Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Phubbing: Ketika Silaturrahim Kalah oleh Sinyal 4G

Iklan Landscape Smamda
Phubbing: Ketika Silaturrahim Kalah oleh Sinyal 4G
dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes. Foto: Dok/Pri
Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes Kepala Unit Kedokteran Islam Umsura

Zaman dulu, orang kalau kumpul, saling menyapa. Zaman sekarang, kumpul itu…saling Wi-Fi sharing. Duduk melingkar, tapi masing-masing tenggelam dalam dunia sendiri.

Kalau Nabi dulu dikenal sebagai manusia yang paling sempurna adabnya dalam berinteraksi, kita hari ini tampaknya sedang menuju gelar baru: khusyuk di depan layar, lalai di depan manusia. Seolah gak ber-adab.

Di era digital, ada satu penyakit sosial yang tidak tercantum di ICD (International Classification of Diseases), tapi gejalanya nyata: Phubbing (Phone Snubbing), yakni kebiasaan mengabaikan orang di depan kita demi layar hape di tangan.

Secara medis, phubbing ini menarik. Otak kita, yang dulunya diciptakan untuk bertahan hidup, kini sibuk bertahan dari notifikasi. Dopamin—zat bahagia itu—tidak lagi dipicu oleh pelukan hangat dan percakapan bermakna, tapi oleh bunyi ‘ting’ atau getaran.

Jadi, jangan heran kalau sekarang ada orang yang lebih cepat merespons pesan WAG daripada sapaan istrinya sendiri. Ini bukan gangguan saraf, ini gangguan prioritas.

Di ruang kelas, fenomenanya lebih dramatis. Siswa atau mahasiswa duduk manis, wajah menghadap guru atau dosen, tapi pikirannya sedang scrolling kehidupan orang lain. Ini metode belajar baru: absorpsi ilmu via aura Wi-Fi.

Guru dan Dosen menjelaskan dengan penuh semangat, mahasiswa mengangguk… padahal yang diangguk bukan materi, tapi notifikasi masuk. Kalau begini terus, mungkin ke depan skripsi tidak lagi diuji dosen, tapi diuji oleh algoritma.

Dalam kehidupan sosial, phubbing adalah bentuk halus dari penolakan. Tapi karena dibungkus teknologi, jadi terlihat ‘modern’. Padahal maknanya sederhana: “Maaf ya, kamu kalah penting dibanding HP saya.”

Ironisnya, yang di-scroll seringkali orang yang tidak kenal, sementara yang diabaikan adalah orang yang nyata-nyata peduli. Ini seperti meninggalkan air sumur sendiri demi mengejar fatamorgana.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Secara teologis, ini lebih menggelitik lagi. Kita diajarkan menjaga adab, menghormati lawan bicara, bahkan tersenyum itu sedekah. Tapi sekarang, senyum kita lebih sering diberikan ke layar daripada ke manusia.

Kita online di dunia, tapi offline dalam kemanusiaan. Kalau dulu setan ikut makan saat kita lupa baca Bismillah, sekarang mungkin dia cukup duduk santai—karena kita sudah sibuk sendiri tanpa perlu diganggu.

Solusinya? Tidak perlu buang HP ke sungai—itu nanti jadi masalah lingkungan. Cukup kembalikan fungsi: HP itu alat, bukan tuan.

Coba sekali-sekali saat ngobrol, letakkan HP. Memang awalnya canggung—seperti bertemu manusia setelah lama berhubungan dengan layar. Tapi tenang, manusia itu user-friendly, tidak perlu di-update.

Akhirnya, mari jujur: kita ini sedang dekat dengan yang jauh, dan jauh dari yang dekat. Kalau ini dibiarkan, bisa jadi nanti kita punya ribuan followers, tapi tidak punya satu pun yang benar-benar hadir.

Karena ternyata, yang paling sulit di era digital ini bukan mencari sinyal, tapi menjaga akal tetap on saat hati mulai off. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡