Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Petualangan PRNA Payaman: Dari Latihan Paduan Suara hingga Drama Ban Kempes dan Ditinggal Kereta Kelinci

Iklan Landscape Smamda
Petualangan PRNA Payaman: Dari Latihan Paduan Suara hingga Drama Ban Kempes dan Ditinggal Kereta Kelinci
Rombongan PRNA Payaman. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Jumat (12/12/2025) menjadi hari yang tak terlupakan bagi 19 anggota Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Payaman. Mereka mengikuti kegiatan triwulanan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Solokuro di Ranting Takerharjo dengan agenda utama Pelatihan Paduan Suara.

Kegiatan pelatihan berlangsung sukses dan meriah. Namun, perjalanan pulang menggunakan Kereta Kelinci justru menghadirkan rangkaian kejadian tak terduga yang menguji kesabaran sekaligus mempererat kekompakan para peserta.

Perjalanan yang mulanya penuh canda tiba-tiba terhenti di kawasan Hutan Banyubang. Ban Kereta Kelinci yang mereka tumpangi mendadak kempes, memaksa rombongan berhenti di pinggir jalan yang sepi.

“Kami menunggu bantuan sekitar satu jam. Bantuan datang membawa dongkrak, tetapi ternyata masalah belum selesai karena ban harus dipompa. Kami pun ditinggal lagi untuk kedua kalinya di tengah hutan,” ungkap salah satu anggota PRNA Payaman.

Merasa penantian terlalu lama, seluruh rombongan akhirnya berjalan kaki sekitar 200 meter dan beristirahat di sebuah gubuk dekat warung pinggir jalan sambil menunggu kabar dari sopir.

Insiden Es Teller dan Momen Ditinggal Massal

Setelah cukup lama menunggu, sopir Kereta Kelinci kembali dengan kabar bahwa ia kesulitan menemukan tempat pengisian angin. Ia kemudian menghubungi rekannya untuk mendatangkan kereta pengganti.

Saat persoalan transportasi mulai teratasi, rombongan masih memiliki satu agenda terakhir, yakni mengambil pesanan es teller yang telah dipesan sebelumnya. Sebanyak sembilan anggota turun untuk mengambil pesanan tersebut.

Namun, di luar dugaan, ketika sembilan orang tersebut tengah sibuk, sopir Kereta Kelinci justru melanjutkan perjalanan dan meninggalkan mereka di lokasi.

“Kami mengira sopir hanya menepi sebentar. Ternyata benar-benar jalan terus karena dikira kami sudah sampai rumah masing-masing. Itu penutup perjalanan paling kocak,” ujar salah satu peserta sambil tertawa.

Meski diwarnai drama ban kempes, penantian panjang, hingga insiden ditinggal kereta, seluruh anggota PRNA Payaman sepakat bahwa petualangan Jumat itu menjadi pengalaman seru dan berkesan. Kebersamaan dan rasa persaudaraan justru semakin erat melalui cerita yang akan terus dikenang.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu