
Menikmati Proses
Menganggur tiga bulan telah memberi pelajaran sangat berharga bagi laki-laki itu. Pekerjaan adalah karunia Tuhan yang luar biasa berharga. Di dalam pekerjaan ada harga diri. Betapa pun tinggi pendidikan jika tidak bekerja maka dia tidak berharga. Betapa gagah tampilan seseorang jika tidak bekerja maka dia tidak berharga. Tentu ini hanya untuk laki-laki yang dalam usia produktif. Mereka yang telah pensiun atau lansia tidak masuk ketentuan ini karena telah menyelesaikan tugasnya. Juga para wanita karena bukan kewajiban utama mencari nafkah. Jika dia bekerja hal itu baik, jika tidak, maka dia tidak kehilangan harga dirinya.
Karena itu sebagai rasa syukur atas karunia Tuhan yang amat berharga ini maka seharusnya setiap orang bekerja dengan sepenuh hati. Tidak setengah hati. Apalagi bekerja tanpa hati. Mereka yang tidak bekerja sepenuh hati belum merasakan ketika orang tidak lagi punya pekerjaan. Belum merasakan kehilangan harga diri karena menganggur.
Ada lagi. Orang yang tidak bekerja sepenuh hati dia akan kehilangan kenikmatan dan kesenangan dalam bekerja. Dia tidak merasakan nikmatnya proses dalam kerja. Padahal dari proses kerja itulah seseorang menemukan kepuasan. Kenikmatan bekerja bukan hanya dilihat dari hasil akhir atau terima gaji. Tetapi proses sampai terjadi perubahan karena hasil kerjanya.
Seperti dalam olahraga. Orang yang melihat langsung pertandingan bola, dia bisa menikmati prosesnya detik demi detik bola itu digiring, dihalangi lawan, perebutan bola sampai akhirnya bola itu berhasil masuk gawang. Pada proses itu terletak orang menikmati nonton bola. Beda dengan orang yang hanya menerima berita kesebelasan A mengalahkan kesebelasan B tapi dia tidak tahu bagaimana proses kemenangan itu terjadi. Maka dia hanya tahu hasil akhir. Tidak merasakan kenikmatan proses bagaimana permainan bola itu berlangsung.
Demikian dengan orang bekerja. Mereka yang tidak bekerja dengan sepenuh hati, mereka yang bekerja asal-asalan maka dia tidak akan menemukan kelezatan dalam bekerja. Tidak merasakan kesulitan dan hambatan dalam bekerja. Lalu upayanya mengatasi kesulitan itu. Ketika berhasil ada kelegaan dalam hati.
Ada lagi yang penting. Bekerja itu bernilai ibadah. Dan setiap ibadah hanya dilihat Tuhan kalau dilakukan dengan kesungguhan. Kalau dilakukan dengan asal-asalan, maka Tuhan akan mengabaikannya. Al-Quran memerintahkan kita untuk bekerja. Dan pekerjaan kita akan dinilai bukan saja oleh atasan kita tetapi oleh Allah Yang Maha Melihat.
“Katakan (Muhammad) wahai kaumku berbuatlah/bekerjalah di tempatmu/sesuai profesimu masing-masing. Aku juga berbuat. Maka kalian akan tahu hasil kerja kalian.” (az-Zumar 39) (*)
Editor Mohammmad Nurfatoni






0 Tanggapan
Empty Comments