Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perang Badar, 17 Ramadan 2H, dan Pelajaran Besar

Iklan Landscape Smamda
Perang Badar, 17 Ramadan 2H, dan Pelajaran Besar
Ilustrasi Perang Badar
Oleh : M. Anwar Djaelani, Peminat Masalah Pendidikan dan Penulis 14 Buku
pwmu.co -

Perang Badar adalah satu di antara sejumlah perang yang dipimpin langsung Nabi Muhammad Saw. Di perang itu, pasukan Muslim menang secara meyakinkan sekalipun menghadapi pasukan kafir Quraisy yang berjumlah tiga kali lipat dan dengan persenjataan lebih lengkap. Seperti apa kisah dan pelajaran yang bisa kita dapat?

Perang Badar, disebut demikian karena sesuai dengan lokasinya. Badar, sebuah lembah yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Lembah ini diapit oleh beberapa bukit.

Dulu, wilayah ini merupakan jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang. Saat ini, menjadi salah satu kota, bagian dari Provinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari Kota Suci Madinah sekitar 130 km.

Di Perang Badar kaum kafir Quraisy menurunkan seribu pasukan dengan alat perang lengkap dan dipimpin oleh para pemukanya seperti –antara lain- Abu Jahal.

Pasukan Muslim hanya tiga ratus orang. Sekalipun kekuatan musuh jauh lebih besar, tapi mereka sangat bersemangat dan sabar menjalani perang di bawah komando Muhammad Saw, orang yang mereka cintai pribadinya dan taati ajarannya.

Perang Badar pada Jum’at 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah itu berlangsung seru. Memang, Muhammad Saw sempat khawatir melihat peta kekuatan yang tak berimbang. Muhammad Saw sempat cemas, mengingat nasib yang akan menimpa Islam andai pasukan Muslim kalah.

Terkait, seraya menghadap Kiblat, Muhammad Saw berdoa: “Allahumma yaa Allah, ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakan, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Yaa Allah, berilah pertolongan yang Engkau janjikan kepadaku. Yaa Allah, jika pasukan ini sekarang binasa maka tidak akan ada lagi ibadah kepada-Mu”.

Selesai berdoa, Rasulullah saw menyemangati seluruh pasukan Muslim: “Demi Allah yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu dia gugur, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga”.

Implikasi dari arahan itu langsung terasa. Jiwa pasukan Muslim menjadi lebih kuat. Kekuatan para mujahid antara lain seperti Hamzah bin Abdul Muttalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harits terasa melampaui semangat mereka sendiri, sedemikian rupa setiap seorang dari mereka sama dengan dua orang, bahkan sama dengan sepuluh orang musuh.

Perhatikan ayat ini: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfaal [8]: 65-66).

Memang, kelemahan pokok pasukan musuh ada pada niat. Mereka tidak mengerti bahwa berperang haruslah untuk membela keimanan dan dalam rangka menaati Allah. Kaum kafir berperang semata-mata untuk mempertahankan tradisi jahiliyah dan maksud-maksud duniawi lainnya.

Berbeda dengan pasukan Muslim, mereka berperang karena Allah dan Rasul-Nya. Lihatlah sebagai salah satu contoh, Bilal. Dia serasa mendapat tambahan energi dari arahan Nabi Saw soal esensi jihad fii sabilillah. Maka, Bilal-pun berhasil menewaskan Umayyah bin Khalaf.

Sekadar catatan, Umayyah bin Khalaf adalah salah seorang pemuka kaum kafir Quraisy yang saat Bilal masih menjadi budaknya di Mekkah, Bilal disiksa di hadapan orang banyak dengan menelentangkannya di tengah-tengah padang pasir yang membakar.

Tak cukup itu saja, Bilal ditindih dengan batu besar. Tujuan penyiksaan ketika itu jelas untuk meruntuhkan keimanan Bilal kepada Allah, tapi tujuan Umayyah bin Khalaf sama sekali tak berhasil.

Dengan tegar, Bilal menolak usaha musuh agar dirinya murtad. Bahkan, yang terasa dia seperti mendakwahi semua orang yang ada di sekelilingnya untuk mentauhidkan Allah. “Ahad, Ahad, Ahad, …,” seru Bilal mantap.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Faktor Penentu

Kembali ke pokok masalah. Singkat cerita, pasukan Muslim memenangkan Perang Badar. Termasuk di antara catatan kemenangan itu, bahwa Abu Jahal–salah satu gembong kafir Quraisy-mati di tangan Mu’az bin Amr bin Jamuh.

Sebagai faktor penentu kemenangan, penting untuk selalu kita ingat bahwa kecuali karena kekuatan spirit jihad fii sabilillah di dalam pasukan Muslim, Allah dan malaikat-Nya juga “turun tangan” di Gelanggang Badar.

Perhatikan ayat ini: “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman’.

Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka” (QS Al-Anfaal [8]: 12). Maksud ujung jari pada ayat itu ialah anggota tangan dan kaki.

Perhatikan juga ayat ini: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka. Dan, bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Anfaal [8]: 17).

Makna Peristiwa

Di antara tujuan Perang Badar bagi umat Islam ketika itu adalah untuk memberi pelajaran. Apa itu? Umat Islam berharap bisa menunjukkan keberadaan dan kekuatan mereka di hadapan kaum kafir.

Setelah itu, berharap agar kaum kafir tak mudah berbuat zalim lagi seperti mengusir orang dari kampung halamannya sendiri dan merampas harta orang terutama yang berbeda keyakinan keagamaannya.

Tujuan Perang Badar yang demikian itu patut digolongkan sebagai “menolong agama Allah”. Maka, pantas jika Allah “berdiri” 100% di belakang “Para penolong-Nya” (yaitu pasukan Muslim) dan lalu memenangkannya.

Ingatlah sesuai selalu Janji Allah di ayat ini: ”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7).

Setelah Perang Badar, ada sejumlah fakta. Misalnya, adanya kegalauan penduduk kafir Mekkah menerima kenyataan bahwa mereka kalah. Kaum kafir Quraisy, tergoncang.

Sebaliknya, umat Islam yang tampil sebagai pemenang makin yakin bahwa mereka bisa begitu karena faktor iman dan pertolongan Allah. Itulah, sebagian pelajaran dari Perang Badar.

Terakhir, adakah pelajaran lain? Lihat, Perang Badar terjadi di Bulan Ramadhan. Artinya, meski dalam suasana puasa, kita harus tetap produktif. Alhamdulillah, Allahu Akbar! (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu