Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026 menjadi momentum refleksi penting bagi seluruh insan pers dan elemen bangsa. Mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, HPN tahun ini menegaskan kembali peran strategis pers sebagai pilar demokrasi, pengawal kebenaran, dan penggerak kemajuan sosial.
Bagi Muhammadiyah, peringatan HPN tidak dapat dilepaskan dari peran dan tanggung jawab Majelis Pustaka dan Informasi Digital (MPID) sebagai lokomotif dakwah literasi, penguatan media, dan transformasi informasi di era digital.
Dalam sejarah panjangnya, Muhammadiyah telah menempatkan pers dan literasi sebagai bagian integral dari gerakan tajdid. Sejak awal abad ke-20, Muhammadiyah memanfaatkan media cetak, penerbitan, dan wacana publik sebagai sarana dakwah pencerahan. Kini, di tengah disrupsi digital yang masif, peran tersebut menemukan relevansinya kembali melalui kerja-kerja strategis MPID
Tema HPN 2026 menekankan tiga kata kunci: pers sehat, ekonomi berdaulat, dan bangsa kuat. Pers sehat tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan pers, tetapi juga profesionalisme, integritas, dan tanggung jawab etis. Di tengah banjir informasi, hoaks, disinformasi, dan algoritma media sosial yang kerap menyesatkan, pers dituntut menjadi sumber rujukan yang kredibel dan mencerahkan.
Dalam konteks inilah MPID memiliki posisi strategis. MPID bukan sekadar pengelola pustaka dan arsip, tetapi aktor penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat di lingkungan Persyarikatan. Melalui penguatan literasi digital, pengelolaan media Muhammadiyah, serta produksi konten dakwah yang berkualitas, MPID berkontribusi langsung pada terwujudnya pers yang sehat sebagaimana diamanatkan HPN 2026.
Sinergitas MPID dan Ekosistem Media Muhammadiyah
Muhammadiyah hari ini memiliki ekosistem media yang sangat luas : media PWM dan PDM, media amal usaha pendidikan dan kesehatan, media Ortom, media kampus PTMA, hingga media komunitas kader. Tantangannya bukan lagi pada ketiadaan media, melainkan pada sinergi, kualitas, dan keberlanjutan.
Di sinilah MPID berperan sebagai simpul koordinasi dan penguatan. Program MPID yang berfokus pada digitalisasi pustaka, pengembangan media daring, penguatan arsip digital, serta literasi informasi menjadi fondasi penting bagi kerja-kerja jurnalistik Muhammadiyah. Pers yang sehat membutuhkan basis data yang kuat, referensi yang valid, serta tradisi literasi yang hidup—semua ini merupakan ranah strategis MPID.
Sinergitas antara MPID dengan insan pers Muhammadiyah juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor: antara penulis, jurnalis, akademisi, dan aktivis dakwah. Dengan demikian, media Muhammadiyah tidak hanya menyajikan berita kegiatan, tetapi juga analisis, refleksi, dan gagasan yang memperkaya wacana publik.
Bagi Muhammadiyah, pers yang sehat harus berorientasi pada dakwah pencerahan. Artinya, pers tidak terjebak pada sensasionalisme, polarisasi, atau narasi konflik yang merusak kohesi sosial. Sebaliknya, pers harus menghadirkan informasi yang mencerdaskan, menenangkan, dan mendorong solusi.
MPID melalui program-program literasi dan informasi digital memiliki peran penting dalam membangun karakter pers seperti ini. Penguatan etika bermedia, peningkatan kapasitas penulis dan jurnalis Muhammadiyah, serta penyediaan konten rujukan keislaman dan kebangsaan menjadi kontribusi nyata MPID dalam mewujudkan pers yang sehat dan bermartabat.
Pers Sehat dan Dakwah Pencerahan
Tema HPN 2026 juga menautkan pers dengan ekonomi berdaulat. Pers tidak berdiri di luar realitas ekonomi, tetapi ikut membentuk iklim kepercayaan, transparansi, dan partisipasi publik. Media yang sehat mendorong akuntabilitas kebijakan ekonomi dan memperkuat sektor produktif masyarakat.
Dalam konteks Muhammadiyah, pers dan MPID dapat bersinergi untuk mengangkat praktik baik ekonomi umat, kewirausahaan sosial, serta inovasi amal usaha Muhammadiyah. Pemberitaan yang konstruktif dan edukatif akan memperkuat kesadaran ekonomi berbasis nilai, sekaligus mendukung cita-cita kemandirian dan keberdaulatan ekonomi bangsa.
Bangsa yang kuat tidak lahir dari masyarakat yang miskin literasi. Ia tumbuh dari warga yang kritis, berpengetahuan, dan mampu memilah informasi. Pers sehat dan literasi digital adalah prasyarat utama. Dalam hal ini, sinergitas MPID dengan insan pers bukan hanya kebutuhan internal Persyarikatan, tetapi kontribusi nyata bagi bangsa.
Melalui penguatan pustaka, arsip sejarah, dan media digital, MPID turut menjaga memori kolektif, nilai perjuangan, dan arah gerakan Muhammadiyah. Semua ini menjadi sumber energi kultural untuk membangun bangsa yang kuat secara moral, intelektual, dan sosial.
Peringatan Hari Pers Nasional 2026 adalah momentum strategis bagi Muhammadiyah untuk meneguhkan kembali peran pers sebagai alat pencerahan dan transformasi sosial. Dengan tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, sinergitas program Majelis Pustaka dan Informasi Digital Muhammadiyah menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem informasi yang berkualitas dan berkemajuan.
Ke depan, MPID dan insan pers Muhammadiyah diharapkan terus berjalan beriringan—menguatkan literasi, menjaga etika, dan menghadirkan narasi yang mencerahkan. Dari pers yang sehat dan literasi yang kuat, Muhammadiyah berkontribusi nyata bagi terwujudnya bangsa yang berdaulat dan berkemajuan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments