Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Orang Madura Jadi Ketua Muhammadiyah Jatim

Iklan Landscape Smamda
Orang Madura Jadi Ketua Muhammadiyah Jatim
Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim.

Ada anekdot lama tentang Muhammadiyah di Madura. “90 % orang Madura itu agamanya Islam, sementara 10 %-nya Muhammadiyah”. Tentu anekdot ini tidak benar. Apalagi di zaman sekarang. Tapi ia menggambarkan perkembangan dakwah Muhammadiyah di Madura memang tidak sekencang daerah lainnya.

Namun, ada keistimewaan orang Madura dalam kepemimpinan Muhammadiyah Jatim. Tercatat, ada satu putra asli Madura yang pernah menjadi Ketua Muhammadiyah Jatim. Setara dengan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), jika dipadankan dengan istilah keorganisasian hari ini.

Namanya, KH Oesman Muttaqin. Tercatat dalam buku sejarah babon Menembus Benteng Tradisi, ia adalah Ketua Muhammadiyah Jatim periode 1965 hingga 1968. Struktur organisasi saat itu bernama Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PMW), menggantikan istilah sebelumnya Majelis Perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah Jatim.

Istilah PMW yang dihasilkan Muktamar Bandung 1965 ini kemudian berganti menjadi PWM dalam Muktamar 1985.

Oesman Muttaqien kelahiran Pamekasan, Madura. Lahir pada 9 April 1914. Bapaknya bernama Wironolo Muttaqien, seorang pegawai pemerintahan di Pamekasan. Masa kecil Oesman dihabiskan di tanah kelahirannya, termasuk menamatkan sekolah Hollandsch Inlandsch School (HIS).

Setelah menikah dengan wanita asli Sumenep yang bernama Kamariya, pada 1944, ia hijrah ke Surabaya. Tapi ia langsung disibukkan dengan angkat senjata dalam perang 10 November 1945.

Termasuk harus mengungsi ke Malang. Barulah pada 1949, Oesman kembali ke Surabaya dan menetap di daerah Pacar Keling.

Aktif di Muhammadiyah Cabang Surabaya Timur, Oesman juga tercatat sebagai ketuanya. Beberapa amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang berdiri pada zamannya adalah Panti Asuhan Yatim (PAY) Muhammadiyah di Jl. Gersikan, serta merintis pendirian Klinik Sitti Aisyiyah Pacar Keling.

Selain aktif di Muhammadiyah, Oesman juga aktif di partai politik. Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Dalam Pemilu pertama dan terdemokratis di Indonesia, 1955, dia diutus oleh partainya untuk duduk di Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) Surabaya.

Lembaga semacam Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Kota Surabaya, hingga partai Masyumi dipaksa-bubarkan oleh Presiden Soekarno pada 1960.

Oesman tercatat sebagai aktivis Muhammadiyah yang paling memahami seluk-beluk PKI. Untuk mengetahui detail pergerakan PKI, pada 1964, dia mengirim-menyusupkan 2 kader muda Muhammadiyah ke perkaderan PKI. M. Sholeh Marzuki dan Duryat dikirim ke “Kursus Kader Revolusi” di Jakarta.

Sepulang dari kursus, keduanya banyak memberi info kepada Oesman tentang sepak terjang PKI. Termasuk mempersiapkan segala antisipasinya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dalam rentang yang dekat antara Muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung dan Gerakan 30 S/PKI, Muhammadiyah Jatim mengadakan pergantian kepemimpinan.

Ketua Muhammadiyah Jatim sebelumnya, M. Sholeh Ibrahim, kesehatannya menurun usai pulang dari Muktamar Bandung yang diselenggarakan pada 20-25 Juli 1965 itu.

Pergantian itu bertempat di Gedung Pendidikan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) di Jl. Gentengkali. Peserta rapat sepakat mendaulat Oesman Muttaqien sebagai Ketua dengan A. Latief Malik sebagai Sekretaris.

Sementara anggota PMW lainnya adalah dr Daldiri Mangoendirwirdja, S.U. Bayasyut, H Sholahudin, H Machin, Ismail Abukasim, Isngadi, dan Turchan Badri.

Sementara yang duduk sebagai penasehat adalah dr Moch. Soewandhi, yang namanya diabadikan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Surabaya.

Kepemimpinan Oesman berlangsung hingga akhir 1968, dan digantikan oleh KH M. Anwar Zain. Pada tahun itu, dia diamanahi sebagai anggota DPR RI dari Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Dia merasa tidak mungkin bisa mengurus Muhammadiyah Jatim dengan kondisi bolak-balik Jakarta-Surabaya.

Tepat beberapa pekan usai Muktamar ke-37 di Yogyakarta 1968, diadakan pemilihan kepemimpinan PWM baru. Melalui rapat di Gedung PTDI Gentengkali, dia pun kepemimpinannya sebagai Ketua PWM Jatim berganti.

Purna tugas sebagai anggota DPR RI seiring digelarnya Pemilu 1971, Oesman lebih banyak berkegiatan di AUM tempat tinggalnya. Bertempat tinggal di Jl. Mendut no 3, (kini rumahnya sudah berpindah tangan) dia banyak menghabiskan kegiatan di Panti Muhammadiyah Jl. Gersikan. Putra Madura ini wafat pada 25 November 1977, dan dimakamkan di Pemakaman Umum Ngagel.

Kembali ke ankedot Madura, sesungguhnya Ketua PWM adalah Oesman Muttaqin. Adapun KH M. Anwar Zain, KH Abdurrahim Nur, Prof Fasichul Lisan, Prof Syafiq A. Mughni, Prof Thohir Luth, Dr Saad Ibrahim, hingga Prof Sukadiono, hanyalah pengganti Ketua PWM. Ketuanya tetap orang Madura. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡