Hadiah Buku
Membaca merupakan hobinya sejak duduk di bangku SMP. Setiap bulan, selalu ada 3 hingga 5 judul buku baru yang menambah koleksi di rumahnya.
“Setiap kali berkunjung ke tempatnya, tamu yang pulang hampir pasti diberi oleh-oleh berupa buku, sambil disertai pesan, Jangan berhenti untuk membaca,” ujar Alfain.
Alfain Jalaluddin Ramadhani mengungkapkan bahwa ia mengenal Pak Su’ud sejak pertama kali aktif sebagai kontributor di PWMU.CO. Saat itu, ia juga diperkenalkan oleh gurunya, Fathurrahim Syuhadi. Saat itu, beliau sudah dikenal sebagai kontributor senior yang sangat disegani.”
Mahasiswa Pascasarjana UM Surabaya itu juga menyampaikan bahwa dari Pak Su’ud saya banyak belajar tentang dunia kepenulisan, bukan melalui kelas formal atau pelatihan resmi, melainkan dari cara beliau membimbing, memberikan masukan, dan menyemangati lewat pesan WhatsApp maupun saat kami bertemu di berbagai kegiatan.
“Meski tidak pernah menjadi guru saya secara langsung di kelas, saya menganggap Pak Su’ud sebagai guru kehidupan, khususnya dalam hal menulis, berdakwah, dan berorganisasi,” jelas Alfain
Alumni Umla ini juga menyebut bahwa kedekatannya dengan Pak Su’ud semakin erat karena adanya latar belakang yang menghubungkan keduanya.
“Beliau pernah menjabat sebagai Ketua PC IPM Laren, sementara ibu saya pada masa yang sama menjadi Ketua PR IPM Godog. Dari sinilah hubungan kami berkembang lebih dari sekadar rekan kontributor, terbangun pula rasa kedekatan layaknya keluarga,” imbuhnya.
Pak Su’ud, bagi ustadz Al Mizan ini, adalah sosok kader Muhammadiyah yang luar biasa. Meski tengah dirawat di rumah sakit, semangat dakwah dan menulisnya tak pernah surut.
“Saya bahkan sempat menerima kiriman tulisan dari beliau saat ia masih dalam perawatan. Tulisan opini dan laporan kegiatan Persyarikatan yang tetap ia kontribusikan ke PWMU.CO. Semangatnya menjadi teladan yang nyata,” ujar Editor PWMU.CO ini
Menjelang wafatnya, Alfain sempat menerima pesan pribadi dari beliau. Dalam pesan tersebut, beliau memohon doa sekaligus menyempatkan diri memberikan semangat kepada saya untuk terus belajar dan menulis. Pesan yang sederhana itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam.
“Pak Su’ud bukan hanya seorang penulis yang produktif, tetapi juga mubaligh yang kreatif. Ia gemar membaca dan memiliki koleksi buku yang sangat banyak. Namun, yang paling saya kagumi dari beliau adalah kesederhanaannya. Meskipun mengemban jabatan tinggi, termasuk sebagai Wakil Ketua PDM Lamongan, beliau tidak pernah menjadi sosok yang berjarak,” terang Alfain.
Lebih lanjut, Alfain mengatakan bahwa Su’ud tetap aktif menulis berita ranting dan cabang, selalu hadir di tengah anak-anak muda, serta tak segan berdiskusi dengan mereka. Selain itu, ia juga dikenal suka merangkul dan peduli, tidak hanya kepada organisasi, tetapi juga kepada orang-orang di sekitarnya.
“Saya masih ingat betul saat mengikuti Jambore Hizbul Wathan di Modo, beliau hadir sebagai kepala sekolah. Yang mengejutkan, beliau datang bukan dengan pakaian dinas, melainkan mengenakan kaos panjang kuning dan sarung, tanpa merasa perlu tampil mewah atau berbeda. Itulah Pak Su’ud, pemimpin yang membumi, dengan senyum khasnya setiap kali bertemu,” ucapnya.
Alfain juga memiliki kenangan khusus saat mengundang beliau untuk mengisi Latihan Dasar Kepemimpinan IPM di Al Mizan. Jadwalnya pukul 16.00 WIB, dan saat itu hujan deras mengguyur. Ia sempat mengira bahwa Pak Su’ud akan datang terlambat atau bahkan membatalkan. Namun ternyata, beliau justru datang tepat waktu, basah kuyup karena naik sepeda motor. Saat saya bertanya, “Kenapa tidak berteduh dulu, Pak?” jawabannya sederhana namun menghentak:
“Kalau saya berteduh, saya akan terlambat. Anak-anak sudah menunggu.
“Itulah Pak Su’ud, sosok yang disiplin, bertanggung jawab, dan penuh keteladanan,” tegas seorang pengajar di MTsM 15 Lamongan.
Kini, beliau telah berpulang. Namun bagi saya, pesan, semangat, dan keteladanan yang beliau wariskan akan terus hidup. Pak Su’ud tidak hanya menulis di media, tetapi juga menulis dalam kehidupan melalui sikap, tindakan, dan keteladanannya sehari-hari.
“Ia telah menulis jejaknya di hati banyak orang. Termasuk saya,” tegas penulis produktif ini.
Selamat jalan, Pak Su’ud. Terima kasih atas segala teladan dan inspirasimu. (*)
Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments