Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Modernitas dan Moderasi: Warisan Kyai Dahlan yang Terus Hidup dalam Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Mush’ab Muqoddas, anggota LDK PWM Jatim bersama Prof Munir Mulkhan (Andi Hariyadi/PWMU.COM)

PWMU.CO – Redaksi Senayan Post berkesempatan mewawancarai Guru Besar Emeritus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, Jumat (25/4/2025).

Wawancara dilakukan di kediaman beliau di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Dalam kesempatan ini, Prof Munir membagikan pandangannya tentang sikap moderat dan watak modernitas dalam gerakan Muhammadiyah dari masa ke masa.

Moderasi dan Modernitas ala Kyai Dahlan

“Implementasi moderasi di Muhammadiyah mengalami dinamika sesuai perkembangan zaman,” ujar Prof Munir membuka wawancara.

Menurutnya, pada masa KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah dikenal sangat inklusif. Gerakan dakwahnya menjunjung tinggi nilai moderasi dan modernitas yang didasari welas asih untuk memuliakan kemanusiaan.

Ia mencontohkan pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah di Yogyakarta dan Surabaya. “Kyai Dahlan mendorong kader untuk bergerak membangun layanan kesehatan modern, meski sempat ditentang banyak pihak,” kenangnya.

Bahkan, semangat welas asih itu membuat sejumlah dokter beragama Nasrani bersedia mengabdi di PKU tanpa digaji, begitu juga dr Soetomo yang menjadi penasihat RS Muhammadiyah Surabaya.

Semangat inklusif ini juga tercermin dalam pendidikan. Banyak guru ilmu umum di sekolah Muhammadiyah saat itu bukan beragama Islam. “Hasilnya, mulai tumbuh kesadaran untuk merdeka,” ujar Prof Munir.

Dinamika Sejarah: Dari Masyumi hingga Orde Baru

Muhammadiyah juga turut menggagas fondasi politik kenegaraan sejak 1927 hingga 1930-an. Kader-kadernya aktif dalam pergerakan politik dan terlibat dalam pendirian Masyumi.

Namun, menurut Prof Munir, keaktifan di ranah politik pada masa itu membuat Muhammadiyah sempat mengalami kejumudan dalam bidang keilmuan.

Pada era Orde Baru, Muhammadiyah tetap bersikap moderat tanpa konfrontasi. Ketika negara membuka peluang bagi PNS dari kalangan santri modernis, banyak kader Muhammadiyah diambil untuk mengisi posisi strategis.

“Meski tidak konfrontatif, Muhammadiyah tetap teguh menjaga jarak dengan kekuasaan demi kemaslahatan umat. Muhammadiyah bekerja bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk umat Islam secara keseluruhan,” tegasnya.

Menghadapi Salafisme dengan Welas Asih

Sejak 2010, muncul pengaruh salafisme dalam tubuh Muhammadiyah, khususnya di amal usaha pendidikan. Menanggapi hal ini, Muhammadiyah mengambil pendekatan pembinaan yang welas asih, bukan pendekatan struktural yang keras.

“Pimpinan Muhammadiyah melakukan pembinaan ideologis secara halus, bukan dengan pemecatan atau kekuasaan,” jelas Prof Munir. Upaya menjaga kemurnian ideologi dilakukan melalui dialog dan pendekatan kemanusiaan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Modernisasi untuk Memuliakan Kemanusiaan

Bagi Muhammadiyah, modernitas berarti mendorong masyarakat untuk berpikir rasional. Rasionalitas akan melunturkan tradisi-tradisi yang tidak logis dan mengarahkan masyarakat kepada semangat pembaharuan Islam yang mencerahkan.

“Tujuan utama Muhammadiyah bukan mengislamkan atau me-Muhammadiyah-kan orang, tapi memuliakan kemanusiaan. Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT,” tegas Prof Munir.

Ia juga menolak disertasi Alwi Shihab yang menuliskan bahwa latar belakang pendirian Muhammadiyah melawan kristenisasi. “Kyai Dahlan bersahabat dengan Pastor Muntilan, bahkan dokter-dokter nonmuslim bekerja tanpa digaji di PKU. Kalau memang anti-kristen, itu tidak mungkin terjadi,” jelasnya.

Dalam AD/ART lama, Muhammadiyah memiliki tiga kategori anggota: biasa, istimewa, dan donatur. Untuk anggota donatur, tidak disyaratkan harus muslim, selama mereka mendukung tujuan Muhammadiyah.

Pergerakan Muhammadiyah sejak dahulu memang tidak pernah konfrontatif. Dari langkah tersebut Muhammadiyah berhasil meyakinkan Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan musholla di berbagai fasilitas umum seperti pasar, terminal dan stasiun.

Menjawab Radikalisme dengan Moderasi

Kelompok radikal yang sering menghinggap dalam tubuh Muhammadiyah, lebih banyak melakukan silent operation di belakang panggung, sehingga kelompok ini cukup sulit ditemukan. Meski demikian, Muhammadiyah memilih untuk tidak memecat, tidak menggunakan kekuasaan namun welas asih dan memanusiakan.

Muhammadiyah lebih memilih menghadapi tantangan radikalisme dengan jalan damai. Melalui Majelis Tarjih, Muhammadiyah menjadi wadah untuk mendialogkan perbedaan dan meredam ekstremisme. Majelis ini senantiasa menjembatani gap atau perbedaan dalam pembahasan dan penafsiran sumber ajaran agama Islam yaitu al Quran dan as Sunnah, tidak langsung menyerang tradisi tapi mengambil jalan moderasi mencari sumbernya.

Ia mengingatkan, sejak Kongres Umat Islam di Cirebon 1931, Muhammadiyah mendorong penerjemahan kitab ke bahasa daerah agar Islam dapat dipahami secara luas. Muhammadiyah juga menggerakkan mubaligh keliling dalam kajian keislaman di tempat-tempat terbuka. Karena sejatinya, seorang muslim itu harus memiliki 2 (dua) sifat utama, yaitu sebagai guru dan sebagai murid.

Membudayakan Moderasi di Dunia Pendidikan

Muhammadiyah meyakini bahwa Islam adalah agama modern yang selalu dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Memang mengubah minset berfikir tidak gampang, khususnya di kalangan anak-anak baru tumbuh di starata menengah atas.

Maka dari itu perlu revisi pada materi pelajaran Bahasa Arab, Islam, dan Kemuhammadiyahan dengan mendorong budaya rasional. Pada tahun 1922, Kyai Dahlan dalam pesannya menegaskan bahwa pupuk dari seluruh ilmu adalah imu mantik, karena ilmu itu berfungsi untuk mendidik akal agar rasional. Ketua kedua Majelis Tarjih, Kyai Wardan bahkan telah menulis buku tentang perdebatan yang isinya merupakan materi-materi ilmu mantik. (*)

Penulis Andi Hariyadi Editor M Tanwirul Huda

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu