Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Napak Tilas Muhammadiyah di Yogyakarta, Siswa SMPM 4 Porong Belajar Dakwah yang Bermanfaat

Iklan Landscape Smamda
Napak Tilas Muhammadiyah di Yogyakarta, Siswa SMPM 4 Porong Belajar Dakwah yang Bermanfaat
Belajar sejarah di Museum Muhammadiyah. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Halaman SMP Muhammadiyah 4 Porong tampak berbeda pada Selasa malam (27/1/2026). Tiga unit bus besar terparkir rapi, bersiap mengantarkan seluruh siswa mengikuti program Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah dan Creative Skills ke Yogyakarta. Tepat pukul 22.00 WIB, rombongan berangkat membawa semangat belajar yang tidak biasa—belajar langsung dari kehidupan nyata.

Rombongan tiba Rabu dini hari di Rumah Makan Mbah Moer, salah satu amal usaha Muhammadiyah di Yogyakarta. Di lokasi tersebut, siswa beristirahat, menunaikan shalat Subuh, dan sarapan bersama. Kunjungan itu bukan sekadar persinggahan, tetapi menjadi pengenalan nyata tentang kemandirian ekonomi Muhammadiyah.

“Dakwah tidak hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui usaha yang dikelola dengan nilai-nilai Islam,” ujar salah satu guru pendamping di sela kegiatan.

Dari rumah makan tersebut, siswa memahami bahwa keberlanjutan dakwah tumbuh dari kerja nyata dan pengelolaan usaha yang profesional serta berlandaskan nilai keislaman.

Belajar di MBS dan Museum Muhammadiyah

Pagi harinya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta di Kecamatan Prambanan, Sleman. Kegiatan dirancang dengan pendekatan berbeda. Para guru mengikuti sesi diskusi bersama pimpinan sekolah, sementara siswa mengikuti kegiatan sit in yang dipandu Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari kalangan santri kelas XI.

Melalui sesi tersebut, guru memperdalam wawasan pengelolaan pendidikan berbasis boarding school. Sementara itu, siswa belajar langsung tentang kehidupan santri, kepemimpinan, dan kedisiplinan.

“Kami jadi tahu bagaimana rasanya hidup disiplin di asrama. Banyak hal yang bisa kami tiru,” ungkap salah satu siswa kelas VIII.

Setelah dari MBS, rombongan dibagi menjadi dua jalur pembelajaran. Siswa kelas VII dan VIII mengunjungi Museum Muhammadiyah di lingkungan Universitas Ahmad Dahlan, lalu melanjutkan napak tilas ke Kampung Kauman, tempat lahirnya Muhammadiyah.

Di Kauman, sejarah terasa hidup. Lorong-lorong kampung, bangunan tua, dan cerita perjuangan para pendiri persyarikatan menjadi pembelajaran langsung yang tak tergantikan buku teks.

Kreativitas di Kasongan dan Refleksi Sejarah

Sementara itu, siswa kelas IX menuju Kampung Gerabah Kasongan. Di sana, mereka belajar tentang kreativitas, ketekunan, serta nilai ekonomi dari karya kerajinan tangan. Perjalanan dilanjutkan ke Benteng Vredeburg untuk mengenal sejarah perjuangan bangsa sekaligus mengabadikan momen kebersamaan melalui sesi foto yearbook.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menjelang sore, seluruh rombongan berkumpul di Malioboro. Di tengah suasana khas kota pelajar, para siswa berbagi cerita tentang pengalaman yang mereka peroleh sepanjang hari.

Dakwah Tak Harus Dihargai, Tapi Harus Bermanfaat

Perjalanan ini juga mengantarkan siswa menyelami makna perjuangan Ahmad Dahlan. Mereka mendengar kisah tentang musala Kidul yang pernah digunakan untuk berdakwah dan sempat dibakar akibat penolakan masyarakat.

“Perjuangan tidak selalu tentang dihargai atau dipuji. Yang terpenting adalah tetap memberi manfaat,” tutur salah satu pembimbing saat menjelaskan kisah tersebut.

Kisah itu memberi pelajaran mendalam bagi para siswa. Ahmad Dahlan tidak berhenti berdakwah meski menghadapi penolakan. Ia terus melangkah ke Kauman karena masih ada masyarakat yang membutuhkan ilmu.

Dari napak tilas ini, siswa belajar bahwa keberanian, ketulusan, dan konsistensi adalah fondasi dakwah dan kehidupan. Program ini bukan sekadar fieldtrip ke Yogyakarta, tetapi perjalanan membangun karakter, memperluas wawasan, serta menanamkan nilai perjuangan.

“Belajar tidak harus di dalam kelas. Justru dari perjalanan seperti ini, kami lebih memahami arti perjuangan dan tanggung jawab sebagai generasi Muhammadiyah,” ujar salah satu siswa kelas IX.

Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah dan Creative Skills menjadi ruang pembelajaran yang hidup—menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Sebab pendidikan sejati bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi bagaimana menjalani kehidupan dengan makna dan memberi manfaat bagi sesama. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu