
PWMU.CO – Sebagai rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, siswa kelas besar (kelas IV hingga VI) mengikuti kegiatan Mosque Training.
Hari itu merupakan hari kedua pelaksanaan MPLS di SDMM, yang dikenal dengan sebutan Melekat (Mengenal Lebih Dekat), pada Selasa (15/7/2025). Setelah bel masuk berbunyi pukul 07.00, seluruh siswa kelas besar berkumpul di halaman sekolah. Kegiatan hari itu diawali dengan pembacaan janji pelajar dan doa sebagai tanda memulai proses pembelajaran.
Mosque Training adalah kegiatan latihan shalat berjamaah di masjid. Kegiatannya mencakup berbagai tahapan, mulai dari berwudhu di sekolah, berbaris dua anak saat berangkat dan kembali dari masjid, berdoa bersama sebelum berangkat, berjalan secara tertib berurutan menuju masjid, serta menata sandal dengan rapi di depan masjid.
Selain itu, para siswa juga dilatih masuk dan keluar masjid disertai doa, melaksanakan shalat tahiyatul masjid, shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah, hingga pelaksanaan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) di lantai dua Masjid At Taqwa Perumahan Pongangan Indah (PPI).
Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan pada awal tahun pelajaran sebagai bagian dari rangkaian pekan Melekat, guna mengingatkan kembali aturan-aturan kedisiplinan bagi siswa kelas besar.
Tujuan Mosque Training ini adalah agar shalat berjamaah di masjid umum dapat berlangsung dengan tertib, nyaman, dan khusyuk. Oleh karena itu, siswa SDMM diajarkan untuk mempraktikkan adab berjamaah, termasuk tata cara pergi ke masjid yang tidak mengganggu ketertiban di jalan umum.
Sesampainya di masjid, para siswa kelas besar juga diajarkan cara membentuk shaf dan melaksanakan shalat berjamaah bersama jamaah umum di masjid. Selain itu, mereka dikenalkan dengan berbagai ibadah sunnah yang dapat dilakukan di dalam masjid, baik sebelum maupun sesudah shalat fardhu.
Tak kalah penting, mereka juga diberi pemahaman tentang adab membatalkan shalat ketika mengalami hadas kecil, seperti kentut, atau ketika harus buang air kecil maupun besar.
Dalam kegiatan ini, siswa kelas VI menempati shaf paling depan, diikuti oleh siswa kelas V, dan siswa kelas IV berada di shaf paling belakang.
Penanggung Jawab Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba) SDMM, Nur Asiyah SpdI berharap dengan adanya Mosque Training ini siswa bisa memahami betul tuntunan ibadah yang benar-benar sesuai dengan ajaran Islam yang dipahami Muhammadiyah.
“Kita tidak boleh asal-asalan dalam melaksanakan ibadah yang belum sesuai dengan ajaran yang benar,” tuturnya.
Dia menambahkan, setelah Mosque Training ini, siswa biasanya lebih tertib dan paham bagaimana bersikap saat hendak pergi ke masjid dan saat berada dalam masjid, sehingga ibadah bersama jamaah umum tetap khusyuk dan tuma’ninah.
Guru kelas VI Karimun Jawa ini berharap agar anak-anak, khususnya laki-laki, sejak dini dibiasakan rajin berjamaah shalat di masjid karena itu merupakan kewajiban.
Selain belajar tentang tata tertib shalat berjamaah, para siswa juga diajak belajar tentang bagaimana membatalkan shalat. Shalat harus dibatalkan jika dalam keadaan ingin muntah, buang angin, Buang Air Kecil (BAK), atau Buang Air Besar (BAB).
“Cara meninggalkan shalat tidak berlari ke samping, tapi langsung ke belakang shaf karena nanti jamaah lainnya pasti paham kalau kalian sedang batal shalat,” jelas guru berkacamata ini.
Ia juga menyampaikan bahwa jangan bergerak ke samping karena akan melewati depan jamaah, dan itu tidak baik. Jika imam batal, maka makmum yang berada di belakangnya maju ke depan untuk menjadi imam pengganti.
“Adapun jika makmum yang batal, maka ia harus segera keluar dari shaf dan mundur ke belakang, sementara makmum di belakangnya maju untuk mengisi posisi yang kosong,” imbuhnya.
Setelah itu, ustadz dan ustadzah memperagakan cara membatalkan shalat di hadapan para siswa. Ketika Ustadz Naharun Mubarak yang menjadi makmum membatalkan shalatnya dengan mundur dari shaf dan berjalan ke belakang, makmum di belakangnya, Ustadz AH Nurhasan Anwar, segera maju untuk menggantikan posisi yang kosong tersebut.
Asiyah berharap dengan adanya simulasi tersebut, tidak ada siswa SDMM yang ragu jika hendak membatalkan shalat di tengah jamaah, baik itu karena ingin muntah, BAK maupun BAB. (*)
Penulis Muhammad Ilham Yahya Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments