Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) membuat inovasi bernama PESTA (Pembakaran Sampah Tanpa Asap) yang menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Umsida.
Inovasi yang diketuai Dr Totok Wahyu Abadi SS MSi ini bertujuan mendukung sanitasi aman dan pengelolaan sampah ramah lingkungan di Desa Suko, Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Desa Suko.
Dalam pelaksanaan abdimas ini, Dr Totok melibatkan sejumlah pihak, seperti dosen Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial (FBHIS) yakni Ainur Rochmaniah MSi, Hendra Sukmana MKP, dan Ahmad Riyadh UB SH MSi PhD, juga masyarakat RW 09 Desa Suko serta kelompok dasawisma.
Pembakaran Sampah Ramah Lingkungan di TPS Desa Suko
“Kami ingin menawarkan solusi permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga yang selama ini kurang efektif dengan mengurangi pembakaran sampah secara terbuka,” tuturnya.
Menurut Dr Totok, pembakaran sampah secara terbuka dapat menyebabkan polusi udara, bau tidak sedap, dan gangguan kesehatan masyarakat.
Ia menambahkan, inovasi ini juga bertujuan mengurangi asap berbahaya, menekan volume sampah yang dibuang ke TPA, serta meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Kehadiran PESTA di TPS Suko juga sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 6 tentang air bersih dan sanitasi layak, serta poin 8 tentang pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
PESTA Hasilkan Produk Bernilai Ekonomi
Dr Totok menjelaskan, pembakaran sampah dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Limbah ini dapat diolah menjadi paving block, batako ringan, pupuk organik, atau pupuk cair yang mendukung konsep ekonomi sirkular,” terang dosen Prodi Ilmu Komunikasi itu.
Inovasi tersebut dilengkapi dengan tungku api roket, insinerator dengan penyaring asap, serta sistem injeksi air yang mampu menekan emisi berbahaya. Komponen utamanya meliputi blower, burner, incinerator dengan suhu pembakaran mencapai 1000°C, sistem pencuci asap yang dapat mengurangi hingga 95 persen asap berbahaya, cerobong asap, serta sistem filtrasi untuk menjaga kebersihan udara.
“Hadirnya PESTA ini bisa menurunkan biaya pengangkutan sampah, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memanfaatkan asap cair sebagai herbisida, abu asap sebagai bahan paving block, batako, dan pupuk organik,” jelasnya.
Keberlanjutan Inovasi untuk Pemberdayaan Masyarakat
Rangkaian kegiatan abdimas meliputi sosialisasi, pelatihan pemilahan dan pengoperasian alat PESTA, implementasi pembakaran sampah ramah lingkungan, pendampingan, evaluasi berkala, serta pengembangan bank sampah.
Teknologi ini mampu mengurangi volume sampah hingga satu ton per hari tanpa asap berbahaya, disertai pendampingan dan monitoring berkelanjutan.
Ketua RW 09 Desa Suko, Endro Bagus S, mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai PESTA memberi manfaat besar bagi TPS.
“Dengan alat ini pengelolaan sampah lebih tertata. Kami bangga menjadi pilot project penggunaan insinerator tanpa asap,” terangnya.
Abdimas ini berlanjut pada penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan perawatan alat dan keselamatan kerja, pembuatan SOP, serta perluasan manfaat teknologi melalui pemasaran produk olahan sampah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments