
PWMU.CO – Langit Yogyakarta tersenyum cerah saat rombongan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan melangkah penuh semangat menapaki jejak dakwah di tanah kelahiran Muhammadiyah pada Sabtu (3/5/2025).
Pada pagi itu, sebelum memulai agenda safari dakwah, mereka menunaikan shalat Shubuh berjamaah di Masjid Gedhe Kauman, sebuah masjid bersejarah yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat, penghulu kraton pertama, dengan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya.
Namun, semangat mereka belum usai. Agenda utama hari itu adalah kunjungan ke Kantor Pusat Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro Nomor 23, Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi mereka, kantor ini bukan sekadar pusat administratif, melainkan simbol gerakan, poros dari ide, strategi, dan arah perjuangan umat.
Setibanya di lokasi, rona bahagia menghiasi wajah-wajah mereka. Momen berfoto di depan banner “Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta” menjadi ekspresi kebanggaan sekaligus rasa syukur, terutama bagi para kader ranting yang datang dari akar gerakan. Bagi mereka, ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan afirmasi bahwa mereka adalah bagian dari sejarah besar Muhammadiyah.
Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat acara dimulai. Wakil Ketua PCM Tulangan Bidang Tabligh, Muhammad Basir, SThI MPd membuka sesi sambutan dan menegaskan tujuan utama dari Safari Dakwah ini.
“Ini bukan sekadar kunjungan. Kami datang untuk belajar, mempererat ukhuwah, dan menguatkan ranting-ranting agar menjadi pilar dakwah yang kokoh,” tuturnya dengan penuh semangat.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sri Lestari Linawati SS MSi, menyambut hangat para peserta. Ia mengawali sambutannya dengan mengutip al-Quran Surat an-Nahl Ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Artinya: “Barangsiapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”
Ia menekankan, bahwa kekuatan Muhammadiyah tidak bersumber dari gedung-gedung besar, melainkan dari hidupnya cabang, ranting, dan masjid-masjid.
“Kalau cabang dan ranting mati, maka Muhammadiyah kehilangan ruhnya,” ungkap Sri.
Menjaga Ruh Gerakan dari Akar
Dalam pemaparannya, Sri menyampaikan bahwa meskipun struktur Muhammadiyah bersifat terpusat, denyut kehidupan gerakan ini sejatinya berada di lapisan paling bawah. Ranting dan masjid menjadi pusat pertumbuhan spiritual, sosial, dan kaderisasi.
“Ruh ranting Muhammadiyah itu ada pada lima hal yakni pengajian yang subur, masjid yang makmur, amal yang ikhlas, semangat berinfak dan berwakaf, serta rapat yang rutin dan produktif,” jelasnya.
Sri juga mengutip ucapan KH Yunus Anis, salah satu tokoh Muhammadiyah, yang menyatakan bahwa desa dengan masjid yang hidup, pengajian yang teratur, serta warga yang membicarakan nilai-nilai Islam merupakan tanda kuat adanya aktivitas Muhammadiyah.

Dalam konteks sosial, Sri menggarisbawahi bahwa cabang dan ranting adalah ujung tombak kaderisasi, basis dakwah keagamaan, titik temu ukhuwah lintas organisasi, duta persyarikatan di tengah masyarakat, serta garda terdepan pembela kepentingan umat.
Bermuhammadiyah dengan Gembira
Menutup paparannya, Sri mengajak seluruh peserta untuk Bermuhammadiyah dengan gembira, bukan dengan konflik.
“Mari kita lebih banyak senyum dan sumringah. Muhammadiyah itu menggembirakan kehidupan umat, bukan sebaliknya,” tegasnya sambil mengajak hadirin bernyanyi bersama.
Sementara itu, Guru SD Muhammadiyah Suponan, H Sumardi, turut membagikan kisah inspiratif dari ranting tempat ia beraktivitas. Dengan pengelolaan yang mandiri dan semangat kebersamaan, ranting tersebut mampu menjalankan dakwah yang berkelanjutan.
Selanjutnya pada sesi terakhir diisi dengan diskusi interaktif bersama LPCRPM mengenai strategi penguatan organisasi tingkat bawah. Para peserta tak hanya menyimak, tapi juga aktif berdiskusi tentang tantangan nyata yang mereka hadapi di lapangan, serta mencari solusi berbasis kolaborasi.
Rangkaian kunjungan hari itu ditutup dengan penuh harapan. Bukan semata tentang jumlah kunjungan, tetapi lebih pada kualitas pertemuan, tentang nilai-nilai yang ditanamkan dan semangat yang dibawa pulang.
“Semoga saat Tanwir dan Muktamar Muhammadiyah di Medan tahun 2027 nanti, laporan yang disampaikan bukan hanya tentang megahnya amal usaha, tetapi juga tentang bertambahnya ranting, cabang, dan masjid yang aktif serta makmur,” pungkas Sri.
Rombongan PCM Tulangan pun kembali dengan membawa lebih dari sekadar dokumentasi foto. Mereka pulang dengan membawa semangat baru untuk terus menyalakan pelita dakwah di kampung halaman dan memastikan ruh Muhammadiyah tetap hidup di akar rumput. (*)
Penulis Zulkifli Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments