Di tengah gegap gempita olahraga modern yang kompetitif, panahan muncul sebagai alternatif yang tak hanya mengasah fisik, tetapi juga mendekatkan diri pada nilai-nilai spiritual.
Bagi Abdu Robbir Rosoul Kariim, pengurus Pimpinan Pusat Panahan Muhammadiyah atau yang lebih dikenal dengan sebutan PanahMu, panahan lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah sunah Rasul, sarana ibadah, dan jalan untuk membentuk karakter.
“Panahan itu sunah. Nilainya ibadah, tapi manfaatnya juga sangat luas, mulai dari ketenangan mental hingga kekuatan fisik,” ungkap Kariim pada Rabu (6/8/2025).
Panahan kini tak lagi terbatas pada kalangan dewasa. Anak-anak sudah bisa mulai belajar sejak usia 4 tahun. Durasi latihan umumnya berkisar antara satu hingga dua jam per sesi, dilakukan satu sampai dua kali seminggu.
Bagi mereka yang serius mengejar prestasi, latihan bisa berlangsung hingga empat kali seminggu dengan durasi dua sampai tiga jam per sesi.
Jenis panahan yang diajarkan meliputi gaya tradisional dan modern atau Olympic Style. Untuk kategori modern, digunakan busur berwarna putih dengan tangkai hitam sebagai alat penstabil.
Teknik penggunaannya pun mengutamakan efisiensi dan fokus, dengan waktu maksimal tiga detik untuk melepaskan anak panah setelah membidik.
Kompetisi panahan diselenggarakan berdasarkan kategori usia 10, 13, 15, dan 18 tahun, ditambah kategori umum bagi peserta dewasa.
Kompetisi dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. “Di Jawa Tengah, antusiasmenya tinggi. Daerah ini bahkan sering menjadi langganan juara,” tutur Robbir.
Tak hanya di luar sekolah, panahan juga mulai diperkenalkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah. Keberhasilannya tentu bergantung pada kesiapan sekolah dalam menyediakan lokasi latihan dan kelengkapan alat sebagai bagian dari program co-curricular activity (CCA).
Perihal keamanan, khususnya bagi anak-anak, panitia dan pelatih menaruh perhatian serius. Permainan kreatif seperti pop the balloon digunakan untuk menjaga semangat dan melatih keterampilan secara menyenangkan.
Pelatih juga bertugas menjaga suasana hati anak agar tetap nyaman selama latihan, dengan menjalin komunikasi aktif bersama orang tua.
“Pelatih itu bukan cuma ngajar teknik, tapi juga harus paham psikologi anak. Makanya, peran orang tua dalam mendampingi dan memantau itu sangat penting,” jelasnya.
Selain sebagai cabang olahraga prestasi, panahan juga dikembangkan sebagai wadah rekreasi yang edukatif dan menghibur.
Popularitas panahan mulai tumbuh sejak tahun 1990-an, dan kini berkembang pesat dengan adanya pelatihan formal serta sertifikasi pelatih sebagai standar profesionalisme.
Dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, panahan bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah bentuk latihan jiwa, konsentrasi, dan pengendalian diri—sebuah perjalanan spiritual dalam balutan olahraga yang sederhana, namun mendalam. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments