Artikel ini membahas tesis filosofis yang mengamati pola perulangan konflik bipolar dalam sejarah peradaban manusia.
Mulai dari persaingan antara “Romawi Timur versus Persia Baru” hingga konfrontasi kawasan antara “Blok Barat (negara-negara penganut Liberalisme) vs. Blok Timur (negara-negara penganut Komunisme)” pada abad ke-20.
Konflik-konflik ini secara simbolis merupakan akibat dari polarisasi Timur dan Barat (Al-Masyriq wal-Maghrib).
Pada dasarnya polarisasi ini sebagai manifestasi dari persaingan antara ideologi materialistik dan sekuler.
Mengatasi polarisasi abadi ini, penulis mencoba mengajukan solusi alternatif dengan merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 177.
Ayat ini memberikan jalan sebagai tawaran ideologi Ilahiah (Al-Birr) yang melampaui orientasi duniawi. Yaitu dengan mendefinisikan Iman sebagai “pandangan dan sikap hidup” yang integratif.
Siklus sejarah dan polarisasi abadi
Sejarah peradaban sering menunjukkan adanya kecenderungan pada polarisasi kekuasaan — sebuah fenomena yang dapat dipahami melalui konsep nu’iiduhu (perulangan pola), yang dalam Al-Qur’an diulas pada Surat Al-Anbiya’: 104.
Polarisasi ini tidak hanya bersifat teritorial, seperti rivalitas historis antara Kekaisaran Romawi Timur dan Kekaisaran Persia Baru (Sassania), tetapi lebih bersifat ideologis.
Pada abad ke-20, pola ini bangkit kembali dalam bentuk konflik ideologis antara Blok Barat dan Blok Timur.
Blok Barat dominan dengan Liberalisme, Individualisme, dan Kapitalisme. Sedangkan Blok Timur dominan dengan ideologi Komunisme dan Materialisme Kolektif.
Meskipun akar filosofis kedua blok modern ini berbeda dari akar agama dan Dinasti Romawi Timur dan juga Persia Baru, keduanya didasarkan pada pandangan hidup sekuler yang memusatkan kedaulatan pada materi atau manusia (individu atau kelas).
Tesis ini menganggap bahwa kedua kutub sebagai dua sisi mata uang yang sama, yaitu orientasi yang bersifat duniawi.
Kritik terhadap polaritas Timur dan Barat
Pola konflik Timur-Barat ini dapat dihubungkan dengan kritik dalam Al-Qur’an melalui frasa “menghadap wajah (kehidupan) ke arah (blok) Timur dan Barat” pada awal Surah Al-Baqarah ayat 177.
Ayat ini secara eksplisit merendahkan tindakan yang hanya terfokus pada orientasi fisik atau formal (termasuk orientasi geopolitik atau ideologis).
Dalam konteks modern, orientasi ini dapat diinterpretasikan sebagai keterikatan berlebihan pada dua ideologi besar, yaitu Blok Timur dan Blok Barat.
Ideologi Barat dengan “liberalisme”nya yang menjunjung tinggi pada kebebasan individu, fokus pada individualisme (kebebasan individu) dan materi sebagai standar tertinggi.
Sebaliknya, Ideologi Timur dengan “komunisme/komunalisme”nya, fokus pada kolektivisme dan materi — melalui perjuangan kelas — sebagai standar tertinggi.
Maka ayat 177 tersebut menyorot secara tersirat bahwa pilihan ideologi sejati sesungguhnya tidak terletak pada salah satu kutub duniawi, baik Blok Timur maupun Blok Barat tersebut.
Ideologi sejati
Mendefinisikan Al-Birr sebagai “iman yang integral”, diungkap melalui QS. Al-Baqarah: 177, yang kemudian menawarkan definisi Ideologi Sejati, yaitu Al-Birr (Kebajikan/Kepatuhan Hidup).
Dalam memahami frasa ini sebagai ideologi, kita perlu merujuk pada definisi iman dalam tradisi kenabian (Al-Īmānu ‘aqdun bil qalbi wa iqrārun bil lisāni wa ‘amalun bil arkāni) — bahwa “Iman itu adalah tambatan hati, yang menggema dalam ucapan, dan menjelma dalam setiap perbuatan”.
Praktisnya, iman adalah sebuah ideologi yang mencakup tiga aspek utama: keyakinan dalam hati, pengakuan melalui ucapan, dan manifestasi dalam perbuatan.
Aspek hati dan ucapan membentuk sebuah pandangan hidup (Weltanschauung) yang menjadi dasar cara seseorang memahami dunia, sementara sikap perbuatan menjadi wujud nyata (Praxis) dari pandangan hidup tersebut.
Dengan demikian, iman kepada ajaran Allah merupakan sebuah ideologi yang mengintegrasikan pandangan hidup dan sikap dalam bertindak.
Ideologi yang benar berakar pada ketuhanan (teosentris), di mana Tuhan menjadi pusat segala sesuatu, bukan berpusat pada materi atau kekuasaan manusia (antroposentris), sehingga menghasilkan kehidupan yang seimbang dan bermakna.
Pada konteks ini, Al-Birr (QS. 2:177) dapat berfungsi sebagai kerangka teologis untuk mengatasi konflik ideologi modern.
Konflik bipolar Timur-Barat adalah pola sejarah yang berulang, tetapi ideologi-ideologi yang mendasarinya gagal karena didasarkan pada orientasi duniawi.
Ideologi Ilahiah yang ditawarkan oleh Al-Qur’an menuntut pilihan sadar untuk menjadikan Iman sebagai pandangan dan sikap hidup yang utuh.
Pendekatan ini akan membantu manusia untuk tidak lagi terjebak dalam konflik ideologi seperti Liberalisme dan Komunisme, sehingga dapat berfokus pada pembangunan peradaban yang berlandaskan pada tauhid, keadilan sosial, dan moralitas transenden (nilai-nilai yang melampaui kepentingan duniawi).
Wallahu a’lamu bis_shawwab.






0 Tanggapan
Empty Comments