Pengajian Ahad Pagi (PAP) di Masjid At-Taqwa Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cluring, Banyuwangi, membahas bahaya brain rot dan solusinya, Ahad (26/10/2025).
Materi pengajian disampaikan oleh Ketua Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi, Taufiqur Rohman, M.Pd.I.
Tepat pukul 06.00 WIB, pengajian dimulai. Kegiatan ini diikuti oleh jamaah masjid setempat dan warga Muhammadiyah Cabang Cluring. Di awal pengajian, Taufiqur mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu tersebut.
“Semoga pengajian ini dapat menambah wawasan keislaman kita,” ujarnya.
Ia kemudian membacakan ayat Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 yang ditampilkan melalui slide PowerPoint. Dalam ayat itu dijelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadi khalifah di bumi dengan mengemban tugas mulia, yaitu membangun peradaban dunia.
Oleh karena itu, ia mengajak jamaah memahami tujuan tersebut agar peradaban di era digital terus berkembang dan memberi kemanfaatan sesuai dengan yang diridai Allah.
“Jangan sampai yang dikhawatirkan malaikat pada ayat tersebut menjadi kenyataan, yakni dunia ini dipenuhi orang-orang yang suka membuat kerusakan dan tidak mau menggunakan akal sehatnya,” ulasnya.
Ustadz Taufiq, yang berasal dari Pandan, menegaskan bahwa peradaban digital saat ini menghadirkan tantangan baru berupa bahaya brain rot yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia menjelaskan, brain rot merupakan pembusukan akal akibat mengonsumsi konten-konten pendek yang remeh-temeh secara berulang dan terus-menerus. Bahaya yang ditimbulkan berupa menurunnya pengetahuan kognitif serta meningkatnya stres bagi penggunanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa jika orang tua membiarkan masalah ini berlanjut, hal tersebut akan membahayakan generasi muda di masa depan.
“Maka akan muncullah generasi yang tidak memiliki daya pikir kritis, analitis, dan inovatif, hal itu tentunya akan berdampak buruk bagi peradaban,” tandasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Taufiqur memberikan beberapa solusi, antara lain mendampingi anak-anak dalam menggunakan ponsel, selektif dalam memilih konten berkualitas, bermain game edukatif, membuat konten kreatif dan Islami, meningkatkan literasi, serta produktif dalam menulis.
Pengajian yang berlangsung selama satu jam ini berjalan interaktif. Kegiatan diakhiri dengan membaca hamdalah, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan nasi rawon. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments