“Seandainya ada seekor keledai mati terperosok di jalan Baghdad, niscaya aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadaku” – Umar bin Khattab
Kalimat tersebut menggambarkan tentang rasa khawatir Umar bin Khattab RA saat memimpin sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin.
Pada masa itu, Islam berkembang pesat hingga ke berbagai belahan dunia, membawa umat Muslim pada puncak kejayaan.
Namun, Umar menyadari bahwa seorang pemimpin tidak boleh larut dalam euforia, melainkan harus tetap waspada terhadap tantangan yang muncul selama kepemimpinannya.
Fenomena krisis kepemimpinan kian terasa di berbagai era. Banyak pemimpin kehilangan kepercayaan publik, lebih gemar memerintah daripada melayani, bahkan terjebak pada kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dalam hikayat dan sejarah, berbagai model kepemimpinan hadir. Dalam Islam kita mengenal Rasulullah SAW, para Khulafaur Rasyidin, hingga para Imam.
Sementara di era modern muncul sosok-sosok seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, Abraham Lincoln, hingga Ir. Soekarno.
Masyarakat selalu mendambakan pemimpin ideal, meski kenyataannya menemukan sosok demikian bukanlah hal mudah.
Seiring perjalanan waktu dari salah satu organisasi otonomi dari Muhammadiyah tersebut, muncul pertanyaan mendasar: Sudahkah makna ‘kepemimpinan’ itu benar-benar terinternalisasi dalam diri kader? Sudahkah kata itu telah menghadirkan sosok pemimpin berakhlak mulia sebagaimana cita-cita Ikatan?
Selanjut, menjadi pertanyaan mendasar dalam internal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, yaitu: sudahkah makna ‘kepemimpinan’ benar-benar terinternalisasi dalam diri kader?
Sudahkah nilai itu melahirkan sosok pemimpin berakhlak mulia sebagaimana dicita-citakan Ikatan?
Berteladan kepada Rasulullah SAW
Sebagai seorang Muslim, kita memiliki kewajiban mulia untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan.
Rasulullah bukan sekadar utusan Allah yang menyampaikan risalah, tetapi juga pribadi yang menghidupkan ajaran itu dalam keseharian.
Kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kesabaran yang melekat pada diri beliau bukan hanya cerita sejarah, melainkan pedoman hidup yang seharusnya kita ikuti.
Dalam lingkup kepemimpinan, Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang multi-peran yang dapat menjadi teladan.
Beliau bukan sosok pemimpin yang hanya mahir mengatur, tetapi juga menginspirasi.
Beliau memegang banyak peran: seorang Nabi, Rasul, Kepala Negara, Panglima Perang, pemimpin umat, sekaligus kepala keluarga yang penuh kasih.
Semua itu dijalankan dengan keteladanan akhlak yang memikat hati, bukan dengan kekuasaan yang menekan.
Menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan juga telah ditegaskan Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah, hari akhir, dan yang banyak mengingat Allah.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa meneladani beliau adalah jalan menuju keberkahan hidup.
Keberhasilan Nabi — mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar, memimpin masyarakat Madinah, hingga menyusun Piagam Madinah,— berakar dari kekuatan akhlak yang melekat pada pribadinya.
Beliau membuktikan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada moralitas, bukan sekadar legalitas. Inilah yang patut kita tiru—menjadi pribadi yang menuntun dengan keteladanan, bukan dengan paksaan.
Maka, mari kita meneguhkan tekad untuk meneladani Rasulullah dalam setiap aspek hidup. Jika beliau mampu memimpin dunia dengan cinta dan akhlak, mengapa kita tidak berusaha mengikuti jejaknya?
Relevansi untuk kader IMM
Berorganisasi bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang bagaimana kita meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW.
Beliau mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah amanah, bukan sekadar gelar atau prestasi dunia.
Dalam organisasi, amanah itu diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan tugas, bukan menjadikannya formalitas.
Musyawarah pun harus dipahami sebagai ruh kebersamaan, bukan hanya rutinitas rapat tanpa makna.
Di lingkaran komisariat, setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sejatinya sedang ditempa untuk menjadi teladan.
Mulai dari sikap, kedisiplinan, hingga akhlak, semua adalah cermin kepemimpinan yang sesungguhnya.
Jangan menunggu “besar dulu baru memimpin”. Rasulullah pun membangun kepemimpinannya dari langkah-langkah kecil, konsisten, dan penuh ketulusan.
IMM hari ini membutuhkan kader yang berani memimpin dengan akhlak, bukan dengan ambisi. Ingatlah, pemimpin bukanlah penguasa, melainkan pelayan. Dan kepemimpinan sejati adalah jalan pengabdian. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments