Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perluas Cara Cari Lailatul Qadar: Masjid, Sajadah, dan Dapur si Miskin

Iklan Landscape Smamda
Perluas Cara Cari Lailatul Qadar: Masjid, Sajadah, dan Dapur si Miskin
Angga Adi Prasetya (foto: ist/PWMU.CO)
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd Guru SD Muhammadiyah 1 Malang

Ramadan sering membuat kita sibuk menghitung malam. Kita menunggu sepuluh malam terakhir, memanjangkan shalat, dan memperbanyak doa. Berharap lailatul qadar turun tepat di hadapan sujud kita.

Namun mungkin kita perlu bertanya kembali: apakah Lailatul Qadar hanya hadir di antara tiang-tiang masjid? Atau justru ia juga bersemayam di tempat-tempat yang sering kita lewatkan?

Malam yang lebih baik dari seribu bulan itu memang turun bersama para malaikat, sebagaimana firman Allah. Lailatul Qadri khayrun min alfi syahr, lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3)

Tetapi Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa agama tidak hanya berdiri di atas ritual. Ia juga hidup dalam kepedulian sosial.

“Ara’ayta alladzii yukadhibu biddiin, Fadzaalika alladziii yadu’ul-yatiim, Wa laa yahudzdzu ‘alaa ṭha‘aamil miskiin.” Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Dialah yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Ayat ini seperti mengingatkan kita bahwa ukuran keimanan tidak hanya pada panjangnya ibadah. Tetapi juga pada luasnya kasih sayang.

Rasulullah saw bahkan menyamakan kepedulian sosial dengan ibadah yang sangat agung.

“As-saa‘ii ‘alal-‘armalati wal-miskiin kal-mujaahid fii sabiilillaah.” Orang yang berusaha membantu janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

Artinya, ketika seseorang menenangkan hati orang yang kesusahan, memberi makan orang yang lapar, atau membantu yang membutuhkan, ia sedang berjalan di jalur ibadah yang sangat mulia.

Begitu pula dengan keridhaan orang tua. “Ridlaa ar-rabbi fii ridlaa al-waalidayn, wa sakhtu ar-rabbi fii sakhti al-waalidayn.” Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka keduanya. Begitu dalam sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Betapa banyak orang yang menangis dalam doa malamnya. Tetapi lupa membuat orang tuanya tersenyum.

Para ulama dahulu memahami bahwa nilai ibadah tidak hanya diukur dari kesunyian malam, tetapi juga dari manfaatnya bagi manusia.

Abdullah bin Al-Mubarak, dalam Kitab Az-Zuhd pernah mengungkap arti penting kemanfaat ini. Larddu dirhamin ilaa  shaahibihi afdlalu ‘indii min an atashaddaqa bi mi’ati alfi.  Mengembalikan satu dirham kepada pemiliknya lebih aku cintai daripada bersedekah seratus ribu dirham.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa kejujuran dan hak manusia bisa lebih berat timbangannya daripada amal besar yang terlihat.

Maka mungkin kita perlu memperluas cara kita mencari Lailatul Qadar. Ia ada di masjid yang dipenuhi doa. Tetapi ia juga mungkin hadir di dapur orang miskin yang tiba-tiba memiliki makanan malam itu.

Ia ada di sajadah yang basah oleh air mata. Tetapi ia juga mungkin turun pada hati orang tua yang merasa dimuliakan oleh anaknya.

Karena pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan hanya tentang malam yang panjang. Ia adalah tentang hati yang luas. Dan bisa jadi, malam yang lebih baik dari seribu bulan itu turun kepada orang yang bukan hanya paling lama berdiri dalam shalat. Tetapi juga paling tulus menghadirkan rahmat Allah bagi sesama manusia.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡