Momen Lebaran yang identik dengan silaturahmi dan interaksi antar keluarga justru menyimpan potensi bahaya penularan penyakit menular, salah satunya campak.
Tingginya mobilitas masyarakat saat mudik serta intensitas pertemuan dalam suasana penuh keakraban dinilai dapat mempercepat penyebaran virus, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.
Mobilitas Lebaran Tingkatkan Risiko Penularan
Meningkatnya mobilitas masyarakat saat momen Lebaran turut memunculkan kewaspadaan baru di bidang kesehatan.
Keramaian selama mudik hingga tradisi silaturahmi keluarga dinilai berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, salah satunya campak.
Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi tersebut.
Pakar UMM Ingatkan Bahaya Campak
Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus dokter spesialis anak, Dr. dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc., Sp.A, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak.
Menurutnya, virus campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat mudah menyebar di lingkungan dengan interaksi sosial yang tinggi.
Pertiwi menjelaskan bahwa penularan campak dapat terjadi melalui percikan droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara.
Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu setelah penderita meninggalkan ruangan, sehingga meningkatkan risiko penularan di ruang tertutup.
“Mobilitas masyarakat saat mudik memang dapat meningkatkan potensi penyebaran campak, terutama karena banyak interaksi di ruang tertutup seperti transportasi umum maupun kerumunan keluarga,” jelasnya pada 17 Maret lalu kepada Tim Humas UMM.
Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Ia menambahkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah tertular ketika berada di lingkungan yang padat interaksi sosial.
Selain faktor imun, kondisi nutrisi juga memengaruhi ketahanan tubuh anak terhadap infeksi.
Kekurangan nutrisi tertentu dapat memperburuk kondisi ketika anak terpapar virus campak, bahkan pada beberapa kasus dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf.
Hindari Kontak Langsung dengan Bayi
Di sisi lain, kebiasaan masyarakat saat Lebaran juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit.
Banyak orang secara spontan menggendong atau mencium bayi ketika bertemu dalam acara silaturahmi, padahal hal tersebut berisiko terhadap kesehatan anak.
Menurut Pertiwi, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dibatasi demi melindungi bayi dari paparan penyakit menular.
“Kebiasaan memeluk, menggendong, atau mencium bayi dapat meningkatkan peluang penularan penyakit yang menyebar melalui droplet,” ujarnya.
Kenali Gejala dan Segera Tangani
Apabila seorang anak terpapar virus campak, gejala biasanya tidak langsung muncul karena terdapat masa inkubasi sekitar 10 hingga 12 hari.
Setelah itu, anak dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit.
Pada fase awal tersebut, anak sudah dapat menularkan virus kepada orang lain sehingga perlu penanganan cepat.
Karena itu, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala yang mengarah pada campak.
Imunisasi Jadi Perlindungan Terbaik
Pertiwi menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal.
Imunisasi membantu tubuh membentuk perlindungan yang kuat terhadap virus campak serta menurunkan risiko komplikasi yang lebih berat.
“Imunisasi campak adalah perlindungan terbaik agar anak memiliki imunitas yang kuat dan terhindar dari komplikasi berat,” tuturnya.
Edukasi Kesehatan Saat Lebaran
Melalui edukasi kesehatan yang terus dilakukan, UMM berharap masyarakat semakin memahami bahwa interaksi selama Lebaran perlu disikapi dengan bijak.
Dengan menjaga kebersihan, membatasi kontak langsung dengan anak kecil, serta memastikan imunisasi lengkap, keluarga tetap dapat merayakan Lebaran dengan aman tanpa mengabaikan risiko penularan penyakit.





0 Tanggapan
Empty Comments