
PWMU.CO – Serangan udara Israel pada Kamis (17/7/2025) kembali menambah daftar panjang korban jiwa di Gaza. Sedikitnya 27 orang tewas, termasuk delapan pria yang tengah menjaga truk bantuan kemanusiaan dan satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang di Jabalia, Gaza Utara.
Tragedi ini terjadi di tengah proses perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang sedang berlangsung di Doha, Qatar. Namun, menurut pernyataan Hamas, kemajuan dalam negosiasi tersebut masih sangat minim.
Dalam serangan terpisah, tiga orang yang berlindung di Gereja Holy Family, satu-satunya gereja Katolik di Kota Gaza, juga dilaporkan tewas. Sekitar sepuluh orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk Pastor Gabriel Romanelli yang ikut terdampak dalam insiden tersebut.
Gereja Jadi Sasaran, Paus Serukan Gencatan Senjata
Dilansir dari infopop.id, Paus Leo XIV menyampaikan rasa dukacita mendalam atas serangan terhadap Gereja Holy Family yang selama ini menjadi tempat pengungsian bagi warga sipil.
“Saya sangat berduka atas hilangnya nyawa dan luka-luka yang disebabkan oleh serangan terhadap gereja Katolik, yang telah menjadi tempat perlindungan bagi para pengungsi,” ujar Paus Leo XIV dalam pernyataan resminya, seraya memperbarui seruan agar gencatan senjata segera dilakukan.
Gereja Holy Family selama berbulan-bulan menjadi salah satu titik aman bagi warga Gaza lintas agama yang menghindari gempuran konflik. Serangan terhadap tempat suci ini mengundang kecaman internasional dan menyoroti betapa krisis kemanusiaan di Gaza kian mengkhawatirkan.
Kemanusiaan di Titik Nadirs
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 58.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat ofensif Israel. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Situasi di Gaza kini berada pada kondisi darurat kemanusiaan, dengan lebih dari dua juta penduduk hidup dalam pengungsian dan menghadapi kelangkaan pangan, air bersih, dan layanan medis.
Penderitaan yang menimpa warga sipil dari berbagai latar belakang agama dan usia menjadi bukti bahwa konflik ini telah melampaui batas kemanusiaan. Serangan terhadap tempat ibadah dan pusat bantuan semakin memperparah luka yang belum kunjung sembuh.
Semoga dunia internasional segera bersatu suara untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan perdamaian serta keadilan bagi rakyat Palestina.
Kekerasan yang melukai manusia atas nama apa pun adalah luka bagi kemanusiaan itu sendiri. (*)
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan





0 Tanggapan
Empty Comments