
PWMU.CO – Ketua Umum LBH Masyarakat Adil Bersatu (LBH MABES), Tasrif menyoroti polemik yang sedang berkembang di masyarakat saat ini yaitu areal pagar laut yang berada di pesisir laut Tangerang Banten. Dalam polemik areal pagar laut di Pantai Tangerang tersebut, kini perkembangannya menyeret PT PIK 2 yang merupakan perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha Sugianto Kusuma atau Aguan.
Kendati semakin memanasnya polemik pagar laut PIK 2. Ada segelintir atau sekelompok orang yang memanfaatkan polemik tersebut untuk memecah belah persatuan dan kerukunan bangsa.
“Polemik pagar laut PIK 2, ada segelintir orang yang mencoba memperkeruh persoalan dengan memecah belah persatuan dan kerukunan bangsa,” kata Tasrif dalam keterangan tertulisnya, Ahad (26/01/2025).
Lanjutnya, tersebar video provokasi dengan penuh kebencian yang mengancam akan mengulangi kerusuhan anti-China 1998, apabila tidak segera menangkap Aguan dalam polemik di Patai Tangerang tersebut.
Menurut Tasrif, video yang tersebar tersebut sangat berbahaya mengancam integrasi bangsa.
“Orang yang memuat narasi dalam video tersebut memprovokasi masyarakat melalui media agar terprovokasi rusuh berbasis sara,” ujar Tasrif.
Tambah alumni Doktor Universitas Jayabaya ini, narasi provokasi tersebut bertentangan dengan Indonesia sebagai negara hukum. Sehingga penduduk dan warga negara setara di mata hukum.
Selain itu, Tasrif sangat menyayangkan sekelompok dan segelintir orang tersebut bertindak ataupun membuat pernyataan melampaui kewenangannya. Seharusnya masalah tersebut harus didorong kepada stakeholder terkait.
“Kita harus memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan serangkaian tindakan dalam mengusut suatu peristiwa pidana,” ujarnya.
Kemudian, Tasrif mengajak semua pihak agar memberikan masukan yang konstruktif kepada aparat penegak hukum maupun pemerintah demi terwujudnya negara yg menjunjung tinggi hukum atau law inforcement.
“Kita tidak boleh memperkeruh suasana dimana aparat sedang bekerja sesuai tupoksinya,” pungkasnya. (*)
Penulis Immawan ZA Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments