
PWMU.CO – Dalam Tabligh Akbar Muharram yang digelar di SD Muhammadiyah 8 Surabaya, Ahad (13/7/2025), Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Najih Prastiyo SHI MH menyampaikan pentingnya membangun empat pilar kader tangguh.
Najih menguraikan empat pilar penting yang harus dimiliki generasi muda Muhammadiyah agar mampu menjadi kader dakwah yang kokoh: tadribun qawiyyun (pemahaman ideologis yang kuat), tamassaq bil-‘ilmi (Luas dalam Ilmu Pengetahuan), tamtaliku bi insāniyah ‘āliyah (kepekaan sosial tinggi), dan bir rūḥāniyyatin ‘amīqah (spiritualitas mendalam).
Tadribun Qawiyyun: Pemahaman Ideologis yang Kuat
Najih menyoroti kelemahan kader dalam aspek ubudiyah. Ia menyebut fenomena ketidakkonsistenan dalam pelaksanaan shalat tarawih, puasa, dan keyakinan terhadap keputusan tarjih sebagai gejala lemahnya pemahaman ideologi.
“Kalau orang memahami ideologi dengan baik, ia akan menjadi orang yang tadrībun qawiyyun. Kuat dalam prinsip, tidak ragu terhadap keputusan organisasi,” jelasnya.
Najih juga mengkritik kurangnya perhatian terhadap dokumen penting seperti PHIWM (Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah). “Banyak yang belum pernah baca, padahal ini panduan hidup. Sepele tapi penting,” tegasnya.
Tamassaq bil-‘Ilmi: Luas dalam Ilmu Pengetahuan
Najih menekankan bahwa pemahaman ideologi akan memantik kecintaan pada ilmu. “Orang yang diajak berpikir ideologis akan tumbuh menjadi pembelajar sejati,” katanya.
Ia mengajak peserta untuk membaca karya-karya tokoh Muhammadiyah seperti Prof Haedar Nashir dan memahami alasan historis berdirinya Muhammadiyah.
“Membaca buku tentang ideologi Muhammadiyah saja tidak selesai satu bulan. Tapi kita minta anak-anak muda baca, belajar, dan pahami,” ujarnya.
Tamtaliku bi Insāniyah ‘Āliyah: Kepekaan Sosial yang Tinggi
Najih menceritakan sebuah kasus kristenisasi di Desa Pataan, Lamongan, yang dilakukan lewat pendekatan sosial. “Satu dokter non-Muslim membagikan minyak goreng dan pelayanan suntik murah. Ini dakwah yang efektif,” ujarnya.
Ia mendorong agar anak muda Muhammadiyah juga melakukan dakwah serupa—yang peduli terhadap lingkungan, membantu yang sakit, dan mendampingi yang terancam putus sekolah.
“Kalau dakwah dilakukan dengan kepedulian seperti itu, akan lebih diterima masyarakat dibanding hanya ceramah,” ujarnya.
Bir Rūhāniyyatin ‘Amīqah: Spiritualitas Mendalam
Menurut Najih, banyak anak muda hari ini mengalami krisis moral dan spiritual. “Mereka punya gelar, tapi tidak punya adab. Tidak paham tata cara ibadah, tidak tahu syarat sah mandi besar, padahal ini berpengaruh pada diterimanya ibadah mereka,” katanya.
Ia menyebut spiritualitas adalah ruh yang menyatukan seluruh aspek kehidupan kader Muhammadiyah.
“Kalau kita tidak menanamkan spiritualitas dalam kader, bagaimana mereka bisa mencintai dakwah Muhammadiyah?” tegasnya.
Najih mengajak agar pengajian PHIWM dan Himpunan Putusan Tarjih menjadi rutin diadakan oleh pimpinan cabang agar kader muda tidak hanya paham secara struktural, tapi juga mendalam secara ruhani.
“Ideologi yang kuat akan menciptakan kader yang berilmu, berakhlak, dan siap berdiaspora demi kemaslahatan umat,” pungkasnya. (*)
Penulis M Tanwirul Huda Editor Wildan Nanda Rahmatullah





0 Tanggapan
Empty Comments