Pengajian Ahad Pagi (PAP) Khoirunnas Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muncar, Banyuwangi menerangkan alasan potensi besar perbedaan terkait penetapan awal Ramadan 1447 Hijriyah dengan yang lain, Ahad (15/2/2026).
Alasan tersebut dikemukakan oleh penceramah, Taufiqur Rohman, M.Pd.I. di hadapan jamaah pengajian, baik itu laki-laki maupun perempuan. Pengajian berlangsung di Masjid Darul Hikmah SMP Muhammadiyah 10 Muncar.
Tepat pukul 6.00 WIB kajian dimulai. Di awal caramah, Taufiq mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT. Karena masih diberi kesempatan untuk menghadiri kajian ini.
“Semoga hadir kita di PAP ini memberikan pencerahan dalam mengarungi kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dengan menghadiri majelis ilmu ini merupakan salah satu bentuk dari persiapan diri dalam menyongsong Ramadan yang tinggal beberapa hari ke depan.
Menurutnya memasuki Ramadan harus dengan ilmu, mulai dari persiapan hingga mengisi amaliyah selama bulan Ramadan.
“Tanpa ilmu Ramadan kita menjadi tidak berkualitas, bahkan berpotensi menyelisihi tuntunan Allah dan rasul-Nya,” ulasnya.
Alasan Perbedaan Awal Ramadan
Selanjutnya ustaz yang juga Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi itu memberikan pertanyaan kepada jamaah sambil menampilkan slide powerpoint.
“Kapankah Muhammadiyah akan memulai awal Ramadan 1447 Hijriyah?” tanya dia kepada jamaah perempuan.
Seorang ibu yang duduk di tengah-tengah jamaah perempuan dengan cekatan mengacungkan tangannya.
“Tanggal 18 Februari 2026,” jawabnya.
Kemudian Taufiq mengklik slide PPT-nya yang berisi tampilan jawaban dari pertanyaan tersebut, sekaligus membenarkan jawaban ibu itu.
Suasana PAP menjadi interaktif. Ibu itu maju ke depan untuk mendapatkan doorprize berupa buku kultum Ramadan. Suasana bertambah interaktif dengan diajukannya pertanyaan yang kedua kepada jamaah laki-laki.
“Apakah yang melandasi Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriyah bersamaan dengan tanggal 18 Februari 2026?” tanya Taufiq.
Seorang bapak yang duduk di sisi Utara masjid menjawab dengan lantang.
“Kalender Hijriah Global Tunggal,” jawabnya.
Atas jawabannya tersebut, bapak itu pun maju ke depan untuk menerima hadiah yang sama.
Selanjutnya Taufiqur Rohman menjelaskan bahwa mulai tahun 1447 Hijriyah/2026 Miladiyah, persyarikatan Muhammadiyah telah menetapkan penghitungan bulan baru berdasarkan Kalender Hijriyah Gobal Tunggal (KHGT). Dengan memandang seluruh permukaan bumi ini menjadi satu kesatuan wilayah. Sehingga berlaku satu hari satu tanggal di seluruh dunia.
Karena berdasarkan perhitungan astronomis pada tanggal 17 Februari 2026 telah terjadi konjungsi, maka keesokan harinya, yaitu pada tanggal 18 Februari 2026 ditetapkan sebagai 1 Ramadan 1447 Hijriyah. Bagi yang tidak menggunakan KHGT akan berpotensi besar terjadi perbedaan dalam penentuan bulan baru.
Pengajian yang berdurasi satu jam ini berlangsung dengan lancar. Di akhir kajian, Taufiq berpesan kepada jamaah.
“Karena ada potensi besar perbedaan dalam mengawali puasa maupun Hari Raya Idulfitri dengan yang lain, maka tetap ke depankan sikap saling menghormati,” pesannya.
Ia pun berdoa semoga jamaah diberi kemudahan oleh Allah dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments