Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bersama Bankziska Lazismu Jawa Timur menggelar kegiatan Pembinaan Relawan Bankziska yang dirangkai dengan buka bersama di Masjid Al Hasna, Jabung, Ponorogo, Ahad (15/3/26).
Kegiatan tersebut dihadiri Bendahara PWM Jawa Timur drh. Zainul Muslimin, Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur Dr. Ir. Agus Edi Sumanto, M.Si., RFA, Direktur Operasional Bankziska Jatim Faruq Ahmad Futaqi, M.E., Ketua Pengurus KSSP BMT Hasanah Sulistio, para relawan Bankziska Ponorogo, pengurus dan pengelola BMT Hasanah, serta pengelola Bankziska Lazismu Jawa Timur.
Apresiasi untuk Relawan Banziska
Direktur Operasional Bankziska Jatim, Faruq Ahmad Futaqi, menyampaikan apresiasi kepada PWM Jawa Timur dan Lazismu yang selama ini memberikan dukungan terhadap program pemberdayaan ekonomi umat melalui Bankziska.
Ia juga memberikan penghargaan kepada para relawan yang selama enam tahun terakhir telah mendampingi para mitra usaha dengan penuh keikhlasan.
“Perjuangan relawan tidak selalu mudah karena harus menghadapi berbagai persoalan mitra usaha. Namun pengabdian ini insyaallah menjadi amal jariyah,” ujarnya.
Perjalanan Bankziska dan Tantangan ke Depan
Pada sesi pembinaan, Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, Agus Edi Sumanto, menegaskan bahwa Bankziska memiliki potensi besar dalam membantu masyarakat keluar dari jeratan rentenir sekaligus mendorong tumbuhnya pelaku usaha mikro yang mandiri.
Ia mengungkapkan bahwa pada masa awal program berjalan, Bankziska sempat diragukan oleh berbagai pihak. Namun kini program tersebut mampu menunjukkan hasil nyata dengan membantu sebagian besar mitra usaha terbebas dari praktik pinjaman rentenir.
“Sekitar 75 persen mitra Bankziska sudah berhasil terbebas dari rentenir. Itu pencapaian yang luar biasa,” ungkapnya.
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah mendorong para mitra usaha agar dapat naik kelas secara ekonomi sehingga benar-benar mandiri dan berkembang.
Ia juga mendorong agar pengelola dan relawan Bankziska lebih kreatif dalam mengenalkan program kepada masyarakat, termasuk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konten promosi yang lebih menarik.
Ramadan Momentum Perubahan dan Kepedulian Sosial
Sementara itu, Bendahara PWM Jawa Timur, Zainul Muslimin, dalam kajian Ramadan menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan merupakan momentum penting untuk melakukan perubahan, baik secara fisik maupun mental spiritual.
Menurutnya, puasa tidak hanya berdampak pada kesehatan tubuh, tetapi juga seharusnya membentuk karakter yang lebih baik, seperti meningkatkan ketakwaan, kepedulian sosial, serta sikap ringan membantu sesama.
Ia juga menekankan pentingnya membangun pola pikir yang baik dalam mengelola keuangan. Berapa pun rezeki yang diterima, seseorang harus mampu menyisihkan sebagian untuk kebutuhan masa depan maupun investasi usaha.
Dalam konteks pemberdayaan ekonomi umat, ia menilai program Bankziska menjadi langkah konkret untuk membantu masyarakat kecil bangkit melalui usaha produktif.
“Bankziska membantu pedagang kecil dengan modal sekitar Rp500 ribu. Bagi sebagian orang mungkin kecil, tetapi dari modal itu usaha bisa berputar dan berkembang,” jelasnya.
Menurutnya, para relawan Bankziska merupakan orang-orang yang menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat melalui pendampingan dan dukungan kepada pelaku usaha kecil.
Kegiatan pembinaan ditutup dengan penyerahan simbolis bantuan sosial berupa paket sembako dari para pengusaha Tionghoa di Indonesia melalui PWM Jawa Timur kepada masyarakat yang membutuhkan. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti buka puasa bersama yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Melalui kegiatan ini diharapkan semangat pemberdayaan ekonomi umat melalui program Bankziska semakin kuat sehingga mampu mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha kecil yang mandiri dan berdaya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments