Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pakar UMS Ingatkan Ancaman Virus Nipah, Indonesia Masuk Negara Berisiko

Iklan Landscape Smamda
Pakar UMS Ingatkan Ancaman Virus Nipah, Indonesia Masuk Negara Berisiko
Ilustrasi: bloombergtechnoz.com
pwmu.co -

Kementerian Kesehatan menerbitkan edaran kewaspadaan virus Nipah menyusul dua kasus penularan di Benggala Barat, India. Indonesia termasuk negara berisiko karena memiliki reservoir alami kelelawar buah, sehingga penguatan surveilans dan pendekatan lintas sektor menjadi langkah mendesak untuk mencegah lonjakan kasus.

Dua kasus penularan virus Nipah itu dialami oleh tenaga kesehatan di Distrik North 24 Parganas, Negara Bagian Benggala Barat.

Kendati kasus tersebut tanpa kematian, pemerintah setempat segera melakukan karantina terhadap 120 orang yang berkontak erat dengan pasien.

Kantor berita BBC melaporkan temuan kasus virus Nipah di India telah membuat sejumlah negara di Asia memperketat skrining di pintu kedatangan bandara. Negara seperti Singapura, Thailand, hingga Taiwan telah memasang alat pendeteksi suhu tubuh di bandara utama mereka.

Menteri Kesehatan Thailand Phatthana Phromphat mengatakan langkah pencegahan yang diterapkan di bandara sesuai dengan instruksi Perdana Menteri Anutin Charnvirakul.

Para pejabat kesehatan mengatakan mereka yakin langkah-langkah tersebut cukup untuk mencegah wabah. Hampir 700 pelancong tiba di tiga bandara tersebut setiap hari melalui penerbangan dari Kolkata.

“Jika ada kasus yang dicurigai di bandara, orang tersebut akan dikarantina dan hasil tes yang relevan akan diketahui dalam delapan jam,” katanya.

Virus Nipah adalah virus yang berasal dari kelelawar buah dari genus Pteropus. Virus ini pertama kali teridentifikasi pada sebuah peternakan babi di desa dekat Sungai Nipah, Malaysia, pada 1998-1999.

Kasus virus Nipah pada manusia tercatat di India, Bangladesh, dan Filipina sepanjang 2001 hingga 2026.

Di Indonesia, virus Nipah terdeteksi pada 2023 dalam penelitian gabungan antara Universitas Gadjah Mada, Society for the Promotion of Science, dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Penelitian saat itu menemukan virus Nipah pada kelelawar buah di Sulawesi. Kendati demikian, belum ada bukti terkait penularan virus Nipah kepada manusia di Indonesia.

Sesuai namanya, kelelawar buah merupakan hewan pemakan buah. Habitat alaminya adalah hutan tropis yang membentang di dekat ekuator. Namun, perubahan habitat kelelawar buah, seperti penebangan hutan, mendorong hewan nokturnal itu bergeser ke area pemukiman dan peternakan. Hal ini membuat risiko penularan pada manusia meningkat.

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Noor Alis Setiyadi, SKM., MKM, Ph.D, mengatakan reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah.

“Virus kemudian ditularkan melalui hewan ternak dan kemudian ke manusia,” kata Alis, Rabu (11/2/2026).

Penularan utama virus Nipah, kata Alis, bersifat zoonosis atau dari hewan ke manusia. Infeksi dapat melalui kontak langsung dengan kelelawar atau hewan ternak yang terinfeksi, konsumsi buah yang terkontaminasi liur atau urin kelelawar, hingga mengonsumsi hewan ternak yang terkontaminasi virus Nipah.

Virus juga dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui droplet saat batuk atau bersin dan kontak erat dengan cairan tubuh. Pola penularan ini terjadi pada kasus di India dan Bangladesh.

“Pola penyebaran ini banyak terjadi di rumah sakit atau keluarga pengasuh,” jelasnya.

Gejala virus Nipah menyerupai infeksi virus umum, yakni demam, sakit kepala, nyeri otot, mual atau muntah, sakit tenggorokan, batuk, hingga sesak napas.

Jika infeksi berlanjut, virus dapat menyerang saraf pusat dan menyebabkan ensefalitis akut. Gejalanya meliputi kantuk berlebihan, pusing, penurunan kesadaran, kejang, koma, hingga kematian dalam 24-48 jam pada kasus berat.

“Tingkat kematian akibat virus ini mencapai 40-75 persen. Pada beberapa wabah tertentu di Asia Selatan, tingkat fatalitas ini dilaporkan bahkan dapat melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 90 persen,” ujar Alis.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pakar UMS Ingatkan Ancaman Virus Nipah, Indonesia Masuk Negara Berisiko
Risiko Virus Nipah di Indonesia

Kekhawatiran penularan virus Nipah merebak seiring bertambahnya sejumlah negara yang memperketat pengawasan di sejumlah pintu kedatangan bandara. Hal ini muncul sebab dunia belum lama usai dari pademi Covid-19. Tak heran jika sebagian masyarakat dunia was-was mengenai ancaman pandemi berikutnya.

Alis mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia telah mengklasifikasikan Indonesia sebagai negara berisiko (kategori B) terhadap merebaknya virus Nipah karena memiliki reservoir alami kelelawar buah.

“Reservoir alami ini juga banyak dijumpai di Malaysia, India, dan Bangladesh. Faktor kedekatan geografis antara negara-negara endemis ini juga meningkatkan risiko virus Nipah,” imbuh dia.

Faktor perilaku sosial masyarakat, kata Alis, juga mendorong peningkatan risiko penyebaran virus Nipah di Indonesia. Kebiasaan mengonsumsi nira mentah dapat berisiko jika air nira telah terkontaminasi kelelawar buah. Di samping itu, perdagangan satwa liar pada sejumlah pasar tradisional juga berisiko pada penularan virus Nipah ke manusia.

“Kerentanan ini semakin meningkat akibat rendahnya standar biosekuriti pada peternakan babi rakyat. Hal ini akan berpotensi menjadi inang perantara dalam rantai penularan virus Nipah dari kelelawar ke manusia,” tambahnya.

Cegah Virus Nipah

Pandemi Covid-19 yang belum lama usai seharusnya menjadi pelajaran bagi potensi wabah di kemudian hari. Alis mendorong pemerintah untuk mengadopsi pendekatan One Health secara komprehensif. Pendekatan ini akan mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Tujuannya agar memitigasi risiko loncatan zoonosis virus Nipah.

Langkah penguatan surveilans, Alis meneruskan, perlu dilakukan di pintu masuk negara. Caranya dengan memasang pemindai suhu tubuh dan pemantauan deklarasi kesehatan bagi pelaku perjalanan dari negara terjangkit.

“Di level domestik, pemerintah harus mengoptimalkan penemuan kasus melalui pelaporan sindrom pernapasan akut berat dan sindrom meningoensefalitis akut di berbagai fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Kapasitas laboratorium rujukan nasional untuk deteksi molekuler harus ditingkatkan. Hal ini akan berguna untuk mengonfirmasi kasus secara cepat dan akurat. Edukasi kepada masyarakat juga harus dikedepankan agar masyarakat mengenal bahaya virus Nipah dan jalur penularannya.

Penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai harus segera dilakukan. Tujuannya agar tidak terjadi kasus pasien yang membludak dan membuat tenaga kesehatan kewalahan.

“Pelembagaan tim gerak cepat lintas sektor yang terlatih sangat penting untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pelacakan kontak erat segera setelah rumor kasus terdeteksi,” kata Alis.

Kesadaran masyarakat, Alis menjelaskan, juga sangat penting untuk memutus rantai penyebaran virus Nipah. Masyarakat harus menghindari konsumsi nira mentah langsung dari pohonnya. Sebaliknya, nira harus dimasak sampai matang sebelum dikonsumsi oleh masyarakat.

Pola konsumsi buah juga harus ditata kembali. Caranya dengan mencuci buah, mengupas, dan memasak buah-buahan secara menyeluruh. Masyarakat harus membuang buah jika menemukan tanda-tanda bekas gigitan kelelawar.

Sejumlah hal lain yang dapat dilakukan, meliputi mencuci tangan teratur, serta hindari kontak fisik tanpa alat pelindung diri dengan hewan ternak bergejala, sarang kelelawar, dan manusia yang terpapar virus. Keluarga dan kerabat yang merawat pasien harus menerapkan protokol pencegahan dan pengendalian infeksi yang ketat.

Apabila seseorang mengalami gejala seperti demam, sakit kepala hebat, atau gangguan pernapasan setelah melakukan kontak dengan hewan atau penderita, sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tandas Alis. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu