Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) melalui postingan di instagram @ppnasyiah (9/12/2025) mengajak masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, dimulai dari keluarga.
Dalam postingan tersebut, PPNA memberikan Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang mencatat 25.180 kasus (Januari-Oktober 2025) kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan total 26.861 korban.
Adapun jenis kekerasan yang paling banyak dilaporkan yaitu: seksual: 11.049 korban, fisik: 8.533 korban, dan psikis: 7.701 korban. Adapun mayoritas kekerasan terjadi di lingkungan rumah tangga dengan rincian 15.657 korban (58,75% dari total korban).
Data menyebutkan, faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak disebabkan oleh stress dalam keluarga. Stress berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik, mental, dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya.
Kasus stress yang berasal dari suami atau istri misalnya dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang tua sebagai korban kekerasan pada masa lalu, orang tua terlampau perfect dengan harapan pada anak terlampau tinggi, serta orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin.
Sementara kasus stress berasal dari situasi tertentu misalnya suami/istri terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar.
Adapun penyebab utama lainnya adalah kemiskinan, masalah hubungan sosial baik dalam keluarga atau komunitas, penyimpangan perilaku sosial (masalah psikososial) serta penggunaan gawai yang tidak bijaksana.
Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
PPNA mengajak untuk memulai dengan edukasi di dalam keluarga untuk membentuk kesadaran dan pemahaman yang benar tentang kekerasan, terutama karena banyak korban enggan melapor karena takut stigma. Ajarkan pada anak sejak dini bagian tubuh mana saja yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, seperti bibir, payudara, kemaluan, dan pantat.
Komunikasi yang terbuka dan sehat antaranggota keluarga juga diperlukan untuk saling memahami dan mencegah potensi kekerasan, serta melibatkan masyarakat, termasuk organisasi akar rumput, untuk menciptakan lingkungan yang aman.
Program Keluarga Muda Tangguh mengajak masyarakat terutama kader Nasyiah untuk menjaga nilai keikhlasan, memperkuat literasi perlindungan diri, serta saling membersamai untuk mewujudkan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan bagi perempuan dan anak.
Nasyiatul Aisyiyah melalui berbagai program dakwah dan edukasi, termasuk Ahad Rajin (Gerakan Mengaji Nasyiah) menghadirkan ruang belajar bersama bagi perempuan muda. Salah satu tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran, keberanian, dan kemampuan untuk mencegah serta melaporkan kekerasan di rumah, sekolah, dan lingkungan sehari-hari.
Semoga ikhtiar ini menjadi langkah nyata dalam membangun keluarga-keluarga yang berdaya dan turut menghadirkan masyarakat yang lebih adil dan humanis. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments