Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nobar Film G30S PKI di MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng, Tanamkan Kesadaran Sejarah dan Spirit Keislaman

Iklan Landscape Smamda
Nobar Film G30S PKI di MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng, Tanamkan Kesadaran Sejarah dan Spirit Keislaman
Siswa MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng nobar film G30S PKI. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah G30S PKI, siswa MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng mengadakan kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter G30S PKI pada Senin (6/10/2025).

Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang bermakna bagi siswa agar memahami sejarah kelam bangsa dan menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus semangat menegakkan nilai-nilai Islam.

Belajar Sejarah dengan Cara Menyenangkan

Guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng, Moch Hidayatul Rizky, memimpin langsung kegiatan nobar tersebut.

Ia mengajak seluruh siswa kelas 6, baik putra maupun putri, untuk bersama-sama menyaksikan film G30S PKI dan berdiskusi mengenai isi ceritanya.

Menurutnya, generasi muda saat ini perlu mendapatkan informasi yang benar dan mendalam tentang peristiwa G30S PKI.

“Banyak anak muda sekarang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam berdarah itu. Mereka lebih mengenal game dan media hiburan dibanding sejarah bangsanya sendiri,” ujar Ustadz Rizky di sela kegiatan.

Beliau menambahkan, film dokumenter ini menjadi jembatan bagi siswa untuk mengenal kembali perjuangan para pahlawan yang mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman ideologi yang menentang nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

“Melalui film ini, kita belajar bahwa kejahatan dan kekejaman PKI terhadap rakyat Indonesia bukan hanya fakta sejarah, tetapi juga peringatan agar kita tidak mudah terpengaruh oleh ideologi yang menyimpang dari ajaran Islam dan Pancasila,” tegasnya.

Menghidupkan Nilai Nasionalisme dan Keteladanan

Suasana nobar berlangsung khidmat namun interaktif. Para siswa menyimak setiap adegan film dengan penuh perhatian. Beberapa tampak terharu ketika melihat penggambaran perjuangan para korban dan ulama yang tetap teguh mempertahankan keimanan di tengah ancaman kekejaman PKI.

Ustadz Rizky memanfaatkan momen tersebut untuk menjelaskan konteks sejarah dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ia juga menekankan nilai moral yang dapat diambil dari peristiwa tersebut, seperti pentingnya kejujuran, keberanian, dan keistiqamahan dalam mempertahankan kebenaran.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Sebagai generasi penerus, kalian harus tahu siapa tokoh-tokoh yang berjuang membela bangsa ini, bukan hanya dari senjata, tapi juga dari akidah dan moral,” jelasnya di depan para siswa.

Menariknya, setelah pemutaran film, beberapa siswa diminta untuk menyimpulkan isi cerita dan makna yang mereka peroleh. Salah satu siswi dengan penuh percaya diri mengungkapkan bahwa peristiwa G30S PKI merupakan pengkhianatan terhadap bangsa dan bukti pentingnya menjaga keimanan kepada Allah SWT.

“Kalau kita tidak tahu sejarah, nanti bisa lupa sama perjuangan orang-orang yang mempertahankan agama dan negara,” ujar siswi tersebut dengan nada polos namun penuh makna.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan seluruh peserta. Guru dan siswa sama-sama merasa bahwa kegiatan tersebut bukan hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar menanamkan nilai moral dan spiritual yang menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah.

Menumbuhkan Generasi yang Cinta Islam dan Bangsa

Dalam ceramah penutupnya, Ustadz Rizky kembali menegaskan bahwa memahami sejarah bukan sekadar hafalan tahun dan tokoh, tetapi tentang menghayati makna perjuangan dan nilai keikhlasan.

“Generasi hari ini tidak boleh buta sejarah. Karena dari sejarah kita bisa belajar bagaimana para ulama dan pahlawan istiqamah menegakkan agama Islam di jalan Allah SWT,” tuturnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa melupakan sejarah berarti mengulang kesalahan yang sama. Oleh sebab itu, kegiatan semacam ini perlu terus digalakkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai bagian dari pendidikan karakter yang memadukan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

“Kalau bukan kita yang menjaga sejarah bangsa dan perjuangan para ulama, siapa lagi? Maka mulai sekarang, jadilah generasi yang tidak hanya pandai, tetapi juga berjiwa kuat, cinta tanah air, dan taat kepada Allah,” pesannya.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu