S2 MPI Umsida
pwmu.co -

Muhammadiyah dikenal luas sebagai gerakan kemasyarakatan yang berfokus pada dakwah Islam melalui berbagai amal usaha dan organisasi yang berkembang pesat.

Namun, pertumbuhan institusional ini sering kali belum berimbang dengan jumlah dan mutu kader dai yang dihasilkan.

Fenomena minimnya mubaligh di tengah semangat dakwah amar ma’ruf nahi mungkar mendorong Muhammadiyah untuk berinovasi dengan mendirikan pondok pesantren atau boarding school yang dikhususkan untuk pengkaderan dai di masyarakat.

Salah satu institusi yang menjadi sorotan dalam misi ini adalah Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh di Kota Malang.

Keberhasilan sebuah pesantren dalam mencetak kader sangat bergantung pada sosok Mudir atau pemimpin pondok.

Mudir bertanggung jawab penuh atas kemajuan fisik maupun keilmuan, bertindak layaknya seorang kiai yang menguasai ilmu Al-Qur’an dan mendapatkan amanah untuk memimpin pengelolaan lembaga.

Di Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh, kepemimpinan saat ini dipegang oleh K.H. Ahmad Taufik Kusuma sejak tahun 2015. Sosoknya dipilih oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang karena memiliki jaringan yang luas, integritas, dan latar belakang sebagai tokoh agama yang disegani.

Penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan di lembaga ini bersifat legal-formal-kharismatik.

Secara legal-formal, Mudir memimpin berdasarkan Surat Keputusan (SK) resmi dari persyarikatan dan mengelola struktur organisasi yang kompleks, yang mencakup unit madrasah (MTS dan MA) serta panti asuhan.

Di sisi lain, gaya kharismatik muncul dari kewibawaan pribadi Mudir yang mampu mengayomi, memotivasi, dan menjadi teladan bagi para guru, karyawan, serta santri.

Kepemimpinan ini bersifat satu komando untuk menjaga koordinasi, namun tetap mengedepankan musyawarah dalam pengambilan keputusan penting.

Dalam mencetak kader dai yang kompeten, Mudir menerapkan strategi kaderisasi yang komprehensif melalui kurikulum dan pengasuhan.

Kurikulum yang digunakan mengadopsi pola Kuliyatul Muallimin Islamiyah (KMI) yang dipadukan dengan tahfidz Al-Qur’an dan penguasaan kitab kuning (turats).

Para santri tidak hanya dididik secara kognitif, tetapi juga dibekali dengan kedisiplinan tinggi dan kemampuan bahasa asing.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pelatihan pidato atau muhadhoroh yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu malam. Pelatihan ini bertujuan agar santri memiliki kepercayaan diri saat berbicara di depan audiens menggunakan berbagai bahasa.

Selain pendidikan di dalam kelas, proses pengkaderan dilakukan dengan menerjunkan santri langsung ke tengah masyarakat.

Mudir memberikan kepercayaan kepada santri yang sudah layak untuk menjadi imam rawatib, muadzin, hingga pengajar di Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) sekitar pondok.

Pada momen-momen penting seperti bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, para santri ditugaskan menjadi imam tarawih dan khatib di berbagai masjid rekanan Muhammadiyah. Langkah ini memberikan pengalaman nyata bagi santri untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan mental dakwah mereka sebelum lulus.

Karakteristik utama yang ditanamkan oleh Mudir kepada calon dai adalah prinsip tegas dalam aqidah namun luwes dalam ibadah.

Santri diajarkan untuk memiliki pendirian kuat pada prinsip-prinsip dasar Islam, namun tetap toleran dan memahami perbedaan mazhab dalam hal ibadah praktis.

Selain itu, keterlibatan aktif dalam organisasi otonom Muhammadiyah, seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Hizbul Wathan, menjadi syarat mutlak untuk membentuk jiwa militansi dan loyalitas terhadap persyarikatan.

Profil lulusan yang diharapkan dari proses pendidikan ini adalah dai yang memiliki tiga kompetensi utama: mampu menjadi imam sholat, mahir berpidato berdasarkan Al-Qur’an dan sunah, serta menguasai bacaan kitab bahasa Arab.

Meskipun tidak semua lulusan memilih jalan menjadi dai profesional, banyak dari mereka yang tetap berkiprah sebagai pengajar agama, pengurus masjid, maupun aktivis organisasi yang menyebarkan nilai-nilai Islam berkemajuan di berbagai bidang pekerjaan.

Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan Mudir yang menggabungkan aspek administratif formal dengan kekuatan kharisma pribadi terbukti efektif dalam memanfaatkan seluruh potensi lembaga.

Model kepemimpinan ini tidak hanya mencetak individu yang pintar secara akademis, tetapi juga melahirkan pemimpin dakwah yang inovatif, berintegritas, dan siap menjawab tantangan zaman di tengah masyarakat.

Dengan sinergi yang kuat antara manajemen pesantren dan pengasuhan yang inspiratif, Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh terus berkontribusi dalam menyediakan stok kader mubaligh yang sangat dibutuhkan oleh umat dan bangsa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu