Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pemimpin Muhammadiyah Perlu Mencontoh Ibnu Sina

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Wakil Ketua PDM Kabupaten Gresik Dr Muhammad Arfan Muammar MPdI saat buka Musycab Muhammadiyah Aisyiyah GKB Gresik, Ahad(19/3/23) (Fanani/PWMU.CO)

Pemimpin Muhammadiyah Perlu Mencontoh Ibnu Sina, liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Fitri Wulandari

PWMU.CO –  Pemimpin Muhammadiyah harus seperti Ibnu Sina disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhamamdiyah (PDM) Kabupaten Gresik Dr Muhammad Arfan Muammar MPdI, Ahad (19/3/23).

Dalam kegiatan Musyawarah Cabang (Musycab) Ke-5 Muhammadiyah dan Aisyiyah GKB Gresik, Jawa Timur, dia menyampaikan dikotomi ilmu pengetahuan menyebabkan runtuhnya peradaban Islam.

“Untuk itu diperlukan adanya tokoh-tokoh yang multi, inter, serta transdispliner yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus ahli al-Quran. Maka seorang pemimpin Muhammadiyah perlu mencontoh tokoh seperti Ibnu Sina,” katanya di depan Musyawirin di Cordobo Hall SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik.

Alumnus Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) menuturkan hal tersebut merupakan tonggak kemajuan Islam. Pemimpin di Muhammadiyah harus seperti sosok Ibnu Sina. Pemimpin harus ahli ilmu sekaligus al-Quran.

Dalam kaitan tersebut, lanjutnya, Muhammadiyah harus dapat menyinergikan visi dan misi Pimpinan Pusat (PP), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM).

“Memiliki visi inilah yang bisa menjadikan pemimpin ideal. Pemimpin yang mampu membawa pada perubahan dan berkemajuan,” tuturnya.

Sinergi dan Integrasi

Muhammad Arfan Muammar menjelaskan kekuatan Muhammadiyah ada di sinergi dan integrasi seluruh amal usaha Muhammadiyah (AUM).

Iklan Landscape UM SURABAYA

“PCM GKB adalah contoh PCM yang mampu melakukannya,” tambahnya yang diiringi tepuk tangan dari musyawirin.

Dia menyampaikan sinergi itulah yang membuat PCM dapat menghasilkan akselerasi di berbagai bidang sehingga memiliki 16 AUM ini.

“Semoga pada Musycab ke-5 ini bisa melahirkan pemimpin yang menjadikan shiddiq sebagai visi, amanah sebagai misinya, tabliq sebagai misinya, fatonah sebagai strategi dalam menjalankan kehidupan,” ungkapnya.

Dalam istilah yang lain, sambungnya, adalah kredibilitas, tanggung jawab, transformatif, dan intelektualitas harus bersatu padu dalam diri seorang pemimpin sehingga Muhammadiyah mampu membumikan moto berkemajuan itu.

Menutup sambuatannya, doktor lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya ini sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan Musycab ke-5 PCM GKB. (*)

Co-Editor Ichwan Arif. Editor Muhammad Nurfatoni.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu