Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pesantren: Rumah Kedua dan Kemitraan Parenting

Iklan Landscape Smamda
Pesantren: Rumah Kedua dan Kemitraan Parenting
pwmu.co -
Suasana Pendidikan di Pesantren (Rozaq Akbar/PWMU.CO)

PWMU.CO – Di tengah derasnya arus zaman dan kompleksitas tantangan generasi muda, banyak orangtua menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Namun, pendidikan tak hanya berbicara soal fasilitas unggulan atau kecanggihan teknologi.

Lebih dari itu, pendidikan menuntut adanya kolaborasi erat antara rumah, sekolah, dan masyarakat. Inilah yang disebut sebagai tripusat pendidikan.

Secara filosofis, konsep ini telah tergambar dalam doa Nabi Ibrahim as. dalam QS Ibrahim ayat 35: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” Ayat ini menyiratkan hubungan kuat antara terciptanya lingkungan yang aman dan terbentuknya generasi ahli tauhid.

Pendidikan memerlukan suasana yang mendukung, bebas dari ancaman moral, kekerasan, maupun pengaruh negatif lingkungan. Maka ketiga pusat pendidikan itu harus bersinergi dalam membentuk generasi yang kuat secara akidah, akhlak, dan intelektual.

Pesantren sebagai Rumah Kedua

Di sinilah kehadiran pesantren modern mengambil peran penting sebagai rumah kedua yang menjadi bagian integral dari sistem pendidikan keluarga. Pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang hidup tempat anak-anak dibentuk secara utuh.

Di Muhammadiyah Boarding School Porong, misalnya, para santri dilatih untuk bertanggung jawab, mandiri, dan disiplin. Mereka belajar mengatur waktu, mencuci pakaian sendiri, mengelola keuangan secara sederhana, menghafal Al-Quran, serta menjalani ibadah harian secara konsisten.

Namun keberhasilan pendidikan di pesantren tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga. Pesantren bukan pengganti rumah, tetapi mitra rumah. Di sinilah konsep parenting partnership menemukan bentuk idealnya: orangtua dan pesantren saling bekerja sama, saling percaya, dan saling mendukung demi tumbuh kembang anak. Guru dan orangtua bukan pihak yang saling melempar tanggung jawab, melainkan bersinergi dalam peran yang saling melengkapi.

Pengasuh santri di pesantren modern bukan sekadar pengawas, tapi pembimbing spiritual dan sahabat bertumbuh. Setiap anak datang dengan latar belakang yang berbeda dan tantangan yang beragam. Maka pendidikan harus dilandasi empati dan komunikasi dua arah antara pesantren dan keluarga. Ketika anak mengalami kendala akademik maupun emosional, penyelesaiannya dicari bersama.

Saat anak pulang ke rumah, orangtua diharapkan menjaga kesinambungan nilai-nilai yang dibentuk di pesantren. Apakah anak tetap shalat tepat waktu? Apakah kontrol terhadap penggunaan gawai dijaga? Apakah nilai kesederhanaan dan tanggung jawab masih dipraktikkan? Inilah bentuk konkret dari parenting partnership.

Tak jarang, ada orangtua yang mengeluhkan mengapa anaknya sulit mempertahankan kebiasaan positif saat di rumah. Di pesantren semua pembiasaan itu terjadwal dan terkawal. Pertanyaannya, apakah di rumah juga demikian? Apakah di rumah juga hadir kepemimpinan yang mengarahkan pada nilai-nilai tersebut, sebagaimana di pesantren atau sekolah? Ini menjadi perhatian bersama.

Pesantren didesain sebagai ekosistem yang aman dan kondusif, tempat menanamkan nilai-nilai tauhid. Di tengah godaan pornografi digital, budaya konsumtif, dan mental instan, santri diajarkan menjadi pribadi yang kuat secara akidah dan akhlak. Ibadah tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban, tapi dijalani sampai mereka menemukan makna mengapa ibadah itu harus dilakukan.

Nilai ukhuwah dan ta’awun juga dipraktikkan setiap hari. Ketika teman sakit, mereka saling menjaga. Saat memasak bersama atau menyelesaikan tugas kelompok, kerja sama dan empati tumbuh dengan alami. Pendidikan seperti ini tak akan tergantikan oleh teknologi ruang kelas modern sekalipun.

Rumah dan Pesantren Menuju Tujuan yang Sama

Pesantren adalah rumah peradaban. Ia tidak hanya membentuk generasi yang mampu menjawab soal-soal ujian, tetapi juga menjawab tantangan kehidupan. Mungkin sebagian santri belum fasih berbahasa asing, tapi mereka telah fasih dalam kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian.

Pada akhirnya, anak-anak kita tidak butuh orangtua yang serba tahu, tapi yang mau tumbuh bersama mereka. Mereka juga butuh pesantren yang hangat dan bersahabat, bukan sekadar tegas dan disiplin. Maka, mari kita rajut kerja sama antara rumah dan pesantren sebagai satu kesatuan utuh yang melahirkan generasi tangguh, beriman, dan bermanfaat bagi umat dan dunia.

Seperti doa Nabi Ibrahim, mari kita ciptakan lingkungan yang aman, baik secara fisik, moral, maupun spiritual agar lahir generasi tauhid yang siap menjadi pemimpin peradaban. (*)

Penulis Rozaq Akbar Editor M Tanwirul Huda

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu