Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah: Agen Islam Rahmah

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah: Agen Islam Rahmah
Pradana Boy ZTF. Foto: Pribadi/PWMU.CO
Oleh : Pradana Boy ZTF Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Malang. Asisten Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji
pwmu.co -

MISI diturunkannya Islam ke dunia adalah untuk membawa rahmat bagi alam semesta. Doktrin dasar ini termaktub dalam Surah al-Anbiya’ ayat 107. Wama arsalnaka illa rahmatan li al-alamin (dan Kami tidak mengutusmu kecuali membawa rahmat bagi seluruh alam). Rahmat atau rahmah sebagai kata kunci dalam misi ini tidak memiliki makna tunggal. Mufassir Ibn Jarir al-Thabari memahaminya sebagai kelembutan. Sementara ahli bahasa, Ibn Fāris (w. 395 H) dalam kitab Maqāyīs al-Lughah menjelaskan, kata yang memiliki akar dari hurufر-ح-م pada umumnya menunjukkan arti-arti seperti kelembutan, kasih sayang, dan keinginan untuk memberikan kebaikan. Ulama kontemporer, misalnya, Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Awlawiyat melihat rahmah sebagai prinsip utama yang meliputi seluruh ajaran Islam. Sementara, Abddurahman Wahid semasa hidupnya dulu sering menjelaskan tentang rahmah sebagai perdamaian, kasih sayang dan persaudaraan.

Namun demikian, dalam prakteknya, seringkali terjadi kesalahan dalam memahami ayat di atas, demikian pandangan ahli tafsir Quraish Shihab. Dalam pandangannya, salah satu kesalahan itu terletak pada penerjamahan “membawa rahmat”. Dalam kaitan dengan rahmat ini ada empat unsur yaitu: Allah sebagai pengutus, Nabi Muhammad sebagai terutus, rahmah sebagai risalah dan alam semesta sebagai sasaran. Allah bersifat rahim (penyayang), demikian pula dengan Nabi Muhammad. Maka dalam konteks ayat ini, Nabi Muhammad bukanlah pembawa rahmat, melainkan diri Nabi sendiri adalah rahmat bagi alam semesta. Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa karena Allah bersifat rahim dan “satu-satunya makhluq yang disebut di dalam al-Qur’an menyandang sifat rahim adalah Nabi Muhammad,” maka seluruh ucapan, tindakan, dan ajarannya adalah rahmat. Maknanya, rahmat itu secara intrinsik melekat pada diri Nabi Muhammad.

Karena Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia penyandang sifat rahim, maka sepeninggal Nabi Muhammad, Islam rahmatan lil alamin (selanjutnya akan kita sebut saja Islam Rahmah) adalah sebuah misi dan sekaligus sifat dasar yang melekat pada ajaran Islam, karena tidak ada lagi manusia di dunia ini yang melekat dalam dirinya rahmah bagi alam semesta. Namun, itu tidak berarti hakikat kerahmatan yang dibawa oleh Nabi Muhammad terhenti. Tidak lain, Muslim di seluruh dunia dan sepanjang zaman dengan kapasitasnya masing-masing harus memainkan peran sebagai “agen” bagi Islam Rahmah ini. Peran keagenan ini bisa dijalankan oleh individu atau kumpulan individu yang tergabung dalam komunitas, perkumpulan, atau organisasi, misalnya.

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam, yang secara etimologis didefinisikan sebagai pengikut Muhammad. Karena itu, sesungguhnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah kecuali melanjutkan misi profetik Nabi Muhammad sebagai pembawa Islam Rahmah. Maka pada level ini, istilah pembawa atau agen rahmat menjadi tepat. Peran multidimensional Muhammadiyah dalam turut membangun masyarakat Indonesia sepanjang kiprahnya selama 113 tahun sebagai agen Islam Rahmah ini adalah bukti keagenan itu.

Lalu apakah cakupan nilai Islam Rahmah ini? Islam Rahmah meliputi wilayah kehidupan yang teramat luas, terbentang dari ranah individu, keluarga, masyarakat, hingga hubungan manusia dengan makhluq Allah yang lain.

Konteks Individu

Pada level individual, para penggerak Muhammadiyah selalu berusaha menghadirkan rahmah dalam arti yang luas. Seperti telah menjadi permakluman umum, Muhammadiyah dicirikan oleh individu-individu yang bersahaja. Hal yang populer di masyarakat adalah situasi yang cenderung berbalik antara unit-unit pelayanan sosial Muhammadiyah yang dikenal dengan amal usaha Muhammadiyah (AUM) dan gaya hidup para pimpinan Muhammadiyah. AUM dibangun besar, megah, dan representatif untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat secara luas; sementara di sisi lain, gaya hidup para pimpinan Muhammadiyah justru sangat sederhana.

Profesor Amin Abdullah, cendekiawan Muhammadiyah, menyebut gaya hidup pimpinan Muhammadiyah itu dicirikan dengan 3M, yakni modern, moderat, dan (sak) madya. Dua istilah pertama tidak perlu penjelasan lebih lanjut, karena kedua istilah itu telah bersifat self-evidence atau sudah bisa menjelaskan dirinya sendiri. Tetapi, poin ke tiga, yakni (sak) madya memerlukan elaborasi lebih jauh. Sak madya merujuk kepada pola hidup sederhana, apa adanya, tidak berlebihan, atau bahkan hidup di bawah standar kemampuan.

Mari kita ambil contoh kehidupan Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama (1968-1990), yaitu Kiai Abdur Rozaq Fachruddin yang dikenal dengan nama Pak AR. Sebagai ketua umum organisasi dengan aset yang sangat banyak, akses luas ke berbagai pihak, pengaruh besar, dan memiliki hubungan personal yang sangat dekat dengan Pak Harto; ternyata Pak AR mempraktikkan hidup yang sangat sederhana. Salah satu buktinya adalah tentang tempat tinggal. Ungkapan yang sangat terkenal dari Pak AR adalah “rumah kita di surga.” Itu merujuk kepada dialog Pak AR dengan isterinya tentang rumah tinggal. Berbagai sumber menyebut, hingga akhir hayatnya, Pak AR tidak memiliki rumah sendiri. Saat ditanya tentang kenyataan itu oleh isterinya, lalu beliau menjawab dengan perkataan tadi. Padahal, Prof Malik Fadjar yang saat itu menjabat rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah pernah menawarkan ke Pak AR agar UMM membangun rumah untuk beliau.

Namun, di sisi lain, Pak AR sangat gemar bersedekah. Prof Imam Suprayogo yang pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor I UMM era 80 hingga 90-an, pernah berkisah tentang hal itu. UMM mengundang Pak AR untuk sebuah kegiatan. Sebagai ketua umum PP Muhammadiyah, UMM menyediakan tiket pesawat untuk perjalanan beliau ke Malang. Namun, di luar dugaan panitia, Pak AR justru datang dengan membawa mobil sendiri, dengan ditemani sopir. Sebagai ucapan terima kasih, UMM kemudian memberikan honorarium kepada Pak AR, dan diterima.

Namun, beberapa bulan kemudian ada kiriman buku dari Yogya ke UMM dan di situ nama Pak AR sebagai penulisnya. Beberapa pimpinan di UMM merasa heran kok ada kiriman buku sebanyak ini padahal tidak pernah memesan. Teka-teki itu terjawab, ketika pada suatu saat Pak AR menelpon salah satu pimpinan UMM pada saat itu. Pak AR mengatakan buku itu dicetak dengan uang dari UMM. Merasa tidak pernah ada bantuan penerbitan buku karangan Pak AR tersebut, bertanyalah pimpinan UMM kepada Pak AR. Kata Pak AR, itu uang yang diberikan oleh UMM untuk honorarium mengisi acara dulu, diterima, lalu digunakan oleh Pak AR untuk mencetak buku, dan buku itupun dikirim ke UMM lagi.

Rasanya tak berlebihan jika fragmen-fragmen kehidupan Pak AR yang penuh keteladanan itu ditampilkan sebagai bukti nyata praktik Islam Rahmah pada level individu. Fragmen semacan ini akan lebih panjang lagi jika ditambah dengan kesederhanaan gaya hidup pimpinan-pimpinan lain, termasuk Prof Haedar Nashir, ketua umum PP Muhammadiyah saat ini. Beliau pernah terekam kamera publik naik kereta api dengan menenteng kardus yang mungkin berisi oleh-oleh dari pengurus Muhammadiyah yang mengudangnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Konteks Masyarakat

Pada level komunitas atau masyarakat, kiprah Muhammadiyah tak bisa diabaikan pula. Bagaimana Muhammadiyah dengan lembaga pendidikannya, telah menampilkan diri sebagai agen perubahan sosial atau lebih khusus lagi adalah agen bagi mobilitas sosial. Berapa banyak kelompok masyarakat yang tak bisa mengakses pendidikan, karena keterbatasan kemampuan negara untuk menyediakan pendidikan ke seluruh pelosok Indonesia, lalu memperoleh akses pendidikan melalui pintu yang dibuka Muhammadiyah.

Diri saya sendiri adalah bukti dari orang yang merasakan manfaat peran Muhammadiyah sebagai agen Islam Rahmah dalam bidang pendidikan. Di dusun saya yang terletak di pesisir utara Lamongan, tidak ada sekolah dasar. SD negeri terdekat ada di desa tetangga; dan lazim diketahui saat itu, hanya orang-orang terpandang di dusun yang mampu mengirim anaknya ke sekolah itu. Saya? Karena tak bisa mengakses sekolah itu, mengikuti kelas di surau yang tak mengenal sistem kelas, apalagi kurikulum. Kami belajar apa saja sesuai stok pengetahuan sang pengajar. Era ketidakpastian itu berhenti setelah kami pindah ke sekolah baru, punya sistem kelas, punya kurikulum, punya jadwal, dan sebagainya, yang ternyata adalah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM). Andai saya tak memperoleh pendidikan awal di MIM itu, tak mungkin saya berada pada tahapan yang sekarang ini.

Pemikiran Insular

Tak ada hal sempurna yang dilakukan manusia di dunia ini, tak terkecuali apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Tetapi, kiprah 113 tahun Muhammadiyah di berbagai wilayah telah nyata menghadirkan rahmat bagi masyarakat Indonesia, tanpa peduli agama, ras, atau identitas-identitas lain.

Jika ada catatan dalam kaitannya dengan Muhammadiyah sebagai agen Islam Rahmah ini, dari sudut pandang subjektif saya adalah berkaitan dengan cara sebagian kalangan di Muhammadiyah mempersepsi orang lain. Ada pernyataan menarik dari Prof Amin Abdullah tentang kemodernan Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah itu modern dalam manajemen dan tata kelola; namun dalam pemikiran, Muhammadiyah relatif tertinggal.

Sembari merenungkan identifikasi Prof Amin ini, suatu ketika dalam sebuah forum ilmiah di Kuala Lumpur, seorang akademisi dari Malaysia berbagi perspektif kepada saya tentang Muhammadiyah sebagai peneliti asing. Menurutnya, Muhammadiyah belakangan ini cenderung insular. Kata dalam bahasa Inggris ini artinya kurang enak didengar, karena mengandung makna terisolasi, berfikiran sempit, dan tidak berani meninggalkan ruangnya sendiri.

Saya kaget mendengar komentar itu. Meskipun saya termasuk sering menulis kritik pada Muhammadiyah, pandangan tentang insularity Muhammadiyah ini sangat mengejutkan. Inilah pertama kalinya saya mendengar istilah digunakan untuk menggambarkan Muhammadiyah. Menindaklanjuti dialog singkat itu, saya kemudian melakukan pengamatan umum. Identifikasi itu tak semuanya benar dan tak semuanya salah, tergantung dari sudu pandang mana dilihat. Banyak tokoh dan aktivis Muhammadiyah yang berpikiran luas dan terbuka. Tetapi, memang tidak sedikit juga yang berpikiran sempit.

Contoh nyata pemikiran insular itu adalah kecenderungan membanding-bandingkan Muhammadiyah dengan organisasi atau komunitas lain, seraya membenarkan Muhammadiyah dengan menyalahkan kelompok lain. Ini sering saya temukan. Meskipun masih merupakan gejala awal dan bukan merupakan identitas Muhammadiyah sebagai organisasi, jika dibiarkan akan menjadi persoalan besar. Allahuyarham Moeslim Abdurrahman, pernah membagi pengamatannya tentang hal ini.

Menurutnya, doktrin Islam puritan yang dianut oleh Muhammadiyah, di satu sisi, dan keasyikan mengelola amal usaha di sisi yang lain; berpotensi menjadikan ruang intellectual exercise bagi kalangan anggota Muhammadiyah semakin sempit. Dari situlah terbuka pintu klaim kebenaran pemikiran sendiri, dengan tidak menimbang pandangan orang lain.

Tak ada gading yang tak retak. Dengan segala pencapaiannya, Muhammadiyah telah memainkan peran sebagai agen Islam Rahmah dengan sangat baik. Kritik-kritik membangun atas kekurangan Muhammadiyah perlu dijadikan sebagai refleksi untuk koreksi diri ke dalam, sehingga peran-peran keagenan Islam Rahmah yang dimainkan oleh Muhammadiyah akan menjangkau wilayah-wilayah yang semakin luas di masa-masa mendatang.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu