Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pembelajaran Jadi Lebih Bermakna, Inilah Keseruan Workshop Kurikulum Deep Learning di SD Muhita

Iklan Landscape Smamda
Pembelajaran Jadi Lebih Bermakna, Inilah Keseruan Workshop Kurikulum Deep Learning di SD Muhita
pwmu.co -
Workshop Pembelajaran Kurikulum Deep Learning di SD Muhita. (Istimewa/PWMU.CO)
Workshop Pembelajaran Kurikulum Deep Learning di SD Muhita. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Acara workshop pembelajaran kurikulum Deep Learning di SD Muhammadiyah 01 Tanggul (SD Muhita) usai dilaksanakan pada Jumat (11/7/2025). Acara ini berlokasi di aula kampus 1 SD Muhita, Tanggul, Jember. Narasumber yang diundang adalah Falidan Ahmad MPd selaku widyaiswara ahli muda BBGP Jawa Timur. Acara ini juga mengundang Mohammad Nasir selaku ketua PCM Tanggul. Pesertanya yang mengikuti seluruh guru SD Muhita.

“Kita perlu menyesuaikan perubahan. Kurang apa perusahaan besar sekelas Blackberry dan Nokia yang jatuh karena menolak perubahan,” jelas Nasir.

Nasir menambahkan bahwa bekerjalah seperti hidup selamanya, namun jangan lupakan akhirat. Kedua, diperlukan juga rasionalitas dalam beragama.

Sambutan kedua dari kepala SD Muhita, Nur Sabaha SThI MPdI. Dia berharap dalam pelatihan ini diharapkan para guru tidak canggung lagi menerapkan kurikulum ini.

Kegiatan Workshop

Pada awal pelatihan, Falidan mengajak semua guru menyanyikan lirik lagu Pembelajaran Mendalam dengan nada lagu Ikan dalam Kolam. Semua guru menyanyikan lagu tersebut diiringi dengan berjoget gembira.

“Dulu kita menggunakan RPUL yang mana materi apapun ada di situ, namun sekarang zamannya AI,” jelas Falidan tentang pentingnya kecerdasan buatan.

Falidan menyayangkan bahwa masih ada guru yang tidak sadar mengajar murid yang tidak sadar. Ini disebabkan gaya belajar para murid berbeda, maka perlakuannya harus berbeda.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dia juga menjelaskan Taksonomi Bloom dan penerapannya dalam kurikulum tersebut. Kurikulum ini tidak diperlukan obyek yang banyak untuk diingat sehingga bisa dipahami dan diterapkan lalu direfleksikan, berbeda dengan Surface Learning yang hanya menghafal banyak obyek. Dia juga mengusulkan untuk memberikan apresiasi yang baik pada anak sehingga anak tertantang untuk membuat karya yang lebih baik.

Setelah pemaparan materi, Falidan mengarahkan peserta untuk berkelompok membuat modul ajar sesuai kelas dan mata pelajaran. Masing-masing kelompok membuat modul ajar pada selembar kertas buffalo ukuran A3. Usai shalat Jumat dan istirahat, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan ditanggapi olehnya.

Falidan berharap para guru bisa menerapkan kurikulum ini dengan baik karena tidak cukup satu pertemuan untuk mendalami materi kepada murid sehingga bermakna di hidupnya. (*)

Penulis Muhammad Arief Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu