Aisyiyah Qur’anic Boarding School (AQBS) Ponorogo menggelar Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) periode 2026/2027 sebagai bentuk nyata proses regenerasi organisasi santri.
Kegiatan ini sekaligus menjadi penanda transformasi organisasi santri AQBS dari PASSION (PTQ ‘Aisyiyah Student Organization) menjadi IPM, menegaskan bahwa pembinaan santri di AQBS berpijak pada nilai dan garis perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah.
Pelantikan berlangsung di Masjid AQBS pada Rabu malam (14/1/2026) pukul 20.00 WIB dan diikuti seluruh santriwati. Acara diawali pembacaan laporan pertanggungjawaban pengurus lama, dilanjutkan prosesi pelantikan pengurus IPM baru.
Direktur AQBS Ponorogo, Rifqi Ihsanu Najib, M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremonial, tetapi momentum pendidikan penting dalam kehidupan pesantren.
“Orang penting adalah orang yang tahu kepentingan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap kegiatan di pesantren harus dilihat sebagai sesuatu yang harus dijalani dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan ketertiban.
Rifqi juga menjelaskan bahwa pemilihan ketua IPM dilakukan melalui demokrasi terpimpin, bukan demokrasi bebas, dengan melibatkan guru dan santri sebelum ditetapkan pimpinan. Menurutnya, proses regenerasi merupakan prinsip penting yang terus dijaga dalam Muhammadiyah.
Pembentukan Jiwa
Dalam sambutannya, Rifqi menegaskan bahwa organisasi adalah sarana pembentukan jiwa, bukan sekadar jabatan. Santri belajar untuk siap dipimpin dan memimpin, ikhlas menerima instruksi, serta mampu menjadi teladan. Karakter inilah yang kelak membentuk mereka menjadi pemimpin masa depan.
“Kalian adalah madrasatul ula. Dari rahim kalian diharapkan lahir pemimpin-pemimpin yang amanah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya niat dalam berorganisasi.
“Jangan bertanya apa yang saya dapat, tapi apa yang bisa saya berikan. Jabatan adalah amanah besar, bukan sesuatu yang dijunjung, tetapi harus dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Dirinya mengibaratkan keikhlasan sebagai akar pohon yang tidak terlihat, namun menjadi sumber kekuatan.
Laboratorium Kehidupan
Rifqi menegaskan bahwa IPM harus menjadi laboratorium kehidupan, tempat santri belajar manajemen waktu, tanggung jawab, dan keterampilan non-akademik. Pendidikan pesantren, katanya, berlangsung 24 jam, dan semua pengalaman santri merupakan bagian dari pembentukan karakter.
Terkait kepemimpinan, ia menekankan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang memberi keteladanan.
“Satu perbuatan nyata lebih berwibawa daripada seribu kata-kata,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kritik dan perbedaan pendapat adalah bagian dari pendewasaan organisasi.
“Anggap kritik sebagai jamu yang pahit, tetapi menyehatkan,” ucapnyaa.
Sebagai penutup, Rifqi memberikan pesan penting agar para pengurus tidak menjadi seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi menghabiskan dirinya sendiri.
“Jadilah seperti matahari, yang menyinari dengan cahaya, tetap teguh pada porosnya,” ungkapnya.
Pelantikan ditutup dengan doa bersama. Harapannya, pengurus IPM AQBS periode 2026/2027 mampu menjalankan amanah dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, serta membawa keberkahan bagi diri, pesantren, dan Persyarikatan Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments