Mudir Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Mujianto, M.Pd.I, memberikan sambutan sekaligus menutup secara resmi kegiatan Porseni 640 PR IPM Al Mizan Putra Tahun 2025, Sabtu (13/12/2025), di Halaman Masjid Al Ghoihab Al Mizan Putra.
Dalam sambutannya, Mujianto menegaskan bahwa Porseni bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang pembentukan karakter santri. Menurutnya, selama Porseni berlangsung, para santri telah mengalami beragam proses penting, mulai dari luapan emosi, kegembiraan, hingga semangat perjuangan.
“Di Porseni ini kita belajar nilai kebersamaan, kekompakan, dan semangat berjuang. Jangan merasa lelah atau capek, meskipun secara fisik memang terasa,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa lelahnya santri justru bernilai ibadah. Menjadi santri, kata Mujianto, sejak melangkahkan kaki ke pesantren telah bernilai jihad fisabilillah, yang konsekuensinya adalah kesiapan untuk berjuang dan bersusah payah.
“Kalau santri mondok tapi tidak pernah capek, tidak pernah lelah, maka hidupnya tidak bernilai. Lelah itulah yang menjadi jalan menuju ketenangan dan prestasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mujianto mengingatkan bahwa lamanya mondok—baik tiga tahun maupun enam tahun—bukanlah ukuran keberhasilan. Nilai seorang santri ditentukan oleh kreasi dan aksi nyata yang dilakukan selama di pesantren.
“Kalau bertahun-tahun di pondok tapi tidak diisi dengan kreasi dan aksi, tidak ada prestasi yang dibanggakan. Sebaliknya, meskipun capek, aksi dan prestasi itu bernilai dan membanggakan,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Mujianto juga menyampaikan rasa syukur atas capaian prestasi santri Al Mizan, khususnya dari unit drumband yang berhasil membawa pulang delapan piala dari ajang perlombaan yang diikuti.
“Alhamdulillah, ini bukti bahwa kerja keras dan kelelahan itu berbuah prestasi. Jangan lelah untuk beraksi dan berprestasi, karena ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk masa depan, untuk Al Mizan, keluarga, dan dakwah Muhammadiyah,” pungkasnya.
Menutup sambutannya, Mujianto mengajak seluruh santri untuk tetap menguatkan iman kepada Allah Swt., seraya menyadari bahwa setiap usaha, aksi, dan prestasi harus diniatkan sebagai ibadah. Kegiatan Porseni 640 Tahun 2025 pun ditutup secara resmi dengan pembacaan hamdalah bersama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments