Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pesan Ketua Majelis Tabligh PCM Sepanjang dalam Kajian Pagi Smamita

Iklan Landscape Smamda
Pesan Ketua Majelis Tabligh PCM Sepanjang dalam Kajian Pagi Smamita
Ketua Majelis Tabligh PCM Sepanjang, Zainal Khotim SPdI memberikan tausiyah di Ruang Demokrasi SMA Muhammadiyah 1 Taman (Nashiiruddin/PWMU.CO)
pwmu.co -

Proses pembelajaran di SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) masih dilaksanakan secara daring sesuai arahan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sidoarjo. Meski demikian, aktivitas guru tetap berlangsung seperti biasa. Kajian pagi tersebut digelar pada Rabu (3/8/2025).

Pembiasaan pagi seperti shalat duha berjamaah, murajaah, hingga kajian pagi sebagai aktivitas bersama tetap dilaksanakan. Hal ini menjadi bentuk ikhtiar dan wujud Islamic culture di lingkungan SMA Muhammadiyah 1 Taman.

Kajian kali ini menghadirkan Ketua Majelis Tabligh PCM Sepanjang, Zainal Khotim SPdI, yang juga pernah menjadi guru di Smamita. Ia mengawali kajian dengan menceritakan awal perjalanannya masuk ke Sepanjang pada tahun 1973. Tahun 1978 ia menjadi guru di SD Muhammadiyah, kemudian melanjutkan sebagai kepala SD Muhammadiyah 3 di wilayah Ngelom. Namun sekolah tersebut sempat tutup karena gedungnya diminta kembali oleh pemilik.

Pada 1985, Zainal Khotim diangkat menjadi guru di SMPN 1 Wonoayu, namun tetap mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Taman. “Pada tahun 1990 saya pindah ke SMPN 1 Taman, waktu itu juga masih mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Taman. Kepala sekolahnya almarhum Khusnul. Pada tahun 2000 karena aturan negeri tidak boleh merangkap, akhirnya saya pamit. Tahun 2014 saya pensiun, tetapi masih aktif membantu sebagai komite di SMPN 1 Taman,” ujarnya.

“Alhamdulillah, meski sudah tua saya masih bisa berguna, sama seperti kita semua. Sebagai manusia setidaknya harus bermanfaat, jika tidak di sekolah maka di masyarakat sekitar. Kajian pagi ini insya Allah Bapak dan Ibu guru sudah lebih memahami,” tambahnya.

Ia kemudian membacakan QS al-‘Ashr ayat 3:

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

“Saya mengajak semua untuk saling memberikan pesan kebaikan dengan metode kesabaran. Aktivitas pagi ini berkaitan dengan tugas kita sebagai pendidik di SMA Muhammadiyah 1 Taman, yaitu tentang perkembangan manusia, kehidupan, dan anak-anak kita,” jelasnya.

Menurutnya, ada empat faktor yang memengaruhi perkembangan anak. Pertama, pengaruh orang tua dalam pendidikan informal. Hal ini sesuai hadis Nabi bahwa setiap anak yang lahir dipengaruhi oleh orang tuanya, apakah menjadi Yahudi, Nasrani, atau tetap dalam Islam.

Untuk memperkuat hal tersebut, ia membacakan Surah al-A’raf ayat 172:

Iklan Landscape UM SURABAYA

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,””

“Sejak dalam kandungan, ruh manusia sudah berjanji kepada Allah bahwa Dia adalah Tuhannya. Setelah lahir, orang tua berperan besar dalam mendidik dan membimbing anak, apakah tetap dalam fitrah Islam atau sebaliknya. Maka tanggung jawab orang tua sangat dominan hingga anak memasuki jenjang SD, SMP, hingga SMA,” jelasnya.

Kedua, pendidikan formal. Sekolah, guru, buku, kurikulum, hingga teman sebaya sangat berperan membentuk anak.

Ketiga, pendidikan nonformal melalui lingkungan masyarakat. Anak yang tumbuh di lingkungan baik, seperti pesantren, tentu berbeda dengan anak yang tumbuh di lingkungan buruk.

Keempat, pengaruh iblis. Godaan iblis sangat luar biasa, bahkan bisa menjerumuskan guru, ustadz, atau kyai. Hal ini tercermin dalam kisah Nabi Adam ketika iblis menolak perintah Allah untuk sujud.

“Sejak dahulu hingga kini manusia tidak pernah sepenuhnya tentram. Selalu ada masalah, termasuk peperangan. Perang di Palestina sampai saat ini tak kunjung berhenti, banyak korban yang berjatuhan akibat ulah iblis Israel,” ujarnya.

Ia menambahkan, Muhammadiyah hadir pada 1912 bermula dari kajian-kajian kecil. KH Ahmad Dahlan mengkaji Surah Ali Imran ayat 104 dan memiliki pandangan luas bahwa tanah Jawa, bahkan Indonesia, membutuhkan perubahan melalui ilmu. Selama lima tahun beliau menimba ilmu di Mekkah, kemudian kembali lagi tiga tahun untuk memperdalam pengetahuan dari para pembaharu Islam.

Namun, menurutnya, semakin ke sini tantangan semakin besar. Praktik syirik, takhayul, khurafat, dan bid’ah semakin bercampur dengan budaya dan berbagai pengaruh manusia. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu