Kajian Ramadan 1447 H yang disampaikan oleh Musyrifah, S.Ag., anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Manyar yang digelar secara daring, Senin (2/3/2026), menegaskan pentingnya mendidik Gen Z yang berjiwa Al Ma’un agar memiliki empati, kepedulian sosial, dan aksi nyata membantu sesama
Kajian ini merupakan bagian dari program MTK PCA Manyar dalam Gerakan Perempuan Mengaji selama bulan Ramadan. Kegiatan tersebut dilaksanakan rutin tiga hari sekali dan diikuti oleh seluruh anggota PCA Manyar serta anggota PRA se-Kecamatan Manyar dari rumah masing-masing.
Mengawal Perkembangan Gen Z di Era Digital
Dalam paparannya, Musyrifah menekankan bahwa generasi Z yang lahir pada 1997–2012 merupakan generasi yang akrab dengan teknologi, memiliki budaya kerja tinggi, serta peka terhadap berbagai isu sosial.
“Tema ini sangat penting untuk kita kaji. Gen Z adalah generasi yang menguasai teknologi dan memiliki kesadaran terhadap beberapa persoalan sosial. Karena itu, kita sebagai generasi sebelumnya harus terus mengawal perkembangan mereka,” ujarnya.
Menurutnya, tugas orang tua, khususnya ibu, adalah memberikan pembelajaran sosial yang kuat agar anak-anak tidak hanya unggul secara digital, tetapi juga memiliki empati terhadap lingkungan sekitar.
Ia mengakui masih ditemukan anak muda yang cenderung individualis dan kurang peduli pada sesama. Namun, di sisi lain, banyak pula generasi muda yang memiliki kepedulian sosial tinggi, aktif berdiskusi, dan menghargai pendapat orang lain.
“Semua tetap berangkat dari rumah. Anak-anak perlu diajak berdiskusi dan dididik menjadi pribadi yang taat kepada Allah dan Rasul, menghormati orang tua dan guru, serta menyayangi sesama,” jelasnya.
Membentuk Karakter Gen Z Berjiwa Al Ma’un
Musyrifah menjelaskan bahwa mendidik Gen Z berjiwa Al Ma’un berarti menanamkan karakter peduli sosial sesuai nilai-nilai dalam Surat Al-Ma’un, terutama dalam memperhatikan anak yatim dan fakir miskin.
“Gen Z yang tumbuh bersama internet perlu diarahkan agar tidak hanya melek digital, tetapi juga peka terhadap realitas sosial di sekitarnya,” tegasnya.
Ia mengutip Surat Al-Ma’un ayat 1–3 yang menekankan pentingnya memperhatikan anak yatim dan fakir miskin, bukan sekadar secara simbolik, melainkan melalui tindakan nyata seperti memberi makan, pakaian, dan bantuan yang bermanfaat.
“Kita diperintahkan memberikan harta terbaik yang berguna bagi yang membutuhkan, bukan sekadar memberi tanpa makna,” tambahnya.
Langkah Konkret Menanamkan Jiwa Sosial
Dalam kajian tersebut, Musyrifah juga memaparkan sejumlah langkah praktis agar generasi muda memiliki jiwa Al Ma’un, di antaranya:
- Memberikan pemahaman kepada Gen Z melalui pendekatan yang relevan dan komunikatif.
- Menanamkan bahwa salat harus berdampak pada perilaku sosial.
- Melibatkan anak muda dalam diskusi isu-isu sosial.
- Mengajak mereka terjun langsung menjadi relawan atau mengunjungi panti asuhan.
- Membangun empati terhadap anak yatim dan fakir miskin.
- Menyampaikan kisah inspiratif, termasuk teladan KH Ahmad Dahlan dalam mengajarkan Al Ma’un melalui praktik nyata.
- Mendorong gerakan sedekah digital melalui platform media sosial.
Menurutnya, proses pembinaan generasi muda memang tidak selalu mudah. Namun, upaya tersebut tetap harus dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua dan pendidik.
“Kita perlu meyakinkan bahwa semua yang diusahakan akan berdampak pada kehidupan mereka. Kebaikan akan kembali kepada pelakunya dan keberkahan itulah yang kita perjuangkan,” tegasnya.
Janji Kedekatan dengan Rasulullah
Di akhir kajian, Musyrifah mengutip hadits riwayat Imam Bukhari tentang keutamaan memelihara anak yatim.
“Rasulullah SAW bersabda: Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan masuk surga seperti ini,” seraya memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah yang direnggangkan.
Ia menjelaskan bahwa menyayangi dan mengasuh anak yatim merupakan amalan mulia yang dijanjikan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga.
Selain itu, kepedulian terhadap sesama juga menjadi bentuk perlindungan dari siksa dan jalan memperoleh pahala berlimpah serta hati yang lembut.
“Semoga Allah memberikan kesehatan dan kekuatan kepada generasi penerus kita untuk terus menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar serta menjadi pribadi yang dekat dengan Allah dan Rasulullah,” harapnya.
Musyrifah juga berharap para orang tua dapat menjadi teladan terbaik dalam membimbing anak-anak agar tumbuh menjadi generasi berjiwa Al Ma’un dan berakhlak mulia.






0 Tanggapan
Empty Comments