Dalam presentasi bertajuk Strategi Pembangunan Reputasi Digital, M. Himawan Sutanto, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang dan fasilitator program digitalisasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Pusijam), menghadirkan momen refleksi tajam bagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur.
Sutanto tidak memulai dengan teori, melainkan langsung menggelar audit digital on-the-spot yang menantang para peserta membuktikan seberapa besar Muhammadiyah di mata mesin pencari dan media sosial.
Sesi tersebut menegaskan satu hal: Muhammadiyah adalah sebuah brand yang harus dijaga dan dikembangkan. Namun, besarnya organisasi secara keanggotaan belum tentu sebanding dengan kekuatan jejak digitalnya.
Membongkar ‘Kecilnya’ Muhammadiyah di Google
Sutanto meminta peserta membuka ponsel dan melakukan pencarian cepat: “Ketik PDM atau Ortom yang Bapak pegang.” Hasilnya mengejutkan. Banyak PDM/PCM yang tidak memiliki ulasan Google, atau memiliki skor tinggi (4,8 hingga 4,9) tetapi hanya didukung satu atau dua ulasan—sebuah kondisi yang ia sebut sebagai “kecil” karena tidak cukup kuat di mata algoritma.
“Kalau cuma satu orang yang ngasih, itu belum besar. Kecil,” tegasnya dalam kegiatan yang digelar di Aula Mas Mansur Kantor PWM Jatim pada Sabtu (11/10/2025) tersebut. Menurutnya, besarnya organisasi harus tercermin dalam volume data digital.
Audit cepat di media sosial pun menunjukkan disparitas serupa. Meski beberapa PDM/PCM memiliki ribuan pengikut di Instagram, banyak yang belum memiliki kanal YouTube atau masih mengunggah konten monoton, seperti informasi pengajian semata.
“Kalau bicara reputasi, bukan sekadar bagaimana kita berkhutbah… tapi ketika kita masuk ke media sosial, kita mau menyajikan apa? Menunya apa?”
Sutanto menekankan pentingnya menemukan kekhasan daerah—seperti bebek hitam Bangkalan atau semanggi Surabaya—dan menjadikannya pillar content yang dikemas dalam bingkai identitas Muhammadiyah.
Reputasi: Bukan dari Diri Sendiri
Menurut Sutanto, reputasi tidak dibangun dari pujian diri sendiri, melainkan dari penilaian publik. Ia mencontohkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah yang mencapai 91 persen, berdasarkan berbagai survei, sebagai modal besar di dunia digital.
Namun, modal itu bisa hilang karena “buta digital.” Ia menceritakan kasus ketika seseorang yang ingin berdonasi melalui Google kesulitan menemukan Panti Asuhan Muhammadiyah. Yang muncul justru panti milik lembaga lain.
“Itu jadi pelajaran. Karena orang sekarang kalau mau nyumbang atau bantu, tinggal buka HP dan cari PCM terdekat,” ujarnya, menyoroti pentingnya visibilitas digital bagi amal usaha Muhammadiyah.
Tiga Pilar Wajib Pembangunan Reputasi
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Sutanto menjabarkan tiga pilar utama yang wajib dikuasai seluruh elemen Muhammadiyah:
Kredibilitas Konten dan Storytelling
Konten harus akurat, transparan, dan terverifikasi. Ia mengingatkan agar tidak sembarangan mengambil konten dari internet, serta menekankan pentingnya storytelling yang menampilkan dampak nyata dari amal usaha Muhammadiyah.
Branding Visual dan Interaksi Cepat
Keseragaman visual perlu ditegakkan. Ia menyoroti penggunaan logo yang tidak sesuai dan mendesak agar seluruh pihak mematuhi Brand Guideline resmi Persyarikatan. Selain itu, respons cepat terhadap komentar dan pesan publik juga penting karena memengaruhi kepercayaan dan insight.
Konten Cepat dan Partisipasi Semua Pihak
Sutanto merekomendasikan penggunaan format video pendek (Shorts, TikTok) karena efektivitasnya lebih tinggi dibanding video panjang. Ia menekankan bahwa setiap warga Muhammadiyah adalah produsen konten (User Generated Content). Semua didorong untuk aktif mengirimkan berita kegiatan ke media internal seperti PWMU.CO dan Suara Muhammadiyah, atau ke media eksternal agar berita positif Muhammadiyah tampil di mesin pencari.
Peringatan Netiket dan Hukum ITE
Di akhir sesi, Sutanto memberi peringatan tegas tentang Netiket (etika berinternet) dan Undang-Undang ITE yang masih memiliki “pasal karet.” Ia mengingatkan agar pengurus berhati-hati mengunggah foto orang lain tanpa izin, bahkan dalam kegiatan informal seperti reuni.
“Hati-hati menyebut nama orang. Hati-hati mengunggah foto yang ada orang lain,” pesannya. Ia menegaskan bahwa energi digital Muhammadiyah sebaiknya difokuskan pada konten positif internal, bukan menyinggung pihak lain.
Secara keseluruhan, materi M. Himawan Sutanto menjadi panggilan bagi Muhammadiyah Jatim untuk melakukan revolusi mental digital—mengubah diri dari organisasi besar secara fisik menjadi brand digital yang kuat, terpercaya, dan adaptif. Sebuah keharusan untuk bertahan dan berkembang di abad ke-21. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments