Sahabatku seiman yang dimuliakan Allah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam Al-Qur’an: “Sungguh, manusia diciptakan (bersifat) suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta), dia jadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, (yaitu) mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya.” (QS. Al-Ma‘ārij: 19–23)
Ayat ini menggambarkan hakikat sifat manusia yang mudah goyah menghadapi ujian dan kenikmatan. Namun Allah sekaligus memberikan solusi yang sangat jelas: shalat dengan istiqamah.
Sahabatku, berapa kali kita merasa gelisah karena urusan dunia? Ketika gaji telat turun, hati mudah resah. Saat usaha merugi, kita sering berkeluh kesah. Bahkan dalam hal kecil, seperti terjebak macet atau kehilangan barang, kita cepat marah dan merasa berat.
Di sinilah salat hadir sebagai penenang jiwa. Rasulullah saw bersabda:
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” (HR. Abu Dawud)
Bagi Nabi, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi sumber ketenangan. Maka jika kita istikamah, salat menjadi benteng agar tidak larut dalam keluh kesah.
Coba kita bayangkan seorang ayah yang baru kehilangan pekerjaannya. Wajar jika hatinya sedih. Namun bila ia mendirikan shalat dengan khusyuk, lalu berserah diri kepada Allah, hatinya akan lebih tenang. Dari ketenangan itu, lahirlah kesabaran dan ikhtiar baru untuk mencari rezeki.
Begitu pula seorang ibu rumah tangga yang lelah dengan urusan rumah dan anak-anak. Kadang rasa penat membuatnya ingin mengeluh.
Tapi setiap kali ia menunaikan salat, ia menemukan jeda, ketenangan, dan kekuatan untuk kembali melanjutkan tugasnya dengan ikhlas.
Selain salat, kita juga diajarkan untuk selalu bersyukur atas nikmat sekecil apa pun, serta bersabar atas musibah sebesar apa pun. Nabi ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Dengan syukur dan sabar, keluh kesah akan berubah menjadi doa, ikhtiar, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Sahabatku yang dimuliakan Allah, mari kita berdoa agar Allah meneguhkan hati kita dalam istiqamah shalat, memperindah zikir kita, menjadikan kita pribadi yang pandai bersyukur, dan sabar menghadapi segala ujian hidup.
Allāhumma aj‘alnā min al-muqīmīnaṣ-ṣalāh, waj‘alnā min ‘ibādikal-ṣābirīn, wa minal-ḥāmidīn asy-syākirīn. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments