Nama itu sama sekali tidak asing di telinga saya: Sarkam. Sebuah akronim lokal yang merujuk pada Pasar Kambing.
Bagi sebagian orang, nama ini mungkin hanya memunculkan citra keriuhan perniagaan ternak, namun bagi saya, Sarkam adalah sebuah titik legendaris di jantung kawasan Ampel yang punya makna personal.
Tempat ini dulu menjadi “kantor kedua” saya, tempat nongkrong favorit saat masih aktif berjibaku sebagai jurnalis lapangan yang memburu berita di sudut-sudut Kota Pahlawan.
Jauh sebelum bersolek menjadi pusat pernak-pernik Timur Tengah yang estetik seperti sekarang, Sarkam adalah episentrum jual-beli ternak yang riuh dan beraroma khas.
Sejak tahun 1950-an, aktivitas perniagaannya berdenyut kencang di tepi Kali Pegirian, sebelum akhirnya pemerintah kota merelokasinya ke lokasi Pasar Ampel yang kita kenal hari ini.
Kini, Sarkam telah bertransformasi menjadi kawasan ikonik yang menawarkan lebih dari sekadar sejarah. Dari kejauhan, aroma gulai kambing, nasi kebuli, dan parfum khas Arab sudah menyapa indra penciuman.
Namun, ruh dari tempat ini tetaplah deretan warung kopi (warkop) yang tak pernah sepi. Di atas meja-meja kayu yang kusam itulah, diskusi-diskusi berat lahir, strategi pergerakan dimatangkan, bahkan konon menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya tokoh-tokoh catur tangguh yang disegani di Surabaya.
Ahad (21/12/2025) sore, langkah kaki membawa saya kembali ke sana. Namun, kedatangan saya kali ini bukan untuk memburu deadline berita, melainkan mengikuti Muhammadiyah Historical Walk (MHW).
Sebuah inisiasi bernas dari Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur untuk merawat ingatan kolektif tentang akar gerakan di Surabaya.
Tidak banyak yang berubah dari sudut-sudut warkop itu. Saya masih mendapati pemandangan yang sama: deretan kursi kayu panjang atau lincak yang sudah tampak mengilap dimakan usia—sebuah tanda betapa banyaknya punggung yang telah bersandar di sana untuk bertukar ide.
Kursi-kursi itu berjajar rapat, menempel ke dinding warkop yang mulai kusam oleh jelaga asap rokok dan uap kopi yang mengepul dari tungku-tungku arang.

Di atas kursi itulah para sesepuh berpakaian koko dan anak muda berkaus oblong duduk saling berhadapan, menyilangkan kaki sambil menyesap kopi kental, persis seperti suasana puluhan tahun silam saat saya masih sering menyelinap di antara obrolan mereka.
Bagi warga lokal, Sarkam bukan sekadar tempat niaga, melainkan “laboratorium” sosial bagi organisasi Muhammadiyah. Sore itu, rombongan kami dipandu oleh sosok yang sangat kompeten: Ferry Is Mirza. Beliau adalah jurnalis senior sekaligus pemerhati sejarah yang juga merupakan putra asli kelahiran Ampel.
Sebagai kader Muhammadiyah tulen yang besar di gang-gang sempit ini, Ferry bergerak lincah memimpin rombongan. Ia menerobos lautan peziarah yang memadati jalanan arah Masjid Ampel dengan langkah pasti.
Sepanjang jalan, telunjuknya tak berhenti bergerak, menunjukkan satu demi satu rumah yang pernah—dan masih—menjadi basis kekuatan Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, hingga markas Kokam.
Langkah Ferry kerap terhenti. Bukan karena lelah, melainkan karena ia menyapa warga dengan kehangatan seorang kawan lama. Sambil bernostalgia, dia menghidupkan kembali kisah para tokoh yang dulu berdakwah dengan napas persaudaraan yang kental.
Dia menunjukkan rumah dr. Chusnul Yakin, sosok dokter yang tidak hanya mengobati fisik warga, tetapi juga mendedikasikan hidupnya untuk dakwah sosial.
Perjalanan berlanjut melewati rumah kiai-kiai sepuh hingga akhirnya Ferry berhenti di depan sebuah rumah sederhana. “Di sinilah memori saya menguat,” bisiknya.
Dia berkisah tentang ayahnya yang dulu menakhodai Ranting Muhammadiyah setempat. Darah pejuang itu mengalir deras dari kedua orang tuanya.
“Ibu saya , bersama Bu Ulfa (istri Ustaz Aunurrofiq sekaligus menantu KH Mas Mansur), adalah duo srikandi yang membidani lahirnya TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) di sini. Di tangan mereka, pendidikan anak-anak Ampel mulai mendapat sentuhan modernitas Islam.” jelas Ferry.
Dia juga mengisahkan sosok H. Moch Gazali Dalimunthe (HMG), Ketua Hizbul Wathan yang kharismatik.
“Di Sarkam inilah, HMG membesarkan organisasi kepanduan tersebut dengan pendekatan yang unik. Ia tidak sendirian; ada “Trio Bersaudara” yang legendaris: Cak Okan (Solkan), Cak Rais, dan Cak Musa, yang bahu-membahu menggerakkan masyarakat di akar rumput,” ungkap Ferry.
Salah satu warisan budaya yang paling membekas adalah Drumband Melati Putih. Unit drumband yang diinisiasi oleh HMG ini bukan sekadar urusan seni musik atau baris-berbaris.
“Ini adalah alat dakwah. Melalui musik, Muhammadiyah merangkul pemuda agar tidak terjerumus pada kegiatan negatif,” imbuh Ferry.
Memori tentang Ramadan di Sarkam juga tak kalah syahdu. Rumah Pasar Kambing Nomor 37 menjadi saksi bisu di mana saf-saf salat tarawih disusun setiap tahun.
Meski lokasinya di tengah pasar, rumah tersebut menjadi pusat spiritualitas yang mempersatukan warga dalam semangat tajdid (pembaruan), memisahkan kebisingan duniawi dengan kekhusyukan ibadah.
Rombongan kemudian bergeser ke arah Ampel Kejeron Gang I. Di sana berdiri bangunan yang dulu menjadi tempat praktik dr. Herman, Ketua PDM Surabaya yang sangat dihormati.
Di gang yang sama, dakwah Muhammadiyah diperkuat oleh Cak Syukur, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) yang dikenal gigih pasang badan mengawal umat.
Perjalanan berlanjut ke Ampel Maghfur, tempat tinggal Pak Amin, tokoh kunci PWM Jawa Timur era 60-an. Dari sini, spirit itu tersambung secara ideologis ke Masjid Taqwa di Kalimas Madya. Masjid ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol keberlanjutan estafet perjuangan.
Saat tu, kami berdiri di depan kediaman almarhum Aunurafiq Mansur. Beliau adalah cucu dari sang pahlawan nasional sekaligus tokoh besar Muhammadiyah, KH Mas Mansur.
Keberadaan keturunan KH Mas Mansur di sini menegaskan bahwa kawasan Ampel adalah tanah leluhur para pejuang Islam yang berkemajuan.
Melalui rihlah MHW ini memberikan sebuah kesimpulan penting: Muhammadiyah di Surabaya tidak lahir dan tumbuh di menara gading yang eksklusif.
Organisasi ini tumbuh di sela-sela transaksi pasar yang riuh, di gang-gang sempit yang becek, dan di ruang tamu rumah-rumah sederhana milik warga.
Sarkam atau Pasar Kambing adalah bukti autentik bahwa dakwah Islam berkemajuan bisa berkelindan harmonis dengan kearifan lokal dan denyut ekonomi rakyat.
Melalui MHW, kami diajak untuk tidak sekadar melihat bangunan tua yang kusam dimakan zaman, tetapi merasakan detak jantung para tokoh yang telah mewakafkan hidupnya demi tegaknya nilai-nilai Islam di tanah Surabaya Utara.
Sejarah itu tidak mati; ia tetap hidup di setiap hirupan kopi di warkop Sarkam dan di setiap langkah para penerus cita-cita KH Mas Mansur. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments