
PWMU.CO– Pemilu 2024 diharapkan praktik politik uang dapat ditekan agar kekuasaan tidak terus menerus dikendalikan oligarki.
Hal itu disampaikan Prof Dr H Zainuddin Maliki MSi, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN ketika berkunjung ke keluarga persyarikatan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kalitengah Lamongan, Ahad (6/3/2022).
Dia prihatin perilaku masyarakat pemilih dalam Pemilu yang pragmatis dengan nyoblos yang bayar, bukan nyoblos yang benar.
”Dengan nyoblos yang memberi uang lima puluh atau seratus ribu sejatinya mereka sadar atau tidak sedang menyerahkan kekuasaan kepada oligarki,” ungkap legislator asal Dapil Jatim X Lamongan dan Gresik itu.
Zainuddin mengingatkan, dalam pikiran oligarki itu hanya mencari untung. Tanpa peduli apakah keuntungannya itu diperoleh dengan cara merusak lingkungan, merusak sistem pemerintahan, atau merusak kesatuan dan persatuan bangsa.
Penulis buku Menyuarakan Kewarasan Publik dalam Politik itu berharap agar warga Persyarikatan Muhammadiyah turut berusaha meningkatkan kesadaran literasi politik masyarakat. Sehingga mereka semakin cerdas menentukan pilihan dengan benar dan tidak akan memilih yang bayar saat Pemilu 2024.
Sehari Tiga Tempat
Sehari berada di tiga tempat yang berbeda, Zainudin Maliki tampil selalu prima. Tugas dakwah dan politik bagi dia seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Dakwahnya bersentuhan dengan persoalan politik, sedangkan cara berpolitiknya di lapangan tidak bisa lepas dari masalah pembahasan dakwah persyarikatan dan keumatan.
Agenda pertama dimulai pukul 06.00 di Pondok Pesantren Muhammadiyah Al Manar Sedayulawas Brondong. Zainuddin Maliki menyampaikan ceramah memperingati Isra Mikraj.
Di hadapan para santri, ustadz, tokoh masyarakat dan pimpinan persyarikatan, dia menyampaikan pesan agar para santri giat menuntut ilmu. Sehingga semakin cerdas memanfaatkan waktu sebagai modal yang diberikan Allah swt kepada semua hambaNya.
”Pesan penting Isra Mikraj itu adalah shalat yang waktu-waktunya telah ditentukan sehingga menjadi muslim pasti punya kecerdasan mengelola waktu dengan baik,” jelasnya.
Budaya bangsa Indonesia polikronik, kurang menghargai waktu. Budaya ini harus bisa diubah seperti di negara-negara maju. Budaya mereka monokronik, waktu sangat dihargai. “Tidak ada acara yang tidak tepat waktu, tidak molor seperti kita,” ungkap guru besar kelahiran Tulungagung ini.
Usai dari Pesantren Al Manar Sedayulawas, Zainuddin melanjutkan perjalanan ke Gedung Dakwah PCM Laren. Jarak yang ditempuh dari Brondong sekitar 15 km. Kedatangan Zainuddin yang sudah ditunggu sejak pukul 09.00 menambah suasana semangat PCM Laren.
Di sini Zainudin Maliki menghadiri Bincang Kreatif Pasar Seni Digital, Peningkatan Kapasitas Pelaku Kreatif Seni Rupa Daerah.
Kegiatan ini kerja sama Direktur Musik, Film dan Animasi Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Dorong rasa ingin tahu dan perkaya imajinasi supaya kita menjadi manusia-manusia kreatif. Karena hanya mereka yang kreatif yang keluar menjadi pemenang di era digital ini,” ungkap lulusan doktor lulusan Pascasarjana Universitas Airlangga.
Lokasi ketiga, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya dua priode ini PCM Kalitengah. Perjalanan dari Laren sampai ketiga membutuhkan waktu 45 menit. Acara bertempat di Desa Kuluran.
Di hadapan AMM dan PCM Kalitengah, peraih Top 100 World Sciences Scientists in Indonesia 2022 versi AD Scientific Index menyampaikan pentingnya Muhammadiyah menunjukkan sebagai persyarikatan yang kuat.
Tidak hanya ketika menangani pendidikan, kesehatan, kegiatan filantropi, kemanusiaan atau pengurangan risiko bencana tetapi juga menentukan arah dan kiblat politik negara. (*)
Penulis Fathurrahim Syuhadi Editor Sugeng Purwanto






0 Tanggapan
Empty Comments