Di tengah suasana pemulihan pascabencana, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah Budi Setiawan hadir di Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Jumat (9/1/2026).
Dia menyampaikan pesan penguatan iman dan kesabaran kepada para penyintas sebagai fondasi utama bangkit dari musibah.
Acara tersebut berlangsung dalam suasana sederhana namun sarat makna. Warga, relawan, serta unsur Muhammadiyah setempat mengikuti kegiatan itu dengan khidmat.
Momentum tasyakuran tidak hanya dimaknai sebagai peresmian layanan, tetapi juga sebagai ruang refleksi bersama atas berbagai ujian yang dihadapi masyarakat, khususnya dalam konteks kebencanaan.
Dalam penyampaiannya, Budi menekankan pentingnya menjaga dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Dia menilai, kondisi apa pun yang dihadapi manusia, termasuk situasi darurat akibat bencana, harus dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menurutnya, aspek spiritual menjadi fondasi penting yang tidak boleh terabaikan di tengah kerja-kerja kemanusiaan.
“Dalam berbagai kondisi, termasuk saat bencana, kita harus senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT,” ujar Budi.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan peserta yang hadir dan mendapat perhatian serius dari warga.
Dia juga mengingatkan bahwa musibah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak selalu dapat dihindari. “Karena itu, sikap sabar menjadi kunci utama dalam menyikapi bencana yang datang,” tegasnya.
Budi menuturkan bahwa kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar sambil menjaga keteguhan hati.
Dia bilang, di tengah musibah, masyarakat perlu memperkuat ketahanan batin. “Kesabaran atas bencana yang terjadi merupakan bentuk keimanan yang harus terus dirawat,” ujarnya.
Pesan tersebut dia sampaikan sebagai pengingat agar warga tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan.
Selain memberikan pandangan spiritual, kehadiran Budi Setiawan juga dimaknai sebagai bentuk dukungan moral bagi penguatan Posyan Muhammadiyah Batu Hula.
Pos layanan tersebut diharapkan menjadi ruang pelayanan bagi masyarakat, khususnya dalam kondisi darurat maupun kebutuhan sosial lainnya. Tasyakuran yang digelar menjadi simbol rasa syukur sekaligus komitmen bersama untuk melayani sesama.
Menurut Budi, nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan harus berjalan beriringan. Dia menilai, kerja-kerja pelayanan tidak hanya soal bantuan fisik, tetapi juga menyentuh aspek mental dan spiritual masyarakat terdampak.
“Dengan cara itu, proses pemulihan dapat berlangsung lebih utuh,” cetusnya.
Kegiatan pengajuan dan tasyakuran Posyan Muhammadiyah Batu Hula juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Muhammadiyah dan masyarakat setempat.
Warga menyambut baik kehadiran pos layanan tersebut, terutama karena wilayah Batang Toru dikenal memiliki tantangan geografis dan potensi kebencanaan.
Melalui forum tersebut, Budi kembali menegaskan bahwa bencana tidak boleh memutus harapan. “Tetap bersabar, perkuat iman, dan saling menguatkan,” tutupnya. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments