Sebagai bagian dari rangkaian Ujian Satuan Pendidikan (USP), SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya menggelar ujian praktik manasik haji bagi seluruh siswa kelas XII.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (9/2/2026) ini, menjadi salah satu materi penutup dalam rangkaian ujian praktik sekolah tahun ini.
Kepala Sekolah SMAMDA Surabaya Mukhlasin, ST, M.Pd menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal pemahaman yang mendalam mengenai rukun Islam yang kelima.
“Harapan kami, anak-anak memiliki bekal tentang bagaimana tata cara haji yang benar. Ini adalah upaya kami agar mereka siap menyempurnakan rukun Islam di masa depan,” ujarnya.
Pelaksanaan ujian praktik ini dilakukan dengan metode penilaian yang komprehensif, mencakup aspek kognitif dan psikomotorik siswa, diantaranya:
Pertama, Penilaian Mandiri: Difokuskan pada penguasaan bacaan dan doa-doa manasik haji secara individu.
Kedua, Penilaian Kelompok: Siswa diuji dalam pelaksanaan tata cara ibadah secara fisik, seperti praktik Sari dan Thawaf yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu rombongan.
Mukhlasin menambahkan bahwa, para siswa telah diberikan panduan dan pembekalan materi jauh-jauh hari. Namun, ia menekankan pentingnya aplikasi langsung di lapangan karena situasi riil sering kali berbeda dengan teori di buku.
Tahun ini, sebanyak 393 siswa kelas XII tercatat mengikuti ujian praktik manasik haji. Pihak sekolah juga memberikan fleksibilitas bagi siswa yang berhalangan hadir karena alasan mendesak, seperti sakit, melalui mekanisme ujian susulan atau remedi.
“Kami ingin mereka mampu melakukan ibadah umrah maupun haji secara utuh dan benar. Semoga setelah lulus, mereka memiliki motivasi yang kuat untuk segera menunaikan rukun Islam yang kelima ini,” harapnya.
Di tengah deretan siswa yang mengenakan kain ihram, sosok Engie EN Nana, pelajar pertukaran pelajar asal Prancis, mencuri perhatian. Baginya, mengikuti ujian praktik manasik haji bukan sekadar tugas sekolah, melainkan pengalaman spiritual yang membuka mata.
Engie mengaku sangat terkesan dengan cara sekolah di Indonesia, khususnya SMAMDA, dalam memperkenalkan nilai-nilai agama kepada siswanya. Hal ini menurutnya sangat kontras dengan sistem pendidikan di negara asalnya.
“Acara ini sangat menarik dan luar biasa. Di Prancis, kami tidak bisa mempelajari hal-hal spesifik tentang agama seperti ini di sekolah. Jadi, bagi saya ini pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.
Menurut Engie, praktik manasik haji memberikan gambaran nyata yang sulit didapatkan hanya dari teori. Kebebasan dan dukungan sekolah dalam memfasilitasi pembelajaran agama menjadi poin yang paling ia syukuri selama berada di Surabaya.
Pengalaman praktik ini rupanya membekas jauh di dalam hati Engie. Saat ditanya mengenai harapannya terhadap kehidupan beragama di masa depan, ia menjawab dengan penuh keyakinan.
Engie berharap bisa terus konsisten menjalankan ibadah wajib, termasuk menjaga salat lima waktu setiap hari.
Namun, ada satu mimpi besar yang kini terpatri di benaknya: pergi ke Tanah Suci.
“Saya berharap bisa terus lanjut salat setiap hari, dan saya berharap suatu hari nanti bisa pergi ke Mekkah, insya Allah,” pungkasnya.
Melihat semangatnya, Engie pun mengonfirmasi keinginannya untuk bisa melihat dan menyentuh Ka’bah secara langsung di masa depan.
Kalimat “Insya Allah” berkali-kali terucap dari lisan pelajar Prancis ini, menandakan harapan besar agar langkah kakinya di lapangan SMAMDA hari ini menjadi langkah awal perjalanannya menuju Mekkah yang sesungguhnya.
Kegiatan manasik haji di SMAMDA ini pun ditutup dengan kesan manis, membuktikan bahwa pendidikan agama yang dikemas dengan praktik nyata mampu menyentuh hati siapa saja, lintas negara dan budaya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments