
Foto bersama para peserta Baitul Arqom PDM Kota Kediri di Langgar Kidul Hadji Ahmad Dahlan, Kauman, Yogyakarta pada Ahad (06/07/2025). (Putra Bintan/PWMU.CO).
PWMU.CO – Suasana haru dan semangat mengiringi napak tilas peserta Baitul Arqom Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri di Kampung Kauman, Yogyakarta, Ahad (6/7/2025).
Kegiatan bermula sejak dini hari dengan melaksanakan salat Lail di Masjid Gede Keraton Yogyakarta. Dan berlanjut hingga fajar menyingsing, menyusuri situs-situs bersejarah Muhammadiyah.
Dengan panduan Bapak Gatot, seorang warga Kauman yang menjadi pemandu tur, para peserta diajak menelusuri jejak perjuangan KH Ahmad Dahlan dan murid-muridnya. “Ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi menghidupkan kembali semangat para pendahulu kita” ujar Gatot saat memulai perjalanan.
Jejak Sejarah yang Menginspirasi
Rute napak tilas dimulai dari Masjid Gede, tempat KH Ahmad Dahlan kerap berdakwah dan menggagas pemikiran pembaruan Islam. Gatot menceritakan kiprah Muhammadiyah di sekitar masjid, termasuk peran penting masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan.
Perjalanan berlanjut ke Langgar Kidul, rumah KH Ahmad Dahlan, dan makam sang pendiri Muhammadiyah.
Di setiap lokasi, Gatot menyampaikan kisah-kisah heroik perjuangan KH Ahmad Dahlan dan para muridnya, termasuk Nyai Walidah, pendiri Aisyiyah. “Mereka berjuang dengan sederhana, tetapi dampaknya kita rasakan hingga hari ini” ungkapnya.
Di samping itu, peserta juga mengunjungi sekolah rakyat dan Langgar Aisyiyah, yang menjadi bukti nyata peran Muhammadiyah dalam memajukan pendidikan dan pemberdayaan perempuan.
Semangat yang Terus Hidup
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan sejarah, tetapi juga menyalakan kembali api perjuangan di hati para kader.
“Kita diajak tidak hanya mengenang, tetapi melanjutkan estafet perjuangan dengan cara kita sendiri di era sekarang” tutur Rizal salah satu peserta.
Sebagai penutup, rombongan berdoa bersama di makam Nyai Ahmad Dahlan, mengakhiri napak tilas yang penuh makna.
Harapannya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa semangat pembaruan dan perjuangan Muhammadiyah harus terus hidup di setiap generasi.
Penulis Putra Bintan, Editor Danar Trivasya Fikri






0 Tanggapan
Empty Comments