Tolok ukur kemuliaan seorang manusia bukanlah harta atau jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa dia hadirkan bagi sesama. Pesan Rasulullah saw itu kembali digelorakan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. KH. Saad Ibrahim, MA dalam ceramahnya.
Pesan tersebut merujuk pada sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan dalam sejumlah hadis, meski terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai status sanad hadis tersebut.
Menurut Kiai Saad, dalam ajaran Islam, manfaat dan maslahat memiliki tingkatan. Hal ini merujuk pada konsep maqashid al-syari’ah atau tujuan-tujuan syariat.
Dia menyebutkan lima hal pokok yang menjadi inti kemaslahatan, yaitu menjaga agama (hifzh al-din), menjaga jiwa (hifzh al-nafs), menjaga akal (hifzh al-‘aql), menjaga keturunan (hifzh al-nasl), dan menjaga harta (hifzh al-mal).
“Dari lima kemaslahatan itu, yang tertinggi adalah menjaga eksistensi agama. Dengan menjaga agama, maka kemaslahatan yang lain akan berdiri kokoh,” ujarnya seperti dikuti di kanal Youtube Masjid Al Akbar TV.
Dikatakan Kiai Saad, beriman kepada kebenaran Islam merupakan manfaat terbesar yang bisa diberikan kepada manusia. Iman, kata dia, sifatnya dinamis: kadang meningkat, kadang menurun.
Namun, iman yang tertanam dalam hati seorang muslim tidak akan pernah lenyap sama sekali berkat pertolongan Allah SWT.
Untuk menjaga dan memperkokoh iman, lanjutnya, seorang muslim harus selalu sadar akan kehadiran Allah. Kesadaran itu merupakan inti dari konsep ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan bila tidak mampu, meyakini bahwa Allah senantiasa melihat.
“Kesadaran akan pengawasan Allah akan mendorong kita semakin giat beribadah sekaligus menjauhkan dari kemaksiatan. Korupsi, minuman keras, dan perbuatan maksiat lainnya mustahil dilakukan bila iman sedang kokoh,” tegas KH Saad.
Kiai Saad kemudian menguraikan tiga cara utama memberi manfaat dalam konteks agama. Pertama, mengimani Islam dengan sepenuh hati.
Kedua, mempelajari ajaran agama secara konsisten. Ia menyinggung banyak orang yang menyesal karena baru mendalami agama di usia tua.
“Namun kesadaran di usia senja tetap lebih baik daripada tidak sama sekali,” katanya.
Ketiga, mengamalkan agama dengan penuh keyakinan bahwa setiap perintah Allah mengandung kebaikan, meski kadang manfaatnya baru terasa belakangan. Ia mencontohkan sedekah: meski secara kasat mata mengurangi harta, hakikatnya ia adalah investasi akhirat yang balasannya pasti dari Allah.
Selain itu, mengajarkan agama kepada orang lain juga termasuk memberi manfaat besar.
“Ustaz-ustaz yang mengajar selepas subuh, itu sesungguhnya sedang memberikan manfaat terbesar kepada umat,” ungkapnya.
Kiai Saad menekankan bahwa dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan membela agama termasuk bentuk manfaat paling mulia. Ia menegaskan, manfaat berupa ajakan kepada kebenaran agama bukan hanya berdampak di dunia, tetapi juga di akhirat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa manfaat bersifat kontekstual. Dalam situasi tetangga yang lapar, memberi makanan lebih utama karena menyelamatkan nyawa. Namun dalam jangka panjang, manfaat yang paling besar tetaplah iman.
Kiai Saad juga mengingatkan pentingnya menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT. Menurutnya, semua amal baik akan bermakna bila disandarkan kepada Allah, karena Dialah satu-satunya tempat bergantung.
“Mari kita mohon pertolongan dan petunjuk-Nya agar hati kita dikokohkan, sehingga tidak jemu-jemunya menebar kebaikan kepada sesama. Semoga Allah memberi kekuatan dan menuntun kita untuk selalu dekat dengan-Nya,” ujar Kiai Saad.
Pesan Kiai Saad Ibrahim ini menjadi pengingat bahwa kebermaknaan seorang muslim tidak diukur dari jabatan atau harta, melainkan sejauh mana ia bisa menghadirkan manfaat dan kebaikan bagi sesama manusia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments