Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Narasi Pemuda dalam Kemelut Sejarah: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Iklan Landscape Smamda
Narasi  Pemuda dalam Kemelut Sejarah: Refleksi Hari Sumpah Pemuda
Wildan Nanda Rahmatullah. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Wildan Nanda Rahmatullah Guru sejarah SMA Muhammadiyah 1 Taman, Tim Penulis Buku Sejarah Kiai Dahlan di Jawa Timur
pwmu.co -

Tiap tanggal 28 Oktober, kita memperingatinya dengan Hari Sumpah Pemuda. Ini diawali dengan digelarnya Kongres Pemuda 2 di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Narasi pentingnya generasi muda bagi kemajuan sebuah bangsa selalu digaungkan bahkan sejak Indonesia ini baru lahir. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno pernah memberikan statement yang menggugah jiwa.

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Ucapan Sukarno itu selalu diulang dari masa ke masa, sebagai bentuk penggambaran bagaimana pemuda bisa berpengaruh dalam arah tujuan bangsa. Ia menggambarkan butuh 1000 orang tua untuk bisa melakukan hal besar. Namun, Sukarno menekankan bahwa sejumlah pemuda yang mau bergerak bisa mengguncang dunia.

Jika kita menengok bagaimana pejalanan bangsa ini, memang bisa dibilang generasi muda memiliki semangat api seperti dalam lirik lagu Rhoma Irama, “Masa muda, masa yang berapi-api”. Terkadang, semangat api mereka juga bisa disebut sebagai tindakan yang nekat. Kita ingat bagaimana generasi muda ingin Sukarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang kala itu dalam status quo pasca Jepang menerima kekalahan di Perang Asia Pasifik.

Karena Sukarno menolak tuntutan tersebut, para pemuda nekat menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok yang masuk wilayah Karawang, Jawa Barat. Hasilnya? Sukarno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kita ulik lebih jauh di tahun 1998, ketika praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme semakin merajalela, generasi muda yang menyerukan keadilan secara lantang di jalanan. Hasilnya? Suharto menyatakan mengundurkan diri setelah suara mahasiswa semakin masif, kerusuhan di berbagai tempat, hingga jatuhnya korban jiwa.

Perselisihan antara generasi muda dengan generasi tua sudah tak terelakkan. Semangat persatuan dan kesatuan sudah diawali oleh pemikiran nasionalis dari para pelajar STOVIA yang diimplementasikan dalam organisasi Budi Utomo di tahun 1908. Namun, perlu dicatat bahwa bagaimana bentuk kesatuan negara yang akan berdiri nanti harus melewati perdebatan yang panjang. Sosok seperti Sukarno, Hatta, dan Sutan Syahrir memiliki prinsip-prinsip tersendiri dalam memikirkan bentuk negara Indonesia. Satu ingin menjadi negara republik presidensial, sementara satunya ingin menjadi negara parlementer.

Kita mengenal Sutan Syahrir sebagai sosok yang penuh semangat dan berapi-api. Ketika Sukarno menolak memproklamasikan kemerdekaan setelah pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki, Syahrir yang mendesak kedua tokoh tersebut segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Keberadaan generasi muda memang seringkali menjadi tumpuan dan harapan sebuah bangsa. Indonesia mendapatkan bonus demografi yang tidak bisa dihiraukan begitu saja. Kita memiliki 69,51% populasi yang masih masuk dalam usia produktif. Dari data tersebut, sangat disayangkan jika pemerintah tidak memanfaatkannya dengan benar. Sebagai contoh saja di tahun 2025, jumlah sarjana (S1) di Indonesia mencapai sekitar 1,85 juta orang yang mayoritasnya berasal dari generasi Z.

Yang menjadi pertanyaan besar, apakah generasi Z dan alpha bisa memenuhi harapan bangsa sebagaimana narasi sejarah yang berjalan di Indonesia selama ini? Apakah generasi muda masih bisa diharapkan? Sering berseliweran di media sosial terkait bagaimana gen Z dan alpha yang mengalami brainrot akibat terlalu sering memandang gadget. Selain itu, ada berbagai kabar kurang mengenakkan terkait bagaimana generasi muda sekarang yang tidak memiliki adab terhadap orang yang lebih tua.

Di Hari Sumpah Pemuda ini, kita perlu melakukan refleksi lebih jauh. Di satu sisi mungkin generasi Z yang menduduki usia produktif dan menjadi bonus demografi Indonesia tampak kurang menjanjikan. Namun, di sisi lain, mereka menyimpan potensi besar sebagai generasi yang lebih aware terhadap sebuah isu. Sebagai contoh saja, generasi muda beberapa waktu lalu mengibarkan bendera One Piece sebagai bentuk protes terhadap pemerintah karena berbagai kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.

Generasi muda Indonesia bukan mati. Mereka masih bisa menjadi harapan yang bisa mewujudkan Indonesia emas 2045, namun cara yang dilakukan tentunya kadang tak sesuai dengan pola pikir generasi sebelumnya. Di Hari Sumpah Pemuda ini, kita merenungi banyak hal. Narasi perjalanan sejarah kita seringkali memasang harapan besar pada generasi selanjutnya. Namun perlu dicatat, terkadang harapan itu harus menyesuaikan nilai yang dipasang generasi sebelumnya. Meski nilai yang dipasang berbeda, namun antara generasi muda dan yang lebih tua memiliki tujuan yang sama, agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu