
Opini oleh Fathurrahim Syuhadi, Ketua Kwartir Wilayah Huzbul Wathan Jawa Timur
PWMU.CO-Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei adalah salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Hari ini ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang dianggap sebagai permulaan dari kebangkitan kesadaran nasional rakyat Indonesia terhadap pentingnya persatuan, pendidikan, dan perjuangan menuju kemerdekaan.
Hari Kebangkitan Nasional adalah momentum untuk melihat ke dalam, memperkuat fondasi, dan melihat ke depan dengan semangat baru. Bagi Hizbul Wathan, ini bukan sekadar tanggal bersejarah, tetapi panggilan untuk bangkit bersama membina generasi, membela umat, dan membangun negeri dengan nilai-nilai Islam yang murni dan membebaskan.
Makna kebangkitan bukan hanya sebatas sejarah masa lalu. Ia harus dihidupkan kembali dalam semangat zaman sekarang. Khususnya bagi Kepanduan Hizbul Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah, Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum untuk merenungi kembali posisi, peran, dan tanggung jawab dalam membangun bangsa dan umat.
Hizbul Wathan sendiri lahir dari semangat kebangkitan dan pembaruan. Didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1918, HW hadir sebagai sarana pendidikan karakter pemuda Islam melalui metode kepanduan. Dalam masa-masa penjajahan, Hizbul Wathan tidak sekadar mengajarkan baris-berbaris atau petualangan alam, tetapi juga menjadi tempat menanamkan semangat perjuangan, cinta tanah air, keberanian, dan keikhlasan.
Nama Hizbul Wathan yang berarti Pembela Tanah Air adalah pernyataan yang tegas bahwa sejak awal, gerakan ini tidak pernah memisahkan antara keislaman dan kebangsaan. Maka, peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi saat yang tepat bagi Hizbul Wathan untuk meneguhkan kembali jati dirinya sebagai penjaga nilai-nilai keislaman, kemuhammadiyahan dan keIndonesiaan
Boedi Oetomo memperjuangkan kemajuan bangsa melalui jalur pendidikan. Demikian pula Hizbul Wathan menaruh perhatian besar pada pendidikan karakter dan moral. Dalam konteks sekarang, kebangkitan tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kualitas manusia dan moral generasinya.
Hizbul Wathan membina kader-kader muda agar menjadi insan yang beriman, berilmu dan beramal. Pendidikan yang diberikan melalui latihan kepanduan, pengabdian masyarakat, hingga latihan kepemimpinan adalah upaya nyata Hizbul Wathan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan siap menghadapi tantangan global.
Islam telah mengajarkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Dalam Hizbul Wathan, nilai ini menjadi salah satu ruh utama gerakan. Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa membela bangsa adalah bagian dari pengabdian kepada Allah Swt. Kader Hizbul Wathan diajarkan untuk mencintai negerinya, melindungi lingkungan, menjaga persatuan, dan menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat.
Sebagaimana semangat para pendiri bangsa yang mengedepankan persatuan di atas perbedaan, Hizbul Wathan pun berkomitmen untuk membina kader yang toleran, inklusif, dan terbuka dalam pergaulan, tanpa kehilangan jati diri keislamannya.
Kebangkitan masa kini bukan lagi melawan penjajahan fisik, tetapi melawan penjajahan gaya hidup, arus informasi yang merusak moral, serta berbagai tantangan sosial yang kompleks. Di sinilah Hizbul Wathan dituntut untuk berinovasi dalam metode pendidikan dan pembinaan, agar kadernya mampu menjadi pelopor kebaikan di tengah derasnya perubahan zaman.
Di era digital, kader HW tidak cukup hanya mahir dalam baris-berbaris atau menyanyikan mars Hizbul Wathan, tetapi juga harus melek teknologi, cerdas bermedia sosial dan produktif dalam menciptakan karya. Pandu Hizbul Wathan harus hadir di ruang-ruang digital sebagai penjaga akhlak dan penyebar nilai-nilai Islam yang mencerahkan.
Kader Hizbul Wathan hari ini adalah pemimpin masa depan. Dalam dirinya harus tertanam nilai-nilai keikhlasan, kedisiplinan, keteladanan, dan semangat pengabdian. Hari Kebangkitan Nasional menjadi momen untuk meneguhkan kembali tekad bahwa kader Hizbul Wathan bukan hanya “penonton” sejarah, tapi harus menjadi pelaku sejarah, pembaharu masyarakat, dan pelanjut perjuangan para pendahulu.
Pandu Hizbul Wathan bukan organisasi eksklusif yang hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, tetapi harus hadir di tengah umat, memberi solusi, mendidik, menggerakkan dan menolong mereka yang membutuhkan. Pandu Hizbul Wathan siap menolong dan wajib berjasa. Itulah moto yang harus benar-benar hidup dalam diri setiap kader Pandu Hizbul Wathan.
Napas kebangkitan yang tertanam dalam sejarah Hizbul Wathan bukan hanya kenangan masa lalu, tetapi juga energi yang terus menghidupkan semangat perjuangan hari ini. Dari semangat KH. Ahmad Dahlan mendidik pemuda melalui kepanduan, hingga kiprah kader Hizbul Wathan di berbagai lini kehidupan, semuanya menunjukkan bahwa Hizbul Wathan adalah bagian tak terpisahkan dari denyut kebangkitan umat dan bangsa.
Maka menjadi tugas kita hari ini untuk menjaga, merawat, dan meneruskan napas kebangkitan itu—dengan gagasan yang mencerahkan, karya yang membumi, dan akhlak yang membimbing arah perubahan ke jalan yang benar. Hizbul Wathan bangkit, bukan hanya untuk berdiri, tetapi untuk berjalan bersama umat dan bangsa menuju masa depan yang berkemajuan.
Mari kita jadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai pengingat bahwa perjuangan belum usai. Tugas kita sebagai kader Hizbul Wathan adalah melanjutkan perjuangan dengan ilmu, amal, dan akhlak, menuju Indonesia yang berkemajuan, bermartabat, dan diridhai Allah Swt. (*)
Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan





0 Tanggapan
Empty Comments