Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Balongpanggang menggelar pengajian rutin yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Perguruan Muhammadiyah Balongpanggang, Sabtu (28/2/2026). Kegiatan tersebut tetap berlangsung meskipun hujan mengguyur wilayah Balongpanggang pada sore hari.
Pengajian menghadirkan H. M. In’am, M.Pd.I., dari jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik sebagai pemateri. Turut hadir jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Balongpanggang serta Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Balongpanggang.
Dalam tausiyahnya, H. M. In’am mengajak para guru melakukan refleksi diri (muhasabah) terhadap kualitas iman. Ia menyampaikan materi bertajuk Jaddidu Imanakum yang menekankan pentingnya memperbarui iman dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa iman bukan sesuatu yang statis, melainkan perlu diperbarui secara berkelanjutan. Ia berpesan agar setiap muslim memperbanyak zikir Laa ilaaha illallah sebagai bagian dari pembaruan iman.
Mengutip QS. Al-Ankabut: 61, ia menjelaskan bahwa pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta memiliki konsekuensi dalam ketaatan. Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan QS. An-Nahl: 36 tentang misi para rasul untuk mentauhidkan Allah.
Merujuk QS. Al-Hujurat: 14, ia mengingatkan tentang perbedaan antara iman dan Islam. Ia mencontohkan kisah orang Badui yang mengaku beriman, padahal iman belum masuk ke dalam hati.
“Jangan sampai kita hanya berhenti di level Islam secara lisan, tapi kosong secara esensi,” tegasnya.
Menurutnya karakter orang beriman sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nur: 51 dan QS. An-Nisa: 65, yaitu memiliki sikap Sami’na wa Atha’na (kami dengar dan kami taat) serta menerima keputusan Allah tanpa keberatan.
Menjelang Ramadan, ia menuturkan bahwa perintah puasa ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Menurutnya, puasa akan terasa berat kecuali bagi mereka yang bertakwa.
“Bagi lansia atau pekerja berat yang tidak mampu, syariat memberikan keringanan melalui fidyah sebesar 0,5 kg (yang lebih baik jika dilebihkan). Namun, yang harus diwaspadai adalah para perusak pahala puasa: curang dalam timbangan, tidak menjaga lisan, dan perilaku buruk lainnya.” tambah beliau.
Pada bagian akhir kajian, ia mengajak para guru melakukan introspeksi diri dengan meneladani peristiwa Isra Mi’raj sebagai ujian keimanan. Pada kesempatan tersebut ia menekankan pentingnya menjaga hati agar tetap terbuka terhadap kebenaran melalui kajian rutin. Kegiatan ditutup dengan doa dan buka puasa bersama. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments