Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nota Kesepahaman MUI dan Mufti Kazakhstan Terkait Dakwah Islam Rahmatan Lil Alamin

Iklan Landscape Smamda
Nota Kesepahaman MUI dan Mufti Kazakhstan Terkait Dakwah Islam Rahmatan Lil Alamin
Delegasi dari MUI dan Mufti Kazakhstan di Astana, Kazakhstan. Foto: Fuad/PWMU.CO
pwmu.co -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Spiritual Muslim Kazakhstan (Muftyat) meneken nota kesepahaman (MoU) pada Rabu, 17 September 2025. Penandatanganan yang dilakukan pada momen VIII Congress of Leaders of World and Traditional Religions di Astana, Kazakhstan, bertujuan untuk mengembangkan dakwah Islam di kedua negara.

Beberapa hal yang telah disepakati dalam MoU tersebut yaitu:

1) Dakwah Islam Wasathiyah yang mengutamakan nilai risalah Islam Rahmatan Lil Alamin, dan mencegah ekstremisme dan radikalisme agama;

2) Bidang Fatwa melalui tukar menukar informasi, seminar, riset dan penerbitan masalah-masalah Syariah;

3) Mengembangkan dialog antar agama dan peradaban di kedua negara;

4) Pertukaran pengalaman antar ulama, cendekiawan muslim, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda antara Kazakhstan dan Indonesia;

5) Bersama-sama memanfaatkan potensi Kecerdasan Buatan (Al) dalam mempromosikan nilai-nilai Islam;

6) Penelitian dan publikasi bersama; dan

7) Webinar, diskusi, simposium, dan lokakarya.

Suasana VIII Congress of Leaders of World and Traditional Religions di Astana, Kazakhstan. Foto: Fuad/PWMU.CO

Wakil Ketua Umum MUI, Buya Dr. Anwar Abbas sangat mengapresiasi acara VIII Congress of The Leaders of World and Traditional Religions ini.

“Kegiatan ini sangat bagus. Para delegasi dengan para pemimpin dunia, pemimpin agama, dan pemimpin pemerintah dari berbagai negara. Kongres ini juga memberikan kesempatan para delegasi untuk saling belajar dan sharing masalah yg terkait agama, sosial, dan politik dengan pemimpin-pemimpin yang lain.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tema yang diangkat dalam plenary session tentang Dialogue of Religions: Synergi for Future juga sangat menarik. Kita bisa mengevaluasi, apa yang terjadi terkait konflik antar umat beragama, peran tokoh agama, dan apa agenda kedepan,” ujar Buya Anwar.

Buya Anwar juga menyampaikan kesenangannya bisa berkunjung ke Astana.

“Ini merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Astana dan Kazakhstan. Saya terkesan dengan kebersihan dan keteraturan kota ini. Juga impressive dengan keramahtamahan orang-orang Kazakhstan. Semoga MoU antara MUI dan Muftihat Kazakhstan segera bisa terlaksana dengan baik. MoU ini sangat penting sebagai sarana memperkuat hubungan Indonesia-Kazakhstan di masa depan,” ujar Buya yang juga Ketua PP Muhammadiyah itu.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman juga menyampaikan apresiasinya atas kerjasama tersebut.

“Selamat atas penandatangan MoU antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muftiyat Kazakhstan. Kerjasama kedua lembaga dengan penduduk mayoritas muslim tersebut sebagai bukti semakin majunya hubungan antara Indonesia dan Kazakhstan. Kami berterimakasih atas kedatangan Buya Anwar Abbas dan Mas Fuad Fanani di VIII Congress of The Leaders of World and Traditional Religions ini sebagai bagian dari ikhtiar memajukan diplomasi budaya Indonesia di Kazakhstan dan dunia,” ucap Dubes Fadjroel.

Anggota delegasi Indonesia, Dr. Ahmad Fuad Fanani pada kesempatan tersebut menilai bahwa VIII Congress of the Leaders of World and Traditional Leaders di Astana ini sangat strategis.

“Forum internasional ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Saya dapat melihat langsung para tokoh agama dan pemimpin dunia berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan global. Forum ini juga mengingatkan akan pentingnya a call for action untuk melindungi religious sites dari perbuatan tidak beradab dan tidak bertanggung jawab. Saya juga banyak belajar dari plenary session yang membahas ‘Dialogue of Religions: Synergy for the Future‘. Dalam sesi tersebut, para pemimpin dunia menyampaikan refleksi, pandangan kritis, dan rekomendasi terkait isu agama, sosial, politik, dan kemanusiaan global,” ,” kata dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Alumni The Australian National University (ANU) Canberra ini juga berharap semakin banyak peserta dari Indonesia yang berpartisipasi pada kegiatan selanjutnya.

“Saya bisa hadir dalam acara penting di Astana ini karena diajak oleh Buya Dr. Anwar Abbas. Saya setuju dengan pendapat dan harapan Buya Anwar bahwa kedepan jumlah delegasi Indonesia agar bisa bertambah. Sehingga Indonesia bisa semakin mewarnai forum-forum tingkat dunia. Saya juga berterima kasih kepada Duta Besar Indonesia di Astana dan segenap staf KBRI Astana yang sudah menyambut dengan hangat dan mendampingi kami selama di Astana”, tutur Fuad yang juga Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) ini.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu