PWMU.CO – Prosesi pelantikan Formatur Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Sampang untuk periode kepemimpinan 2025–2027, (1/8/2025). Kegiatan ini merupakan momentum penting dalam menandai kelanjutan estafet perjuangan pelajar Muhammadiyah di Kabupaten Sampang, setelah melewati berbagai dinamika gerakan yang menuntut keteguhan, keberanian, dan semangat kolektif.
Acara ini berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan dan semangat kebangkitan. Prosesi pelantikan dilakukan secara langsung oleh saudara Yura, mewakili Pimpinan Wilayah IPM Jawa Timur, sebagai bentuk pengukuhan resmi atas amanah struktural yang kini diemban oleh kader-kader terpilih.
Hadir pula dalam kegiatan ini dua unsur penting dari PW IPM Jawa Timur, yakni Ketua Bidang Ipmawati Almasy Tsalisa Haiba dan Ketua Bidang Organisasi Yudistira Ananta, yang memberikan dukungan secara penuh atas lahirnya kembali kepemimpinan IPM di Kabupaten Sampang.
Dalam sambutannya, Almasy Tsalisa Haiba menyampaikan pesan mendalam yang merespons dinamika IPM Sampang selama beberapa waktu terakhir. Ia menegaskan bahwa tidak ada organisasi yang benar-benar stabil tanpa tantangan. Setiap gerakan memiliki masa pasang dan surut.
“IPM Sampang bukan pengecualian. Kami tidak menutup mata bahwa dalam beberapa periode terakhir, ada hambatan yang cukup signifikan, bahkan mengalami penurunan dalam berbagai aspek, terutama dalam geliat gerakan pelajar. Namun, penurunan bukanlah tanda berakhirnya sebuah cerita. Sebaliknya, ia menjadi isyarat bahwa sebuah babak baru siap dimulai,” tuturnya.
Kepemimpinan
Kepemimpinan sejati, menurutnya, tidak diukur dari seberapa tinggi kita pernah berdiri, melainkan dari seberapa berani kita untuk kembali bangkit setelah jatuh. Pelantikan yang berlangsung hari ini adalah bukti nyata bahwa IPM Sampang belum selesai.
“Masih ada kader yang bersedia memikul amanah. Masih ada pelajar yang percaya bahwa IPM bukan sekadar organisasi pelajar, melainkan ruang pembentukan akhlak, arena latihan kepemimpinan, dan medan pengasahan keberanian untuk bergerak melampaui keterbatasan. Inilah saatnya untuk bangkit, bukan hanya karena IPM membutuhkannya, tetapi karena pelajar-pelajar di Sampang layak mendapatkan ruang tumbuh yang lebih baik dan bermartabat,” tambahnya.
Almasy juga menyampaikan bahwa keberadaan Muhammadiyah di Kabupaten Sampang perlu terus dikobarkan. Meskipun secara jumlah termasuk minoritas, hal tersebut tidak berarti gerakannya kecil. Justru dalam kondisi seperti itulah, militansi, semangat ideologis, dan daya tahan organisasi diuji. Hidupnya kembali IPM Sampang adalah bukti bahwa akar gerakan Muhammadiyah telah kembali tumbuh dan mulai mengakar kuat di tanah yang sebelumnya kering oleh tantangan.
PW IPM Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk tidak meninggalkan satu pun kader dalam proses perjuangannya. IPM adalah satu tubuh. Satu bergerak, semua terdorong. Oleh karena itu, bentuk dukungan wilayah bukan hanya simbolik, tetapi juga nyata, melalui pendampingan intensif, sinergi program, dan pemberian fasilitas struktural, termasuk keringanan terhadap kewajiban SWO atau SWP bagi daerah-daerah yang dinilai membutuhkan sentuhan khusus. Semua itu dilakukan agar gerakan IPM dapat kembali bersinergi dan tumbuh dengan sehat.
Sebagai penutup, Almasy menyampaikan satu pesan yang patut direnungkan oleh seluruh kader: jangan takut untuk memulai dari angka nol. Sebab pemimpin besar tidak lahir dari organisasi yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk memperbaiki, untuk belajar, dan untuk bertumbuh bahkan ketika semua bermula dari kekosongan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments