Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan komitmennya menyiapkan generasi unggul Muhammadiyah yang mampu bersaing di tingkat global.
Hal ini diwujudkan melalui Sosialisasi Konsultan Pendidikan Internasional yang digelar di Balai Pemerintahan Desa Yogyakarta, Ahad (7/9/2025). Kegiatan ini akan berlangsung hingga Selasa (9/9/2025).
Acara ini diikuti 97 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru Bimbingan Konseling (BK) dari 65 SMA dan MA Muhammadiyah unggulan seluruh Indonesia. Peserta datang dari berbagai provinsi, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Banten.
Kehadiran mereka menandai keseriusan Muhammadiyah dalam memperkuat jaringan pendidikan global, sekaligus mempersiapkan sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki program internasional.
Salah satu yang menjadi sorotan dalam acara ini adalah peran Matahari Global Edu (MGE). Direktur MGE, Agus Suroyo, S.Pd.I, M.Pd.I, menjelaskan lembaga ini menjadi eksekutor berbagai MoU luar negeri yang telah dimiliki Muhammadiyah.
“Selama ini sudah banyak MoU dengan luar negeri, tetapi belum ada yang mengeksekusi. Untuk itu MGE hadir,” ujarnya.
Dia mencontohkan, saat ini kerja sama sudah terjalin dengan Jerman. Program yang dijalankan tidak sekadar magang, tetapi double track: siswa bisa bekerja sambil mendapat insentif, sekaligus melanjutkan studi hingga jenjang S2.
“Harapannya banyak siswa Muhammadiyah yang belajar dan bekerja di Jerman. Mari kita Muhammadiyahkan Jerman!” seru Agus, disambut tepuk tangan meriah para peserta.
Ke depan, tambahnya, kerja sama serupa juga akan dibangun dengan Malaysia, Taiwan, Jepang, dan negara-negara lain.
Peserta sosialisasi berperan sebagai perpanjangan tangan MGE di sekolah masing-masing, untuk menginformasikan program internasional kepada siswa dan orang tua.
Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Dr. Didik Suhardi, Ph.D., menegaskan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul sejak dini.
“Selama ini Indonesia dikenal banyak mengirim tenaga kerja low educated ke Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Mereka mendapat gaji rendah dan kalah bersaing dengan tenaga kerja dari Filipina atau India,” jelasnya.
Menurutnya, sudah saatnya Indonesia—khususnya Muhammadiyah—mengirimkan tenaga kerja terdidik dengan kualitas tinggi.
“Apakah kita bisa punya peluang mengirim tenaga kerja yang high educated? Tentu bisa. Peluang ini jangan hanya kita tonton. Tahun 2045 harus kita rebut,” tegas Didik.
Dalam paparannya, ia juga menyebutkan bahwa pemerintah Jerman membuka beasiswa bagi 3.000 siswa Indonesia. “Jika setiap tahun ada 300 siswa, maka dalam 10 tahun ada 3.000 siswa kita belajar di Jerman,” paparnya.
Selain Jerman, peluang kerja sama juga terbuka dengan Taiwan, Jepang, India, dan Singapura.
Sebagai alumni S3 School of Management, The Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University, Didik menekankan bahwa sekolah Muhammadiyah harus meningkatkan mutu, pelayanan, dan tata kelola manajemen.
“Dengan mengikuti program ini, sekolah Muhammadiyah bisa mempromosikan diri kepada masyarakat, meningkatkan kepercayaan, dan menarik minat siswa,” ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya penguasaan keterampilan 5.0, salah satunya kemampuan komunikasi.
Karena itu, Majelis Dikdasmen PNF menyiapkan modul-modul bilingual yang akan digunakan di sekolah Muhammadiyah maupun sekolah umum. Modul ini akan diperkuat dengan kontenMu agar lebih jelas dan kontekstual.
Didik mengingatkan para peserta bahwa mereka adalah agen perubahan di lingkungan sekolah masing-masing.
“Bapak ibu yang hadir di sini adalah agen-agen perubahan Muhammadiyah yang berkemajuan. Kita ingin melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan siap menjadi policy maker di masa depan. Itulah cita-cita Muhammadiyah bersama,” pungkasnya.(*)





Apakah pelajar yang mengikuti program ini sudah di tanggung semua biaya hidup nya selama disana, contoh nya seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, dan biaya lain lain nya?
Apakah pelajar yang mengikuti program ini sudah di tanggung semua biaya hidup nya selama disana, contoh nya seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, dan biaya lain lain nya? Dan apakah sebagai pelajar kita harus mencari universitas sendiri?!